Plafon Rawat Inap RSUD Moh. Anwar Ambrol. Ini Reaksi Pemerhati Pembangunan

0
154

Panjinasional.net – Sumenep | Ambrolnya Plafon Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu kemarin (9/2/2022) memantik reaksi dari Pemerihati Pembangunan di Kota Keris, Fery Saputra, S.T.

” Fix no controling and maintenance terhadap fasilitas instalasi rawat inap di gedung yang relatif masih baru ini, tanpa ada kontrol rutin dari pihak pengelola gedung jelas sangat membahayakan jiwa pasien,” kata Fery Saputra, S.T. Kamis (10/2/2022) melalui pesan WhatsApp yang diterima www.panjinasional.net.

Pemerhati yang dikenal kritis terhadap kebijakan di Kota Keris ini juga mengatakan. “Berdasarkan pengalaman saya, plafon jenis ini tidak bisa tiba tiba saja ambrol. Memang kelemahan plafon jenis gypsum board ini tidak tahan air dan kelembaban, namun gypsum dan kertas sebagai material pembentuk gypsumboard ini juga butuh proses yang lama dari pertama kali terkena tetesan air  sampai terjadi pelapukan pada bidang kertas dan gips nya, jadi gak masuk akal rasanya kalo sekali kena tetes air pada hari itu juga langsung ambrol” terangnya.

Ia juga sedikit memberikan gambaran bahwa, Plafon type akustik jauh lebih safety untuk gedung rumah sakit terutama pada intalasi rawat inap dan fasilitas penting lainnya karena perawatannya jauh lebih mudah karena bisa dibuka satu persatu saat ada kebocoran dari atap atau saat maintenance utilitas gedung.

“Mengamati kejadian di ruang inap yang terjadi adalah pasien berhamburan keluar pada saat plafon mulai bergerak jatuh, ini membuktikan bahwa memang sebelumnya ada yang tidak beres dengan kondisi plafonnya. Sudah tahu ada yang bocor kenapa tidak segera diperbaiki? Di titik inilah pengelola gedung lalai dan tidak segera tanggap dengan kondisi salah satu fasilitas di ruang inap nya. Dan kenapa pemilihan bahan finishing plafon pakai gypsumboard yang menyatu kenapa bukan memilih plafon tipe akustik yang punya modul 40×40 atau 40×60 sehingga tingkat safety nya jauh lebih tinggi di fasilitas rawat inap? Karena kalo rusak atau pecah ya cuman 1 modul itu aja yang jatuh, tidak semua plafon seruangan ambruk” tuturnya.

“Keterbatasan anggaran adalah alasan yang tidak bisa diterima untuk perencanaan sebuah gedung rumah sakit. Ini tentang keselamatan jiwa pasien dan nakes di dalamnya bos,” tegasnya.

” Saya perhatikan juga struktur rangka plafon yang segitu panjangnya tidak ada main leader frame nya, praktis rangka tersebut hanya menumpang kekuatannya di struktur atap dengan cara di gantung, ini fatal karena di perhitungan struktur gedung beban plafon tidak ada dalam perhitungan struktur atap gedung, harusnya struktur plafon ini berdiri sendiri dan bebannya dialirkan lewat ringbalk dinding”. katanya dengan tanda imoji ketawa.

Fery juga menegaskan bahwa harusnya semua fasilitas rumah sakit wajib pakai tipe akustik.  karena kemudahan maintenance saat ada perbaikan plumbing, kelistrikan maupun ducting AC. Saya lihat juga kok di area plafon tersebut tidak terlihat springkle dan intalasi perpipaan pemadam kebakaran nya yang lumrah dan wajib ada di setiap gedung fasiltas umum apalagi ini rumah sakit yang notabene tempat menyembuhkan orang sakit? Ini jauh lebih fatal lagi karena ini menandakan bangunan tersebut sangat tidak aman,” ujarnya dengan tanda imoji menangis.

“Tidak adanya sistem pemadam kebakaran general selain APAR, pemilihan finishing arsitektural seperti plafon, keramik yang licin pada area sirkulasi dan evakuasi, menghilangnya hand railing pada ramp, dan kemiringan ramp yang curam cukup membuktikan bahwa System Keamanan Gedung ini hampir 0%, Gedung Baru Instalasi Rawat Inap ini menurut saya hampir Tidak Layak Pakai karena membahayakan pasien, nakes dan petugas yang beraktifitas di dalamnya,” tuturnya.

” Kabarnya juga gedung intalasi rawat inap ini dibangun sendiri oleh pihak RSUD dan. tidak melibatkan cipta karya sebagai stake holder yang ahli perencanaan dan pembangunan Pemkab Sumenep. Lalu siapa yang mengasessment perencanaan dan pelaksanaan pembagunan gedung tersebut?, Ini penting karena asessment itu berfungsi sebagai kontroling terhadap standarisasi  bangunan rumah sakit sesuai dengan peraturan gedung dan peraturan kementerian kesehatan tentang sarana dan prasarana fasilitas kesehatan” tandas dia.

Seharusnya, Sambung dia, bangunan gedung dengan fasilitas super komplek seperti rumah sakit punya divisi khusus manajemen gedung yang tugasnya mengontrol secara rutin dan memperbaiki segera bila ada kerusakan. ” Seperti nya RSUD kebanggan kita ini belum mempunyai pengelola gedung seperti itu,” imbuhnya.

Dilansir dari okidaily.com hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Keris sejak siang hinga sore hari mengakibatkan kejadian yang tak dapat terhindari pada salah satu ruangan rawat inap di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Intensitas hujan beserta angin yang tak seperti biasanya itu, membuat plafon yang terdapat di ruangan rawat inap bagi pasien bedah dan anak RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, ambrol pada Rabu sore kemarin.

Salah satu pasien yang tengah menjalani rawat inap di ruangan tepat, terjadi plafon ambruk, sempat mendengar suara bergemuruh dari atas langit-langit dan mengira sedang terjadi gempa bumi.

” Awalnya saya kira mau ada gempa bumi, ternyata atap yang rubuh,” ujar salah satu pasien yang berhasil keluar dengan selamat dari ruangan tersebut.

Pasien yang tidak ingin disebutkan namanya itu mengatakan, pasien-pasien sempat panik awalnya. Tetapi kemudian berangsur hilang karena tanggapnya penanganan dari RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Beruntung, dalam kejadian yang tidak dapat disangka-sangka tersebut, tidak menimbulkan korban jiwa dari 17 orang pasien yang dirawat di ruangan yang berada di lantai dua RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Seperti yang disampaikan Arman Endika Putra, Humas RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Ia menerangkan, kejadian ambruknya plafon ruang rawat inap itu berlangsung pada sore hari sekira jam 4-an dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya

” Pasien dirawat 17 orang 1 rencana pulang Alhamdulillah ndak ada korban jiwa,” jelas Arman Endika Putra, lewat WhatsApp, Rabu (9/2) petang.

Kini, lanjut Humas RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dari 17 pasien bedah dan pasien anak yang berada di ruangan yang atapnya ambrolnya ambrol telah dipindahkan ke ruangan lain. “Pasien dievakuasi ke ruang anyelir tepat dibawah,” sambungnya.

“Pihak RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan atas peristiwa ini,” tutup Arman Endika Putra.@qib).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here