Ketua RAPI Nasional “Pilih Ketua RAPI Berdasarkan Hati”

0
123
Ketua RAPI Nasional Rizal Fahrial menabuh gong tanda dibukanya Musda RAPI Jawa Tengah.

Semarang.panjinasional.net – Ketua RAPI Nasional Rizal Fahrial meminta agar RAPI meminta agar dalam memilih ketua, anggota menggunakan hak pilihnya berdasarkan suara hati. Dengan landasan suara hati dalam menentukan pilihan tersebut kinerja yang dihasilkan akan lebih terarah dan lebih berkah.

“Tetapi kalau memilihnya ketua berdasarkan akal semata, rentanitas terhadap penyalahgunaan wewenang sangat besar,” kata Rizal ketika memberi sambutan dalam acara Musda RAPI wilayah 11 Jawa Tengah Sabtu, (23/10/2021). Musda RAPI Jawa Tengah akan digelar selama 2 hari yakni 23-24 Oktober 2021 di Hotel Grasia Semarang.

Rizal Fahrial yang hadir bersama waket 1 dan 2, sekum dan wasek serta bendum,  itu berpesan agar dalam menentukan pilihannya benar-benar memahami rekam jejak ke 4 kandidat. Sekali salah pilih, akibatnya bisa dirasakan 5 tahun mendatang. Apalagi organisasi RAPI adalah organisasi sosial kemasyarakatan. Meski demikian, lanjutnya, RAPI tetap dituntut bekerja secara profesional.

Rizal menambahkan kalau dirinya bersama dengan pengurus naaional yang lain berkeinginan untuk segera mewujudkan rumah atau sekretariat sendiri dengan membeli tanah terlebih dulu.   “Karena itu di masa kepemimpinan periode sekarang ini, pengeluaran diperketat, agak pelit menggunakan uang rakyat. Ya katena keinginan mewujudkan rumah sekretariat itu,” kata Rizal.

Sementara itu senior RAPI Jateng Achmad Sudarjo mengatakan dimasa kepemimpinan daerah Jateng dulu, prestasi, loyalitas dan dedikasi, sangatlah mudah didapat dan nyaris tak tercela. Namun sekarang meningkat menjadi profesionalisme, akuntabilitas dan transparansi.

“Dan kesemuanya itu harus dikoordinasikan dengan cermat dan tepat. Kami sadar untuk mewujudkan transparansi, akuntabelitas dan profesionalitas, itu sangat sulit. Sangat diperlukan figur orang yang tepat untuk menyandang ketua RAPI dan harus menguasai teknologi komunikasi,” jelasnya.

Menurut pria yang sudah berusia 80 tahun ini, terdapat falsafah kepemimpinan Jawa yang masih relevan digunakan hingga saat ini. Yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani.

“Seseorang ketika menjabat hendaknya meneladani falsafah tersebut. Ketika ia di depan, menjadi tauladan. Ketika di tengah, bekerja dan berkarya. Dan ketika di belakang, memberikan dorongan. Dengan mengacu falsafah ini saya yakin keadaannya akan kondusif dan timnya akan bekerja secara baik dan benar,” katanya. (Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here