Dibutuhkan Keberanian Pemkot Bergotong Royong Menyelamatkan Anak Surabaya Dari Putus Sekolah

0
10
Isa Anshori
Isa Anshori

Surabaya, www.panjinasional.net – Sebagaimana yang tertulis di dalam konstitusi kita bahwa tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka tidak bisa ditawar lagi bahwa ada kewajiban negara untuk menjaga situasi belajar anak anak agar tak menjadi putus sekolah.

Persoalannya adalah sekolah formal kita selama ini masih merasa superior dibanding dengan sekolah non formal, ada keangkuhan posisional seolah belajar di sekolah lebih penting dibanding belajar diluar sekolah.

Padahal jelas – jelas disaat pandemi melanda dunia, sekolah formal terlihat tak berdaya, sekolah formal terseok – seok mengiba meminta rumah sebagai tempat belajar, meski rumah juga belum siap menjalankannya, tapi rumah dengan ramah menerima anak anak untuk belajar.

Akibatnya anak – anak menjadi korban dua kali, korban dari ketidakmampuan sekolah menjalankan proses belajar yang maksimal serta korban dari ketidaksiapan rumah sebagai tempat belajar yang baik.

Dampaknya anak – anak kemudian lebih banyak mendapatkan pengasuhan maksimal dari lingkungan diluar rumah dan sekolah.

Anak – anak dari kalangan kelas menengah relatif baik mendapatkan pengasuhan dari lingkungan yang cukup baik, mereka bisa dititipkan pengasuhan belajarnya kepada lembaga – lembaga bimbingan belajar dan kelompok – kelompok belajar dan pengembangan bakat.

Sementara mereka yang berasal dari kelompok menengah kebawah, mereka mendapatkan pengasuhan dari lingkungan yang kurang kondusif kalau boleh dibilang tidak baik. Anak – anak berada dilingkungan orang dewasa ditempat – tempat umum seperti warung kopi dan sejenisnya.

Mereka mendapatkan pembiaran berbuat apapun tanpa ada yang melarang sehingga terbentuk karakter yang menurut kalangan sekolah formal kurang baik.

Anak – anak yang tadinya tidak mengenal rokok akhirnya menjadi mengenalnya dan menjadi perokok, anak – anak yang biasanya santun dan rajin beribadah, kini mengalami perubahan, kehilangan rasa hormat dan kesantunan terhadap keluarga dan orang tua dan kadang menjadi malas beribadah.

Anak – anak yang biasanya jujur kini harus berbohong menutupi keburukannya, teman menjadi idola baru dan panutan baru. Anak – anak menjadi kehilangan jati dirinya.

Tentu bagi sebagian anak dari kalangan ini akan banyak merasa kehilangan waktu belajarnya dan pada akhirnya mereka merasa kurang percaya diri dan minder.

Perasaan kurang percaya diri dan minder ini akan berdampak pada takut berangkat ke sekolah, sekolah seolah menjadi ancaman. Kalau sudah seperti ini maka anak akan menjadi rentan putus sekolah dan putus sekolah.

Lalu Apa Yang Harus Dilakukan

Tidak bisa dipungkiri bahwa semasa pandemi, sekolah dan guru mengalami ketidak berdayaan dalam mengasuh pembelajaran, begitu juga dengan orang tua dan rumah, keduanya juga tak siap dan bahkan tak mampu mendampingi anak – anaknya untuk belajar baik.

Ketakberdayaan itu harus disadari dan menjadi pelajaran bahwa tak mungkin antara sekolah dan rumah menjadi dinding yang terpisah tak ada hubungannya. Saatnya sekolah dan guru menyadari ada peran penting proses untuk mendidik anak diluar guru dan sekolah, yaitu rumah dan orang tua.

Proses belajar dirumah dan orang tua harus dianggap sebagai bagian penting untuk menyelamatkan pendidikan anak.

Anak – anak yang rentan karena merasa minder dan kurang percaya diri harus diberi ruang untuk dapat bertahan menyelamatkan pendidikannya, tentu dengan cara yang bisa menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Para orang tua anak yang mengalami masalah itu tentu akan terus berjibaku dan berjuang agar anaknya bisa bertahan dan menlanjutkan pendidikan formalnya di sekolah, tentu mereka mengalami ketakberdayaan atau bahkan keputusasaan.

Dibutuhkan empati sekolah dan guru terhadap perjuangan orang tua dan perasaannya.

Tentu tak ada orang tua yang berharap anaknya mengalami masalah seperti ini, tapi inilah takdir yang harus dihadapi.

Sekolah dan guru tak boleh mengatakan bahwa kalau anak – anak seperti ini tak bisa mengikuti peraturan yang ada di sekolah, maka terpaksa sekolah akan bersikap tegas dan anak akan diberhentikan secara paksa.

