Tidak Ada Bukti. Penasehat Hukum JEP Minta Kepada Majelis Hakim Agar Di Bebaskan

0
12

Panjinasional.net Kota Malang || Penasehat Hukum JEP Minta Kepada Majelis Hakim Agar di Bebaskan pada sidang terkait perkara dugaan kekerasan seksual yang terjadi di sekolah SPI kota Batu kembali di gelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri ( PN ) Malang jalan Ahmad Yani no 198 Purwodadi Kecamatan Blimbing kota Malang. Rabu (3/8/2022 ) siang.

Pada sidang kali ini dengan agenda pembacaan pledoi atau pembelaan oleh tim Penasehat Hukum terdakwa Julianto Eka Putra (JEP). 

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yogi Sudharsono, S.H., M.H menjelaskan sidang kali ini dengan agenda pembacaan pledoi dari tim kuasa hukum JEP. “Hari ini pembacaan pledoi dari penasihat hukum terdakwa. Pada intinya, penasehat hukum terdakwa menganggap bahwa perkara ini adalah suatu rekayasa,” jelasnya. 

Namun berdasarkan alat bukti kemarin pihaknya meyakini jika terbukti., “Kita saksikan dihadapan majelis hakim, baik berupa saksi, petunjuk, surat maupun keterangan ahli, bahwa kita meyakini dan sudah kita cantumkan dalam surat tuntutan kita pada persidangan sebelumnya, bahwa dalam perkara ini kita yakin terbukti,” jelasnya.

Juru bicara Kejari Batu Edy Sutomo SH MH juga menyebutkan sebagaimana Pasal 2 angka 2 PERMA No 4 Tahun 2020 tentang administrasi dan Persidangan Perkara Pidana di Pengadilan secara elektronik maka persidangan an Terdakwa Julianto Eka Putra Alias Ko Jul dilaksanakan secara Virtual melalui aplikasi Zoom Meeting dan terdakwa mengikuti Persidangan secara online dari Lembaga pemasyarakatan Kelas IA Lowokwaru Malang.

” Sidang selanjutnya akan dilaksanakan  pada hari Rabu tanggal 10 Agustus 2022, untuk membacakan replik dari Jaksa Penuntut Umum “, jelasnya.

Pada Pledoi (Nota Pembelaan), penasehat Hukum JEP, meminta agar majelis Hakim membebaskan terdakwa.

Para Penasehat Hukum JEP terlihat secara bergantian menjelaskan dan menegaskan kepada para wartawan  bahwa kliennya tidak bersalah.

Seperti yang disampaikan oleh Penasehat Hukum JEP, Ditho Sitompoel, S.H., M.Hum usai pelaksanaan sidang, bahwa pihaknya baru saja membacakan nota pembelaannya.

” Disini kami juga menunjukkan bahwa dukungan dari siswa-siswi maupun para alumni dari SPI Kota Batu yang saat ini masih ada. Mereka meminta keadilan, agar pengadilan ini dapat membebaskan klien kami. Kenapa? Karena secara sah dan meyakinkan sudah terbukti bahwa, klien kami tidak melakukan seluruh apa yang didakwakan oleh JPU.

Inilah bukti-buktinya, misalkan ada orang dari aktivis-aktivis yang menyatakan bahwa di SPI terjadi , ini sekarang bahwa siswa-siswi yang ada di SPI saja masih tetap menyatakan bahwa tidak pernah ada isu-isu terkait pelecehan seksual tersebut”, tegasnya. 

Disampaikan pula oleh ketua tim kuasa hukum JEP, DR. Hotma Sitimpoel, S.H., M Hum, jadi ini ada 100 lebih siswa, bahkan yang sudah lulus yang menyampaikan semua omongan dari pelapor ( SDS ) itu tidak benar, 100 orang juga bilang, bahwa itu tidak benar, tidak pernah ada isu itu. Isu-isu tersebut baru keluar kemarin ini setelah adanya konspirasi di Bali. Bayangkan nih 100 lebih siswa-siswi mengatakan tidak pernah ada isu itu dan bisa meledak tiba-tiba.,Namun bersyukurlah didalam persidangan tidak terbukti sama sekali dakwaan dan tuntutan dari JPU “, tegasnya.

Hotma juga menyampaikan bahwa dalam pledoi semua tidak ada buktinya dan bahkan JPU juga tidak berhasil membuktikan. 

