Redefinisi Pemahaman Zonasi Memastikan PPDB Surabaya Yang Berkeadilan

0
22
Isa Anshori
Isa Anshori

Surabaya, www.panjinasional.net – Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB) dari tahun ke tahun nampaknya sama dan tampaknya masalah yang muncul juga selalu sama.

Dalam peraturan yang dikeluarkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan, Berdasarkan Surat Sekretaris Jendral Kemdikbudristek No. 6998/A5/HK.01,04/2022 tentang Pelaksanaan PPDB Tahun Pelajaran 2022/2023, salah satunya, Pelaksanaan PPDB tahun pelajaran ini masih mengacu pada Permendikbud Nomor 1 tahun 2021.

Permendikbud Nomor 1 Tahun 2021 Tentang PPDB TK SD SMP SMA SMK menyatakan bahwa PPDB untuk SD, SMP, dan SMA dilaksanakan melalui jalur pendaftaran PPDB. Jalur pendaftaran PPDB zonasi; afirmasi; perpindahan tugas orang tua/wali; dan/atau prestasi.

Jalur zonasi terdiri atas: a) jalur zonasi SD paling sedikit 70% (tujuh puluh persen) dari daya tampung sekolah; b) jalur zonasi SMP paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari daya tampung sekolah; dan c) jalur zonasi SMA paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari daya tampung sekolah.

Jalur afirmasi paling sedikit 15% (lima belas persen) dari daya tampung sekolah. Jalur perpindahan tugas orang tua/wali paling banyak 5% (lima persen) dari daya tampung sekolah. Dalam hal masih terdapat sisa kuota dari jalur pendaftaran, Pemerintah Daerah dapat membuka jalur prestasi. Namun Jalur prestasi tidak berlaku untuk jalur pendaftaran calon peserta didik baru pada TK dan kelas 1 (satu ).

Ada dua hal yang bisa kita telaah dari permendikbud tersebut, yang pertama adalah permendikbud tersebut memberi keleluasaan bagi setiap kabupaten / kota ataupun provinsi untuk mengatur keberpihakannya terhadap pendidikan terutama kepada anak anak keluarga miskin, anak anak yang punya kemampuan prestasi akademis dan mereka yang punya kedekatan dengan lingkungan sekolah, karena memang semangatnya adalah mendekatkan rumah dengan sekolah.

Yang kedua dengan kalimat sedikit dikitnya yang ditempelkan pada jalur prestasi akademis dan zonasi, sejatinya memberi ruang kepada kepala dinas pendidikan untuk meredefinisi makna, utamanya jalur zonasi, sehingga pada jalur ini pelaksanaan PPDB akan berjalan dengan adil sesuai dengan maksud pendidikan.

Maksud pendidikan kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga setiap anak berhak mendapatkan layanan pendidikan yang baik dan bermutu sebagaimana yang tertuang didalam UU Sistim Pendidikan Nasional.

Masalah yang sering timbul adalah pada jalur zonasi, kebanyakan para pengambil kebijakan mengambil secara kaku dengan pemahaman jarak diukur dari rumah ke sekolah, akibatnya mereka yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah, atau mereka yang tinggal pada kecamatan atau kelurahan yang tidak ada sekolah negeri yang diharapkan, maka harapan mereka tinggal harapan, karena mereka tak akan pernah punya kesempatan untuk bersekolah di sekolah negeri yang diharapkan.

Sehingga bagi sebagian orang, pelaksanaan PPDB ini tidak adil, karena menurut mereka orang beli rumah itu tidak bisa memilih, terutama mereka kalangan menengah kebawah, mereka membeli rumah karena keterbatasan uang lalu menyesuaikan lokasi rumah yang bisa dibeli.

Dampaknya adalah mereka akan menyiasati tempat tinggal dengan cara memindahkan alamat tinggal sebagaimana persyaratan PPDB. Tentu saja ini menjadi contoh yang kurang baik.

Berdasarkan data di Kota Surabaya yang berjumlah 31 Kecamatan dan 154 kelurahan, tidak semua kecamatan dan kelurahan tersebut ternyata memiliki sekolah negeri terutama SMP, padahal perbandingan jumlah SD dan SMP, sekolah SD jauh lebih banyak, itu artinya daya tampung SMPN dibutuhkan lebih banyak, namun karena peraturan yang ada maka PPDB harus tetap mengacu pada pagu yang ditentukan.

Saya akan ambil satu contoh Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari. Anak – anak yang tinggal didaerah ini jangan pernah berharap bisa menikmati SMPN yang ada, kecuali melalui jalur prestasi akademis.

