Mengukir Memorial Kepemimpinan Sosok Budi Wahyudin Syamsu Di HUT Kemerdekaan Ke’76

0
39
Budi Wahyudin Syamsu Ketua Umum Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia

Panjinasional.net – Mendalami dan berdiskusi dengan sosok panutan yang jumawa berbagai pemahaman teori hingga teknik langkah berorganisasi, khususnya dunia jurnalistik ada pada Budi Wahyudin Syamsu Ketua Umum Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI). Perjuangan dan sepak terjangnya dalam memperjuangkan lembaga AWDI patut diapresiasi sebagai pemimpin yang bisa di teladani.

Apa yang menjadi pakem dan pakerten dibalik kebijakan dan komando yang baik, ini hasil diskusi langsung dengan sosok Pimpinan Budi Wahyudin Syamsu.

“Menjadi Pemimpin itu tidak mudah, dan tidak datang dengan tiba-tiba, Pemimpin itu harus berproses dari Perjuangan dan amanah yang di embannya, karena disitu ada campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa dan langkah Perjuangan yang semata bukan untuk kepentingan diri” ujarnya membuka diskusi dengan beberapa jajaran pengurus AWDI di Jakarta.

  Sebagai Pemimpin yang baik dan bijak adalah pemimpin yang mengerti dan memahami konsep kepemimpinan, menulis, berpikir dan bicara tehnik diatas kertas pemikiran kerja serta pemikiran yang digagas dalam bekerja, dikerjakan dengan penuh tanggungjawab baik dilapangan langsung untuk melakukan dan mengevaluasi pekerjaan di bawah, bukan harus dilayani tapi juga harus menjadi pelayan dalam berorganisasi.

  Pemimpin yang belum baik dan bijak itu juga banyak kita dapatkan ketika dia duduk sebagai pemimpin, hanya menerima laporan dari bawah tanpa chek n richek mengandalkan teori diatas kertas berteriak dengan telunjuknya.

  Sebaliknya, ada pemimpin yang hanya pandai bekerja tanpa teori tanpa perhitungan tak mau berbagi ilmu tak mau musyawarah alias diktaktor, dan semaunya saja. Maka hasilnya kedepan bisa menuai masalah yang tidak baik.

  Jadi Pemimpin itu dapat kita lihat hasil kerjanya hasil pencapaianya. Karakternya kharismanya dan kebijakanya sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.

  Pemimpin itu harus bisa menghadapi kritik, kebal terhadap kritikan masukan serta ocehan para pihak yang tidak suka pada pribadinya, karena tidak suka kalau orang tersebut duduk sebagai Pemimpin.

  Pemimpin yang benar saja tetap disalahkan, apalagi salah mungkin akan di jatuhkan oleh lawan lawan politik nya, itulah resiko dan pertarungan seorang pemimpin..

Melanjutkan diskusi ala Budi Wahyudin Syamsu dengan gaya kesederhanaan,, Karenanya seorang pemimpin itu harus melewati segala rintangan, siap di godok di kawah Chandradimuka, agar dia kuat gagah berani mengambil sikap langkah dengan keputusan yang bijak dan telah di perhitungkan. Memiliki Perasaan yang kuat, memainkan peran Alam bawah sadar yang tinggi yang menyatu pada Raganya, hingga kadang Sensitif bahkan menangis saat merenung dengan kesalahan apa yang diperbuat, atau melihat situasi yang benar benar kompleks, kadang ada yang menarik dari akal yang belum bisa diterimanya.

   Pemimpin memang harus amanah, Pemimpin juga harus bijaksana mengambil langkah dan sikap terhadap kelakuan dan kinerja bawahanya. Adil mengambil keputusan, berkarakter kuat sekuat-kuatnya tanpa ada pengaruh dan intervensi.

   Mari saudara ku sebangsa dan setanah air, kita tengok sejarah kebelakang terhadap para pemimpin kita yang telah mengukir sejarah, yang telah kita tahu dan rasakan bersama dari Apa yang telah Beliau Perbuat demi Bangsa ini, bahkan penghianatan terhadap Rakyatnya.

Kita semua tahu, rakyat pun telah cerdas untuk melihat apa yang dilihatnya, untuk mendengar apa yang di dengarnya serta melihat bukti apa apa yang telah dilakukan dan di kerjaannya.

Pesan penuh makna dari Budi Wahyudin Syamsu,, Untuk itu Jadilah pemimpin apapun itu terpanggil untuk berbuat ibadah dan kebaikan, hingga manfaat dapat dirasakan. Jangan jadi pemimpin yang merusak, yang kerap melakukan tindakan di luar batas, karena itu akan berpengaruh pada kehidupan dan sejarah yang tidak baik, tidak sekarang mungkin dimasa yang akan datang.

   Jangan jadikan kepemimpinan untuk merusak persatuan dan kesatuan serta memecah belah persaudaraan dan kebhinekaan. Jadikan Pengalaman yang lalu itu bagian dari sejarah dan pelajaran. Tanamkan kebaikan.

   Generasi Muda adalah penerima Estafet kepemimpinan, Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya. Seperti rentak bait syair lagu Indonesia raya. 

   Persiapkan ilmu terus menulis terus belajar terus berkarya hingga kelak kau akan gantikan siapapun yang duduk di singgasana itu. Sebab pada dasarnya siapapun dia adala Pemimpin. Dirgahayu AWDI, Dirgahayu Republik Indonesia ke 76 tahun 2021,@gt..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here