Habib Umar Al-Muthohar: Santri Harus Siap Jaga NKRI

0
16

Semarang. Panjinasional.net – Dai Semarang Habib Umar Al-Muthohar menjelaskan santri adalah personal yang siap membangun relasi dengan para kyai atau ulama dalam kondisi apapun. Selain itu, santri juga siap menerima arahan dan menjalankan bimbingan  para kyai atau ulama.

“Disebut santri kalau mereka selalu membangun relasi dengan kyai. Tidak hanya membangun relasi sesaat untuk suatu kepentingan,” kata Habib Umar Al-Muthohar ketika memberi mauidhoh hasanah dalam acara Istighosah di Ruang Sholat Utama Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (22/10/2021). 

Istighosah yang menjadi salah satu rangkaian memperingati Hari Santri Nasional (HSN), itu dihadiri Ketua PP Prof Noor Achmad MA, KH Hanif Ismail Lc, KH Achmad Hadhor Ihsan,  jajaran PP MAJT, RISMAJT, sejumlah perwakilan organisasi keagamaan, wartawan, dan lain-lain, dengan tetap mematuhi ketentuan protokol kesehatan. Sebelum Istighosah, panitia HSN juga menggelar upacara bendera di halaman MAJT.  Diikuti seluruh karyawan dari berbagai divisi dengan Inspektur Upacara Ketua PP MAJT Prof Noor Achmad MA. 

Kyai Muthohar menjelaskan banyak kejadian yang berkaitan dengan kepentingan termasuk terutama kepentingan politik. Sesudah kepentingannya tercapai, jelasnya, melenggang tak menghiraukan lagi rajutan silaturrohim yang dibangun dengan kyai atau ulama.

Seorang Santri, lanjutnya, selalu mendengarkan arahan dan bimbingan para Kyai. Karena itu, hidupnya lebih terarah dan tidak mudah diombang-ambingkan keadaan duniawi.

“Dengan mendengarkan arahan dan bimbingan kyai, santri setelah sukses dalam kehidupan sosialnya, baik sebagai pengusaha, pejabat, public figure maupun  karyawan biasa, tetap saja santri membangun relasi dan mendengarkan arahannya. Membangun relasi dengan kyai tidak hanya sesaat, melainkan kontinyu berkelanjutan,” kata Habib Umar Al-Muthohar.

Habib Umar menjelaskan ada 4 pilar kehidupan sosial sebagaimana disampaikan Ali bin Abu Tolib. Pertama, orang alim yang mau mengamalkan dan membagikan ilmunya kepada orang lain. Kedua, orang yang mau selalu belajar atau mengkaji sesuatu yang belum ia pahami. Ketiga, orang yang mau menasarufkan hartanya untuk kemaslahatan ummat. Keempat, orang faqir yang tetap kuat imannya.

Dengan berada di salah satu pilar itu saja, lanjut Habib Umar, konstribusi seseorang sudah cukup besar dalam rangka ikut menata keamanan dan kenyamanan sosial masyarakat. “Kyai itu penjaga keimanan, polisi penjaga keamanan. Lha kalau masyarakat terutama  para santri tetap berpegang teguh pada kesantriannya, klop lah kondisi masyarakat. Apalagi santri selalu siap berada di posisi manapun. Pasti aman, tenteram dan terkendali,” tandas Habib Umar Al-Muthohar sambil berpesan santri harus siap jaga NKRI..(Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here