Kalau sudah begini sekolah akan menjadi angkuh dan tak bersahabat kepada anak, padahal tugas pendidikan adalah mencerdaskan anak dan melakukan perubahan perilaku kearah yang lebih baik.

Sekolah bukan hanya mengurusi anak yang baik saja, tapi sekolah juga harus mendidik anak – anak yang dianggap tidak baik agar jadi baik, supaya anak anak ini tidak jadi beban negara.

Mensinergikan Pendidikan Non Formal Menjadi Bagian Pendidikan Formal

Menyadari bahwa sekolah dan guru tidak bisa sendirian melakukan pendidikan, maka menjadikan pendidikan non formal diluar sekolah, seperti rumah, PKBM dan lain lain yang sejenis menjadi bagian dari pendidikan yang dilaksanakan disekolah akan sangat membantu anak – anak yang rawan putus sekolah agar tetap bisa bertahan Sekolahnya.

Upaya seperti itu tentu akan menjadikan pendidikan kita akan semakin humanis dan berempati.

Sekolah dan guru diajak untuk bisa merasakan perasaan orang tua dan perjuangan para orang tua dalam berjuang menyelamatkan pendidikan anak – anaknya.

Sejalan dengan visi walikota yang akan menjadikan Surabaya sebagai kota yang bergotong royong menjadi kota yang maju, humanis dan berkelanjutan, melakukan penyelamatan pendidikan anak – anak yang rentan dengan menjadikan proses pendidikan non formal sebagai bagian proses pendidikan formal di sekolah dengan tetap mengacu pada standar sekolah adalah sebuah keniscayaan.

Sayangnya visi mulia itu belum terlihat dalam program aksi yang dijalankan oleh Pemkot Surabaya melalui OPD yang mengurusi perlindungan anak dan pendidikan anak. Sehingga meski Surabaya berusaha melakukan upaya – upaya mengembalikan anak putus sekolah, tapi anak putus sekolah tetap saja terjadi.

Hanya dibutuhkan sebuah keberanian dan kepedulian dalam bentuk penegasan tertulis berupa peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota bahwa pendidikan non formal yang sedang digalakan oleh Pemkot dengan nama rumah pintar atau apapaun nama dan bentuknya dan pilihan pendidikan daring karena masih dalam proses menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bagian dari proses yang dilakukan sekolah.

