Otoriterisme Pengajar Sekolah

0
29
Anung Hidayah wali murid saat diwawancarai persuasi tv

Panjinasional.net – Permasalahan Pendidikan Indonesia atau bahkan dunia saat ini mengalami suatu lompatan yang cukup besar dikarenakan adanya Pademi Covid-19, dimana system belajar mengajar melalui system jarak jauh dengan online intenet baik zoom, google meet, maupun aplikasi whatsapps dan lainnya. Namun sepertinya hal ini menjadi kendala dan tidak dimengerti oleh semua pengajar diberbagai level pendidikan.

Seperti yang terjadi oleh Orang tua murid izzadien yang bersekolah di sebuah SDN di Bogor, dalam wawancara yang dilakukan oleh Perusasi di Youtube Bapak Anung selaku orang tua yang resah dengan keadaan anaknya yang dibebani oleh banyaknya tugas, seperti yang diungkapkan yang bersangkutan dalam wawncara tayangan di Chanel Youtube Persuasi https://www.youtube.com/channel/UCZ8ZWXPjzJT6UM_zIr9GfbQ/featured

Menurut Anung dikutip saat berbincang dengan pursesitv “Sebenarnya cuitan saya ini berangkat dari kekecewaan, atas sikap Guru anak saya, yang saya rasa sangat arogan dalam menyikapi sebuah masukan dari saya selaku wali murid, dimana sikap arogansi itu ditunjukan dari kalimat-kalimat yang disampaikan pertama dari kata “”jangan protes”” ini kata-kata yang disampaikan oleh guru tersebut dalam whatsapps group kelas anak saya, dan di kelanjutan atas komunikasi itu nomor atau akun anaknya yang ada di group kelas tersebut dikeluarkan.” Ujar Anung.

Masih Anung yang bernada curhat alias Pengaduan, “Hal ini cukup membuat shock istri saya yang selalu memantau perkembangan belajar mengajar anaknya. Dikarenakan tidak lagi berada dalam group whatsapps kelas tersebut, dan akhirnya anak saya kehilangan informasi dan hak belajarnya”.

Sedangkan dalam selebaran Surat edaran No.4 tahun 2020 kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia jelas, bahwa proses belajar selama pademi Covid-19 dilakukan melalui pembelajaran daring tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, hal ini tercantum dalam point 2.A dari Surat edaran menteri tersebut.

Masih Anung, “Dalam kasus ini, saya tidak ingin men-jeneralisir (sama ratakan) semua pengajar, karena adiknya Izzadien yang kelas 3 juga disekolah yang sama, namun mendapatkan pengajaran yang cukup baik dari gurunya, dan kami malah sangat terbantu dengan metode pengajarannya, untuk Izzadine yang kelas 4 SD ini hingga kami sangat kewalahan, karena sehari-hari hanya memberikan tugas-tugas tanpa ada penjelasan materi, sehingga kami juga kesulitan dalam mencari referensi untuk menjelaskan materi tersebut itu”.

Anum kembali menjelaskan “Kami selaku orang tua juga semakin kewalahan ditengah pandemi ini, dimana kami juga sekeluarga harus berjuang dalam pemenuhan kebutuhan, sementara adanya PPKM yang harus kami jalani membuat aktivitas juga tidak dapat dilakukan seperti biasanya. Dapat diketahui kapasitas kami yang tidak memiliki basic pengajar dan juga hanya lulusan SMA sangat banyak menemukan benturan dan masalah saat kami mencoba memberikan pemahaman soal materi pelajaran yang disampaikan, tidak jarang kami terkadang bingung saat melihat anak kami kesulitan dalam menangkap apa yang kami maksud dan sampaikan, dan ini berefek pada sikap anak kami mungkin juga psikologisnya  begitu juga kami sebagai orang tua,

Kami juga heran sebenarnya untuk mengetahui, apa pencapaian yang disasar (gugus mutu) oleh guru anak kami  dengan metode pembelajaran seperti ini, karena akhirnya kamilah sebagai orang tua yang menyelesaikan dan menjawab tugas-tugas anak kami sehingga persoalan anak kami, memahami atau tidak soal materi pelajaran yang disampaikan akhirnya menjadi tidak terlalu penting, ini juga yang menjadi kekhawatiran kami sebagai orang tua,

Kami selaku orang tua juga akhirnya mencari tahu, apakah tugas  yang diberikan kepada anak saya itu wajar, ternyata tetangga kami yang saat ini anaknya kelas 5 tidak seperti itu, walau berbeda sekolah.  Saya merasa hal ini sudah diluar tingkat kewajaran, apabila setiap hari siswa diberikan tugas 5 lembar LKS dan 5 lembar buku paket terkadang lebih, meskipun tidak semua berisi soal, tapi ada beberapa yang harus dibaca, dicatat dan dipahami, namun hal ini juga yang akhirnya menjadi problem bagi kami saat mencoba meberikan pemahaman tapi kami kesulitan menemukan cara yang mudah untuk cara penyampaian yang pas untuk mudah dipahami, akhirnya kami yang menjadi anak sekolahnya bukan anak kami.”.

Lanjut Anung, Mohon dapat dipahami dari thread atau press release saya ini, saya buat sama sekali tidak bermaksud untuk mem-framing profesi guru, dan sampai detik ini saya masih melindungi nama baik sekolah dan privasi guru yang dimaksud,  agar tidak menjadi masalah baru ketika terjadi sanksi sosial dari pemberitaan ini, biarlah saya sebagai kepala keluarga yg menangung beban dari tanggapan yang beragam, karena saya yakin bila itu terjadi itu akan menjadi tekanan psikis yang luar biasa bagi sang guru maupun sekolah anak saya”.

Untuk dapat diketahui, agar tetap mendapat informasi dan pengajaran dari sekolah istri Anung berusaha meminta memasukan nomornya dari wali murid lain yang menjadi admin di group whatsapps tersebut, hal itu dlakukan agar hak anaknya tetap bisa mndapatkan pendidikan seperti siswa yang lain,.

Sengaja kami meminta memasukan nomor istri saya agar tidak di keluarkan lagi oleh guru tersebut, hal ini semata-mata agar anak kami dapat terus belajar dan tidak tertinggal, sangat kasihan nanti mental anak saya jika berbeda  dengan yang lain. Lanjut Anung.

Jauh dari semua itu, berharap pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kab. Bogor semoga dapat lebih memperhatikan kondisi proses PJJ yang diberlakukan selama pandemi, mungkin dapat ditemukan formula atau teknis yang baku agar tidak seperti,, diserahkan sesuai kemampuan dan improvisasi dari masing-masing pengajar, yang acuannya sudah jelas dari edaran surat edaran menteri.

Lanjut Anung “Untuk dapat diketahui, agar anak kami tetap mendapat informasi dan pengajaran dari sekolah,(maaf tidak menyebutkan nama sekolahnya) istri saya meminta memasukan nomornya dari wali murid lain yang menjadi admin di group whatsapps tersebut, hal ini kami lakukan agar hak anak kami bisa mendapatkan pendidikan hingga tidak mengalami kendala.”, Anung Hidayah wali murid dari Izzadien.

Redaksi Panjinasional sengaja tidak menyebut nama sekolah dan nama guru, sesuai etika jurnalistik maka akan dilakukan konfirmasi sehingga pemberitaan seimbang.,@yoss.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here