Refleksikan Kembali 1945 Yang Lalu

0
193
Penulis

Sumenep, Panjinasional.net – Agustus merupakan bulan yang sangat sakral bagi bangsa Indonesia, sebab dibulan inilah dideklarasikannya kemerdekaan Negara Indonesia. Tepat pada tahun 1945 beberapa pemuda Indonesia menculik bung Karno agar segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia yang kejadian tersebut dikenal sebagai tragedi Rengasdengklok, dan semenjak saat itulah Indonesia diakui sebagai negara merdeka. Kini usia kemerdekaan negara ini sudah mencapai 75 tahun, jika dibandingkan dengan usia penjajahan yang terjadi di negara ini sebenarnya tidak mencapai separuhnya. Namun sekalipun kemerdekaan Indonesia berlangsung tidak begitu lama kini bangsanya dapat hidup dengan tenang dan damai berkat dari kemerdekaan itu sendiri.

Hari ini bangsa Indonesia tidak lagi berperang melawan para penjajah akan tetapi saling baku hantam melawan bangsanya sendiri. Seharusnya pada bulan Agustus ini dapat dijadikan waktu untuk merefleksikan kembali perjuangan kemerdekaan Indonesia agar jiwa nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia semakin tertanam dalam-dalam.

Politik yang seharusnya dijadikan jembatan untuk menuju kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia kini semuanya berbelok arah menjadi jembatan kepentingan bagi kelompok-kelompok tertentu, dan hal ini tidak lain disebabkan oleh krisisnya rasa nasionalis. Sehingga hal itupun mengakibatkan bentrokan antar suku, ras, agama dan sebagainya. Bahkan yang lebih ironis yaitu sering terjadinya perselisihan sesama agama hanya dikarenakan berbeda paham, ataupun berbeda pilihan politik.

Kemiskinan belum terselesaikan, angka pengangguran semakin hari semakin bertambah, radikalisme agama semakin meraja lela, dan masih banyak lagi kekacauan yang terjadi, lalu jika hal ini terus menerus melekat dalam diri bangsa Indonesia maka apa sebenarnya yang dimiliki oleh bangsa ini. Disebut krisis kemanusiaan ya sudah pasti, lantaran kepentingan pribadi lebih didahulukan dari pada nasi satu piring untuk orang miskin yang belum makan selama tiga hari.

Nasionalisme untuk negara ini bukan berarti harus terus menerus menyuarakan kemerdekaan dengan suara lantang seperti jaman penjajahan dulu, “Merdeka…!!!!!”, akan tetapi nasionalisme yang harus dilakukan hari ini adalah menjaga kerukunan dan ketentraman sesama bangsa Indonesia, memberi makan fakir miskin sambil berkata “makanlah, negara kita sudah merdeka dan kau berhak mendapatkan ini”.

Akhir-akhir ini muncul beberapa kelompok yang ingin mengubah Pancasila dengan Al-Qur’an dan Alhadist, padahal sudah diketahui bersama bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak agama dan yang jelas Indonesia bukan negara Islam. Maka dari itu hukum yang ada di Indonesia tidak bisa hanya memakai hukum agama Islam, dan Pancasila telah bisa menaungi segalanya. 

Semuanya tidak lain hanya merupakan strategi politik untuk merebut kursi kekuasaan. Sifat rakus bagi manusia memang sulit untuk dipadamkan, akan tetapi tidak kah dapat melihat sejenak pada darah yang bertumpahan, pada nyawa-nyawa yang melayang seketika hanya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

17 Agustus 1945 merupakan puncak kesenangan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia karena pada hari itu juga negri ini diakui keberadaan dan kemerdekaannya. Cukup lama sebelum kemerdekaan itu diproklamirkan, bangsa ini mengalami pertumpahan darah, penyiksaan bahkan penindasan segala hak kemanusiaannya. Jika hari ini bangsa Indonesia menyadari perjuangan pada hari itu mungkin keinginan untuk memuaskan dirinya pribadi hingga lupa pada saudaranya yang kelaparan tentu tidak akan terjadi.

Maka dari itu sangat perlu kiranya dibulan Agustus ini untuk dijadikan momen refleksi kembali akan perjuangan di pra 1945. Tidak lain bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus menanamkan jiwa nasionalisme serta menolong saudara kita yang kelaparan tanpa ada yang menjajah. Dirgahayu Republik Indonesia di usianya yang ke 75, Merdeka!!!!!.

Penulis: Moh Busri.*Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here