Sudah Saatnya Surabaya Naik Kelas

0
22
Isa Anshori
Isa Anshori

Surabaya, www.panjinaaional.net – Surabaya dengan segala pernak pernik yang ada menunjukkan betapa geliat pembangunan dan pelayanan terus bergerak. Sehingga diharapkan dengan gerak pembangunan dan layanan yang ada, masyarakat Surabaya merasakan manfaat dalam menjalani kehidupannya.

Hal itu sejalan dengan tekad walikota Eri Cahyadi yang ingin membawa kota Surabaya menjadi kota global dunia yang maju, humanis dan berkelanjutan dengan semangat gotong royong.

Semangat walikota ini menunjukkan bahwa Surabaya tidak bisa lagi seperti sekarang ini, Surabaya harus lebih meningkatkan lagi kualitas layanannya sejajar dengan kota – kota maju didunia, sehingga kota Surabaya akan menjadi kota terstandar dunia dalam layanan dan pembangunan yang memanusiakan warganya.

Eri Cahyadi tentu paham betul bahwa menggerakkan pembangunan dan layanan yang memanusiakan warganya tentu tidak bisa dilakukan sendirian, dibutuhkan kolaborasi dan gotong royong semua aparaturnya mulai dari kepala OPD, Camat, Lurah, RW sampai dengan RT. Dibutuhkan keaktifan dan kreatifitas layanan dalam melayani masyarakat sesuai dengan kearifan lokal masing masing tempat.

Tentu ini tidaklah mudah ditengah budaya kerja yang masih belum berubah, budaya kerja menunggu perintah “top down”, utamanya mereka yang berada dibawah kendali langsung Walikota, mulai dari OPD sampai dengan lurah.

Surabaya naik kelas dimaksudkan sebagai sebuah upaya untuk mendorong semua aparatur pemerintah kota agar bisa berkreasi menjadikan Surabaya sebagai kota yang standar layanannya tidak lagi hanya sekelas yang selama ini dilakukan, hanya sejajar dengan kota – kota yang ada di Jawa Timur atau di Indonesia.

Kalau hanya dibandingkan dengan kota – kota di Jatim dan Indonesia saya kira Surabaya sudah selesai dan ini berarti bahwa aparatur yang ada hanya menjalankan pekerjaan – pekerjaan rutin melanjutkan tradisi yang ada dan tentu tidak butuh effort yang besar dan biaya yang besar.

Karena bersifat melanjutkan kerja – kerja yang sudah ada. Lebih tegas lagi bahwa walikota dan aparaturnya saat ini tidak melakukan apa apa kecuali hanya melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh pendahulunya. Tidak ada monumen karya yang layak dibanggakan oleh Eri Cahyadi dan aparaturnya selama memimpin Surabaya.

Persepsi tentang hal itu semua tentu tidak semua benar, sudah banyak hal yang dilakukan oleh Eri Cahyadi dan para aparaturnya dalam menjalankan layanan dan menggerakkan pembangunan. Ini menjadi sebuah tantangan bagi Eri dan seluruh aparaturnya.

Hal yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kelas Surabaya sejajar dengan kota – kota dunia atau setidaknya dengan kota – kota di Asia atau Asia Tenggara ditengah program pembangunan dan layanan yang sedang dijalankan.

Tantangan naik kelas oleh walikota Eri Cahyadi kepada para aparaturnya tentu akan menjadi sebuah karya monumental besar yang membedakan walikota Eri dan jajarannya dengan walikota sebelumnya, sehingga Eri akan dikenal oleh warganya sebagai walikota Surabaya yang tidak hanya meneruskan program walikota sebelumnya, tapi juga menambah dan meningkatkan nilai dari program – program sebelumnya.

Langkah Eri sejatinya sudah tepat dengan membentuk tim percepatan pembangunan kota Surabaya yang saat ini sedang membantu para kepala OPD, camat dan lurah menyiapkan program – program pembangunan dan layanan, tapi ini butuh penegasan bahwa capaian yang ingin diraih adalah Surabaya naik kelas sejajar dengan kota – kota dunia atau Asia, misalkan Surabaya sejajar dengan Singapur, atau kota – kota di Australia yang menjadi rujukan layanan.

Tim percepatan pembangunan kota Surabaya sudah melakukan kajian dan membuat definisi serta indikator capaian dengan merujuk pada standar standar dunia yang berlaku dan sudah dijalankan oleh berbagai kota kota didunia. Tinggal yang belum adalah mengharmonisasi program – program OPD, Camat dan Lurah menuju layanan yang naik kelas tersebut.

Sebagai contoh yang gampang adalah dalam upaya perlindungan anak. Kota Surabaya sudah selesai menjadi kota layak anak bila disandingkan dengan kota – kota di Jatim atau kota – kota di Indonesia. Dengan predikat kota layak anak tingkat paling tinggi dan sudah berkali-kali, apalagi yang harus dikerjakan oleh Surabaya? Tentu tidak ada lagi, sehingga dikuatirkan kualitas layanan akan menurun, karena tidak adanya tantangan dalam perlindungan anak.

Dengan adanya tantangan Surabaya Kota Layak Anak tingkat Asia atau Asia Tenggara, ini akan menjadi motivasi peningkatan kualitas layanan bagi para OPD terkait anak untuk berkreasi mewujudkan program layanan berkualitas standar dunia atau rujukan kota pembanding.

Misalkan layanan perlindungan yang dibuat seperti apa, layanan pendidikan dan kesehatan yang diberikan seperti apa, kemudahan dan keterukuran layanan standar rujukan yang dilaksanakan bagaimana dan seterusnya. Ini akan menjadi pengungkit layanan – layanan yang ada di kecamatan dan kelurahan serta RW dan RT, semua akan bergerak dan berkolaborasi untuk layanan yang baik dan berkualitas menjadi layanan standar dunia.

Dengan naik kelas, diharapkan kota Surabaya menjadi kota yang ramah bagi penghuninya dan semua yang singgah.

Kota Surabaya akan menjadi kota global yang maju, humanis dan berkelanjutan sebagaimana harapan walikota Eri.

Tidak ada yang tidak bisa dilakukan, dengan potensi yang dimiliki Surabaya sebagai kota yang mempunyai semangat gotong royong tentu harapan Surabaya naik kelas adalah harapan yang nyata tidak mengada ada.

Gas pool, Surabaya wani, Wani naik kelas untuk membahagiakan warganya.

Surabaya, 12 Juni 2022

Isa AnsoriKolumnis dan Pemerhati Pendidikan dan Hak Anak LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here