Surabaya, 22 Mei 2022

Isa Ansori
Kolumnis dan Pemerhati Pendidikan Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) SurabayaSurabaya, www.panjinasional.net – Sebagaimana yang tertulis di dalam konstitusi kita bahwa tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka tidak bisa ditawar lagi bahwa ada kewajiban negara untuk menjaga situasi belajar anak anak agar tak menjadi putus sekolah. Persoalannya adalah sekolah formal kita selama ini masih merasa superior dibanding dengan sekolah non formal, ada keangkuhan posisional seolah belajar di sekolah lebih penting dibanding belajar diluar sekolah. Padahal jelas – jelas disaat pandemi melanda dunia, sekolah formal terlihat tak berdaya, sekolah formal terseok – seok mengiba meminta rumah sebagai tempat belajar, meski rumah juga belum siap menjalankannya, tapi rumah dengan ramah menerima anak anak untuk belajar. Akibatnya anak – anak menjadi korban dua kali, korban dari ketidakmampuan sekolah menjalankan proses belajar yang maksimal serta korban dari ketidaksiapan rumah sebagai tempat belajar yang baik. Dampaknya anak – anak kemudian lebih banyak mendapatkan pengasuhan maksimal dari lingkungan diluar rumah dan sekolah. Anak – anak dari kalangan kelas menengah relatif baik mendapatkan pengasuhan dari lingkungan yang cukup baik, mereka bisa dititipkan pengasuhan belajarnya kepada lembaga – lembaga bimbingan belajar dan kelompok – kelompok belajar dan pengembangan bakat. Sementara mereka yang berasal dari kelompok menengah kebawah, mereka mendapatkan pengasuhan dari lingkungan yang kurang kondusif kalau boleh dibilang tidak baik. Anak – anak berada dilingkungan orang dewasa ditempat – tempat umum seperti warung kopi dan sejenisnya. Mereka mendapatkan pembiaran berbuat apapun tanpa ada yang melarang sehingga terbentuk karakter yang menurut kalangan sekolah formal kurang baik. Anak – anak yang tadinya tidak mengenal rokok akhirnya menjadi mengenalnya dan menjadi perokok, anak – anak yang biasanya santun dan rajin beribadah, kini mengalami perubahan, kehilangan rasa hormat dan kesantunan terhadap keluarga dan orang tua dan kadang menjadi malas beribadah. Anak – anak yang biasanya jujur kini harus berbohong menutupi keburukannya, teman menjadi idola baru dan panutan baru. Anak – anak menjadi kehilangan jati dirinya. Tentu bagi sebagian anak dari kalangan ini akan banyak merasa kehilangan waktu belajarnya dan pada akhirnya mereka merasa kurang percaya diri dan minder. Perasaan kurang percaya diri dan minder ini akan berdampak pada takut berangkat ke sekolah, sekolah seolah menjadi ancaman. Kalau sudah seperti ini maka anak akan menjadi rentan putus sekolah dan putus sekolah. *Lalu Apa Yang Harus Dilakukan* Tidak bisa dipungkiri bahwa semasa pandemi, sekolah dan guru mengalami ketidak berdayaan dalam mengasuh pembelajaran, begitu juga dengan orang tua dan rumah, keduanya juga tak siap dan bahkan tak mampu mendampingi anak – anaknya untuk belajar baik. Ketakberdayaan itu harus disadari dan menjadi pelajaran bahwa tak mungkin antara sekolah dan rumah menjadi dinding yang terpisah tak ada hubungannya. Saatnya sekolah dan guru menyadari ada peran penting proses untuk mendidik anak diluar guru dan sekolah, yaitu rumah dan orang tua. Proses belajar dirumah dan orang tua harus dianggap sebagai bagian penting untuk menyelamatkan pendidikan anak. Anak – anak yang rentan karena merasa minder dan kurang percaya diri harus diberi ruang untuk dapat bertahan menyelamatkan pendidikannya, tentu dengan cara yang bisa menumbuhkan rasa percaya dirinya. Para orang tua anak yang mengalami masalah itu tentu akan terus berjibaku dan berjuang agar anaknya bisa bertahan dan menlanjutkan pendidikan formalnya di sekolah, tentu mereka mengalami ketakberdayaan atau bahkan keputusasaan. Dibutuhkan empati sekolah dan guru terhadap perjuangan orang tua dan perasaannya. Tentu tak ada orang tua yang berharap anaknya mengalami masalah seperti ini, tapi inilah takdir yang harus dihadapi. Sekolah dan guru tak boleh mengatakan bahwa kalau anak – anak seperti ini tak bisa mengikuti peraturan yang ada di sekolah, maka terpaksa sekolah akan bersikap tegas dan anak akan diberhentikan secara paksa. Kalau sudah begini sekolah akan menjadi angkuh dan tak bersahabat kepada anak, padahal tugas pendidikan adalah mencerdaskan anak dan melakukan perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Sekolah bukan hanya mengurusi anak yang baik saja, tapi sekolah juga harus mendidik anak – anak yang dianggap tidak baik agar jadi baik, supaya anak anak ini tidak jadi beban negara. *Mensinergikan Pendidikan Non Formal Menjadi Bagian Pendidikan Formal* Menyadari bahwa sekolah dan guru tidak bisa sendirian melakukan pendidikan, maka menjadikan pendidikan non formal diluar sekolah, seperti rumah, PKBM dan lain lain yang sejenis menjadi bagian dari pendidikan yang dilaksanakan disekolah akan sangat membantu anak – anak yang rawan putus sekolah agar tetap bisa bertahan Sekolahnya. Upaya seperti itu tentu akan menjadikan pendidikan kita akan semakin humanis dan berempati. Sekolah dan guru diajak untuk bisa merasakan perasaan orang tua dan perjuangan para orang tua dalam berjuang menyelamatkan pendidikan anak – anaknya. Sejalan dengan visi walikota yang akan menjadikan Surabaya sebagai kota yang bergotong royong menjadi kota yang maju, humanis dan berkelanjutan, melakukan penyelamatan pendidikan anak – anak yang rentan dengan menjadikan proses pendidikan non formal sebagai bagian proses pendidikan formal di sekolah dengan tetap mengacu pada standar sekolah adalah sebuah keniscayaan. Sayangnya visi mulia itu belum terlihat dalam program aksi yang dijalankan oleh Pemkot Surabaya melalui OPD yang mengurusi perlindungan anak dan pendidikan anak. Sehingga meski Surabaya berusaha melakukan upaya – upaya mengembalikan anak putus sekolah, tapi anak putus sekolah tetap saja terjadi. Hanya dibutuhkan sebuah keberanian dan kepedulian dalam bentuk penegasan tertulis berupa peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota bahwa pendidikan non formal yang sedang digalakan oleh Pemkot dengan nama rumah pintar atau apapaun nama dan bentuknya dan pilihan pendidikan daring karena masih dalam proses menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bagian dari proses yang dilakukan sekolah.

Surabaya, 22 Mei 2022

Isa Ansori

Kolumnis dan Pemerhati Pendidikan

Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here