“Pertanyaanya begini, selama 12 tahun pelapor ke mana saja? Katanya tertekan, apa bisa masuk diakal selama 12 tahun katanya pelapor tertekan? Buktinya pelapor jalan-jalan liburan berdua bersama pacarnya dan beramai-ramai ke luar kota dan luar negeri dan bebas melakukan apa saja.

Dalam fakta persidangan juga terbukti bahwa dia (pelapor) juga pernah menginap di hotel bersama pacarnya ( R ), yang kemudian sekarang mencoba melaporkan eksploitasi ekonomi.

Dua orang ini diduga berusaha menghancurkan SPI, dia akan kita tuntut tanggung jawabnya.

Ini adalah contoh foto-foto saat di Bali, kan di bilang saat ini ada konspirasi untuk menjatuhkan klien kami. Dan disini salah satu orang yang masuk ke kelompok kita dan sudah menyatakan terjadi adanya konspirasi ini.

Dan yang paling mengejutkan, kita menemukan bukti dari pelapor ( S ) pergi ke hotel bersama pacarnya dilakukan sebelum visum, ini ada bukti cek in di hotel yang tertera nama dan tanda tangan mereka berdua “, bebernya.

Hal senada juga disampaikan oleh  tim Penasehat hukum JEP, Philipus Harapenta Sitepu, S.H., M.H. “Memang kami sengaja membuat cover pembelaan kami untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa klien kami tidak bersalah.

“Yang paling mengejutkan, kita menemukan bukti dari pelapor ( S ) yang pernah pergi ke hotel bersama pacarnya dan itu dilakukan sebelum visum. 

Kami sengaja membawa bukti-bukti ini untuk membuktikan kepada teman-teman wartawan dan masyarakat luas, bahwa klien kami itu memang tidak bersalah,” tambah Philipus. 

Ditambahkan lagi oleh Hotma Sitompoel bahwa Pihaknya juga menyebut, jika sudah menunjukkan bukti-bukti di dalam persidangan dan dihadapan para awak media juga, bahwa ada konspirasi di Bali. 

“Tanyakan sama jaksa bagaimana melawan bukti kita, karena kita sudah punya bukti-bukti, bahwa kasus perkara ini adalah rekayasa. Selain itu, juga ada pembicaraan-pembicaraan menjatuhkan terdakwa dan SPI. Jadi semua juga ada buktinya “tegasnya.

Dan ini sudah tidak menjadi rahasia lagi, ada salah satu saksi ( V ) sudah diwawancarai dan temen-temen sudah mengetahui semua bahwa perkara ini direkayasa.

” Kami berani ngomong seperti ini karena ada bukti dan ada keterangan saksi yang bilang bahwa selama satu tahun lebih dia ( V ) tinggal bersama saksi-saksi yang hadir, yang mengaku korban bersama dengan pelapor yang juga di kumpulkan di suatu tempat, memang di atur, di berikan skrip dan ada studio dan kameranya juga untuk merekayasa perkara ini. 

Jadi apa yang kami sampaikan selama ini di media-media itu terbukti yaitu V sudah muncul, jadi apa lagi.

Nah kemudian selain itu banyak juga bukti-bukti yang kami munculkan bukan hanya satu keterangan dari V saja. Ada video pengakuan dan ada rekaman suara mereka di Bali. 

Bahwa mereka memang merekayasa ini, ada semua yang kami tampilkan di pengadilan tapi tidak bisa kami buka disini. Nanti akan kami buka setelah putusan, kami akan membuka siapa orang-orang yang merekayasa semua ini. Yang pasti di sini adalah persaingan bisnis.

Kita sudah menunjukkan bukti di Persidangan bahwa ada konspirasi di Bali. Tanyakan pada Jaksa bagaimana melawan bukti kita karena kita sudah punya bukti bahwa ini rekayasa, ada  pembicaraan-pembicaraan untuk menjatuhkan terdakwa dan SPI  dan itu ada buktinya.

Hal tersebut sampaikan berdasarkan bukti-bukti baik berupa video pengakuan, ada rekaman suara saat pelapor di Bali dan dokumen lainnya yang dilakukan pelapor sebelum visum.

Dalam persidangan semua bukti sudah kami sampaikan dihadapan Majelis Hakim dan disini ada konspirasi yang dilakukan pelapor di Bali.

Tanyakan ke JPU, bagaimana melawan bukti kami. Karena kami punya bukti bahwa kasus ini sudah direkayasa, pembicaraan – pembicaraan yang menjatuhkan terdakwa dan SPI semuanya ada buktinya. ” ungkap Hotma Sitompoel. ( Tim ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here