Komandan Polisi: Saya Yang Perintahkan Tembak Gas Air Mata

0
212
Komandan Polisi: Saya Yang Perintahkan Tembak Gas Air Mata
Ilustrasi

Sebuah Pengakuan Berani dari seorang Komandan Polisi Soal Tembakan Gas Air ke Arah Tribun Penonton “Saya yang Perintahkan”, Sang Komandan tak pernah membayangkan jika instruksi kepada anak buahnya menjadi penyebab ratusan orang meninggal dunia di tribun penonton. 

Secara gentle Si Komandan Polisi mengakui bahwa dirinya yang memberikan perintah untuk menembakkan gas air mata ke arah suporter di tribun stadion.

“Saya memerintahkan tabung gas air mata untuk ditembakkan ke tribun. Saya tidak mengatakan berapa banyak. Saya tidak pernah membayangkan konsekuensi yang menghancurkan itu,” ucap Komandan Jorge de Azambuja mengutip dari revistalibero.com

Jorge de Azambuja ialah komandan polisi yang bertanggung jawab pada keamanan di Stadion Nacional Peru, tempat pecahnya tragedi yang menewaskan 328 suporter pada 24 Mei 1964.

Hingga kini Tragedi di Stadion Nacional Peru menjadi sejarah kelam dunia sepak bola internasional. Sampai saat ini tragedi tersebut jadi insiden berdarah dengan korban jiwa tertinggi dalam sejarah sepak bola dunia. 

Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang tewaskan 131 orang berada di tempat kedua didunia. Kedua tragedi mengenaskan dari dunia sepak bola ini sama-sama disebabkan adanya tembakan gas air mata yang dilakukan polisi ke arah tribun penonton.

Peristiwa berdarah di Estadio Nacional terjadi saat laga Peru vs Argentina pada babak kualifikasi kedua zona Conmebol Olimpiade Tokyo.

Terjadinya Insiden berdarah di Peru itu berawal dari keputusan wasit yang menganulir gol tim tuan rumah. Sebelum keputusan wasit tersebut, kedua tim bermain imbang tanpa gol di babak pertama.

Pada babak kedua, Argentina unggul 1-0 lewat gol Nestor Manfredi. Namun memasuki pertengahan babak kedua, Peru berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Victor Lobaton. Namun gol itu kemudian dianulir oleh wasit asal Uruguay, Angel Eduardo Pazos. 

Wasit Pazos menganulir gol itu karena menganggap terjadi pelanggaran terlebih dahulu sebelum Lobaton merobek gawang Argentina. Putusan ini diprotes pemain dan suporter Peru.

Suasana makin panas memasuki menit-menit akhir pertandingan. Puncaknya, pria bernama Víctor Vásquez yang kemudian dikenal dengan sebutan Negro Bomba turun ke lapangan. Víctor Vásquez berusaha menyerang wasit Pazos dengan pecahan botol. Namun usahanya dicegah aparat keamanan.

Panitia pertandingan kemudian memutuskan untuk menghentikan laga karena merasa tidak ada jaminan keamanan. Putusan ini makin membuat kondisi tribun memanas. Botol, kursi serta kayu dilempar para suporter ke arah lapangan.

Sejumlah suporter juga berhasil meringsek masuk ke dalam lapangan. Sehingga pihak Kepolisian Peru kemudian melepaskan anjing dan mulai menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton.

Kepanikan pecah, para suporter berusaha untuk keluar stadion. Naas buat mereka karena pintu stadion tertutup rapat.

Namun demikian, Tragedi di Kanjuruhan Malang JawaTimur, lokasi Gate 13 menjadi tempat paling banyak jatuh korban jiwa, sedangkan di Estadio Nacional, area keluar tribun utara tepatnya di gate 10, 11 dan 17 menjadi kuburan bagi banyak suporter pada hari itu. 

“Banyak wanita dan anak-anak bergelimpangan kehabisan nafas dan terinjak-injak oleh para suporter lain yang panik. Teriakan minta tolong para korban sangat menyayat hati,” tulis salah satu media lokal negara Peru. 

Pasca insiden itu, pemerintah Peru umumkan 7 hari masa berkabung nasional. Beberapa bulan setelah insiden, Komandan Azambuja mendapat hukuman 30 bulan penjara. 

Salah satu hakim yang bertugas menyelidiki tragedi ini, Benjamin Castaneda bertahun-tahun setelahnya mengungkap fakta lain bahwa jumlah korban jiwa lebih banyak dari catatan Pemerintah Peru. 

Dalam laporan yudisial yang ia terbitkan bahwa pemerintah tidak mencantumkan atau menghilangkan jumlah korban tewas akibat tembakan peluru tajam oleh aparat kepolisian.

Castaneda kemudian menunjuk bahwa orang yang paling bertanggung jawab pada tragedi ini ialah Juan Languasco, Menteri dalam negeri Peru yang memiliki tanggung jawab penuh pada kepolisian.

Dan sayangnya ofisial pertandingan pada tragedi itu sampai sekarang tidak pernah didakwa secara hukum.@***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here