Gara-Gara “Kancut” Istana Hirarki Ambruk

0
81
Gambar Ilustrasi

Panjinasional.net || Sejak dulu perjalanan perselingkuhan pasangan yang bukan suami istri akan berakhir dengan bencana hingga menggetarkan istana hirarki.

Permasalahan yang diawali “Masalah” dipastikan menjadi kubangan akhir seperti saling teror, penganiayaan hingga pembunuhan. Ini Gara-Gara “Kancut” sehingga pemahaman dan kekuatan Hirarki kelompok kekuasaan bisa jebol.

 Saya tuangkan istilah kata kancut, adalah celana dalam (bhs jawa’red) mengingat istilah ini juga pernah dilontarkan tokoh pers jebolan Lemhanas Wilson Lalengke saat memasuki halaman Polres Lampung yang berakhir penjara.

Sedangkan kata Hirarki saya ibaratkan sebagai kekuatan (kekuatan kelompok dalam lembaga organisasi/kekuasaan maupun dalam istilah institusi)

Gara-Gara “Kancut”

Istilah “kancut” tak lepas dari Perselingkuhan dan perzinahan yang dirasa awalnya memang asyik, penuh rayuan dan impian gombal plus cerita indah dibalik pengelabuan kotor terhadap pasangan asli yang di khianatinya.

Gara-Gara Kancut Perselingkuhan dibalas Perselingkuhan, selanjutnya berakibat Dar Der Dor yang dikemas dengan Pelecehan Seksual hingga ada yang dikorbankan alias Pembunuhan pada awalnya di rekayasa seperti Prajurit latihan Tembak menembak satu terbunuh oleh jajaran yang mendewakan martabat Hirarki.

Inilah drama terindah yang melibatkan beberapa petinggi gengsternya Hirarki yang turut serta terlibat bersekenario dalam menjaga dan mempertahankan Hirarki dengan drama pembunuhan atas dasar patuh terhadap atasan sang Sutradara?

ALkisah, drama skenario ini berakhir akibat bau busuk rekayasa para gengster meskipun bersama sang sutradara penjaga Hirarki bersama-sama pula para tokoh prajuritnya sudah dinyatakan sebagai tersangka oleh petinggi dan penjaga Istana Hirarki Sejati.

Masalah Kancut ini, Kayaknya belum sepenuhnya selesai, sebab sang sutradara betusaha ngeles, mengancam akan membongkar dan memecah-belah kekuatan Hirarki yang membenturkan dirinya ke tembok kegelapan.

Ulasan Liar Tak Bertuan’

Drama Perselingkuhan pun belum terungkap sepenuhnya, siapa yang mengawali dan siapa yang mendahului pengkhianatan pasangan tersebut, dikarenakan dunia maya terlalu membordir informasi liar yang tak terbendung dan saling silangnya ulasan tak bertuan hingga mengkaburkan cerita sesungguhnya dan Orisinal Skenario menjadi buram, meskipun penontonnya disuruh bersabar, karena masih ada rekayasa baru demi menjaga martabat sang majikan

Opini ini saya tuangkan dengan mengadopsikan simbol atau versi cerita melodrama atas rekayasa pembunuhan seorang Prajurit berpangkat Brigadir meski tidak seutuhnya benar namun pembenaran akan lebih diperkuat oleh publik sambil menunggu cerita puncak dari cerita pengkhianatan dan perselingkuhan segi empat, ke pembunuhan hingga beralih ke proses lainnya.

Semoga saja ada finishing terbaik agar masyarakat tidak bergemuruh dan berlomba untuk menghakimi.***

Penulis Opini: Gatot Irawan/yayasan Majelis Pers.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here