Mengapa? Karena memang didaerah ini tidak ada SMPN yang dibangun oleh pemerintah kota. Sehingga kalau sistem PPDB Zonasi dengan menggunakan jarak meter dari rumah sekolah, maka mereka hanya akan bisa berharap saja.

Tentu sistem zonasi dengan pemahaman ini akan melukai rasa keadilan dan bertentangan dengan semangat UU Sisdiknas.

Dampak selanjutnya adalah akan menjadikan anak – anak didaerah ini akan kehilangan motivasi belajar, karena bagi mereka buat apa belajar serius kalau nanti hasilnya pada saat PPDB yang dinilai bukan hasil belajarnya tapi jarak rumahnya.

Membangun sekolah baru demi memberi layanan yang baik kepada masyarakat tentu bukanlah hal yang mudah, karena butuh biaya dan memperhatikan kelangsungan sekolah sekolah swasta.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama adalah melakukan re definisi tentang zonasi dan implementasinya dan kedua meningkatkan kualitas sekolah swasta sebagai mitra agar masyarakat mempunyai pemahaman bahwa sekolah dimanapun itu sama, karena kualitasnya memang sama.

Redifinisi Pemahaman Zonasi

Tentu saja pemerintah kota mengalami dilema untuk mengadakan sekolah baru, baik itu dari sisi anggaran maupun dari sisi penghargaan kepada sekolah sebagai mitra.

Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan redefinisi berkaitan dengan pemahaman zonasi.

Zonasi adalah sebuah kawasan yang terletak pada radius yang sama. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan pengertian zonasi adalah pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan, perzonaan.

Menurut ahli dapat disimpulkan bahwa sistem zonasi adalah pembagian wilayah kedalam beberapa zona. sedangkan dalam pendidikan khususnya pada penerimaan peserta didik baru tahun 2021/2022 sistem zonasi yaitu suatu sistem pembagian zona sekolah yang mengedepankan jarak antara sekolah dengan rumah.

Nah masalahnya timbul disini, zonasi dalam PPDB membuat implementasi yang berbeda dengan makna zonasi pada umumnya, sehingga selama definisi tentang zonasi dalam PPDB mengedepankan jarak maka rasa keadilan masyarakat akan tetap terlukai.

Untuk mengembalikan ruh layanan pendidikan yang berkualitas dan bermutu serta memupuk rasa keadilan, pemahaman zonasi harus dimaknai sebagaimana yang tertulis dalam KBBI, bahwa pembagian atau pemecahan suatu areal sesuai dengan fungsi dan tujuan penzonaan.

Dalam PPDB tujuan penzonaan adalah agar siswa mendapatkan sekolah yang jaraknya dekat dengan rumah. Ini dimaksudkan agar lingkungan sekolah dan rumah bisa menyatu dan bekerja sama, serta dari sisi transportasi dan keselamatan siswa bisa dijaga.

Ini artinya ketika pemerintah memasukkan sebuah kawasan didalam zona yang sama, pemerintah sudah menegaskan bahwa zona yang dikelompokkan itu berada pada situasi dan kenyamanan yang sama. Sehingga tidak adil memperlakukan mereka dalam zona yang sama dengan perlakuan yang berbeda.

Seharusnya mereka yang berada dalam zona yang sama diperlakukan sama dengan nol kilometer, lalu seleksi penerimaan peserta didik baru tetap mengacu dengan pertimbangan nilai, mata pelajaran yang ditekankan, serta waktu pendaftaran. Dengan cara seperti ini sejatinya akan membangun harapan dan kesadaran masyarakat dalam memilih sekolah yang diinginkan. Masalah yang ada tentu akan bisa direduksi, karena mereka semua akan menyadari hasil yang ada.

Lalu apa bedanya jalur zonasi dengan jalur prestasi akademis? Tentu saja beda dalam lingkup penerimaan.

Jalur prestasi akademis model penerimaan memberi ruang besar kepada mereka yang unggul dalam prestasi akademis untuk memilih sekolah yang diharapkan tidak dibatasi oleh wilayah zona yang ditentukan, sedang jalur zonasi, pertimbangan penerimaan dibatasi oleh wilayah zona yang sudah ditentukan dengan pertimbangan sebagaimana diatas, karena sejatinya ruh pendidikan adalah kemampuan akademis dan non akademis yang dijadikan pertimbangan.

Dengan pemahaman seperti itu pendidikan Surabaya akan tetap berada dalan semangat mempercepat pemerataan kualitas pendidikan sebagaimana semangat yang pernah ada yaitu sekolah kawasan.

Surabaya, 25 Mei 2022

Isa Ansori
Pemerhati Pendidikan di Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) SurabayaSurabaya,

Surabaya, 25 Mei 2022

Isa Ansori

Pemerhati Pendidikan di Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here