Keluh Kesah Pedagang Sapi, Modal Ngutang Dagangan Tidak Laku

0
89
Atas: Jaket merah Pedagang Sapi Kabupaten Sumenep, Suda'e, saat dikonfirmasi oleh awak media.. Bawah: Ilustrasi nasib Sapi Qurban

Sumenep, Panjinasional.net – Kebijakan pemerintah Kabupaten Sumenep menutup sementara waktu pasar hewan selama penerapan Perbelakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, nampaknya mulai berdampak terhadap penghasilan para pedagang sapi di wilayah Kabupaten Sumenep.

Pasalnya, salah satu pedagang sapi di wilayah Kabupaten Sumenep mulai berkeluh kesah, karena kebingungan untuk menjual/memasarkan sapi dagangannya (sapi kurban) kepada masyarakat yang membutuhkan sapi untuk kurban ataupun para pembeli lainnya.

Seperti yang dialami, oleh Suda’e, salah satu pedagang sapi di Kecamatan Lenteng. Dia mengaku selama 1 minggu terakhir ini tidak ada satupun sapi dagangannya yang laku akibat pasar hewan di wilayah Kabupaten Sumenep ditutup.

” Ada 5 ekor sapi dagangan saya nak, rata-rata harganya diatas 14 juta rupiah, tidak ada satupun yang laku, akibat pasar hewan ditutup,” kata Suda’e kepada media www.panjinasional.net ini. Sabtu malam (18/07/2021).

Lanjut Suda’e, saya bingung mau memasarkan sapi dagangan saya ini dimana? Mau dijual/dipasarkan secara online saya tidak bisa mengoperasikan HP (Gaptek). Ditambah lagi modal yang digunakan untuk membeli sapi dagangan ini saya pinjam.

” Kalau sampe lebaran haji pasar baru dibuka, yang ada saya pasti rugi nak. Karena harga sapi setelah lebaran itu lebih murah daripada sebelum lebaran haji,” ujarnya.

Ia juga mengaku selama pasar hewan ditutup, belum ada satupun petugas dari pemerintah Kabupaten Sumenep yang datang kepada dirinya untuk didata sebagai penerima bantuan sosial.

” Belum ada bantuan apapun, seandainya ada mungkin bisa sedikit meringankan beban kebutuhan hidup keluarga. Karena selama pasar ditutup saya tidak ada pemasukan sama sekali. Mau ke pasar Lenteng ditutup, ke Rubaru ditutup, ke pamolokan ditutup. Tiap hari saya hanya mencari rumput untuk pakan sapi dagangan saya,” keluhnya.

Di sisi lain Ketua Paguyuban Pedagang Sapi Kabupaten Sumenep, Sami’udin, saat dikonfirmasi oleh awak media ini, merasa kasihan dengan kondisi para pedagang sapi di Sumenep.

Ia menyampaikan, rata-rata pedagang sapi di Sumenep tidak bisa menggunakan HP, sehingga para pedagang sapi tidak bisa memasarkan sapi secara online. Kendati demikian, transaksi penjualan sapi/kambing itu tidak bisa secara online.

” Kalau cuman pemasarannya mungkin bisa, tapi kalau untuk transaksinya, penjual dan pembeli harus ketemu. Karena apa, para pembeli itu khawatir sapi yang mereka beli itu cacat atau lain semacamnya jika tidak melihat secara langsung,” kata Sami’udin, kepada media ini. Sabtu malam (18/07/2021) melalui sambungan selulernya.

Selain itu, lanjut pria yang akrab disapa Udin itu, mayoritas modal yang digunakan oleh para pedagang merupakan pinjaman jangka pendek. Jika dalam waktu yang singkat ini para pedagang sapi/kambing tidak bisa menjual dagangannya, mereka akan mengalami kerugian yang cukup besar.

” Kalau pasar hewan di sumenep ini akan dibuka setelah lebaran haji atau setelah masa PPKM Darurat selesai, otomatis harga sapi akan lebih murah. Karena harganya akan menjadi harga biasa. Sementara para pedagang sapi dan kambing itu sudah nyetok barang dagangan cukup banyak,” ujarnya.

Dari awal, sambung dia, saya tidak setuju dengan kebijakan pemerintah yang menutup pasar hewan selama PPKM Darurat ini. Karena keputusan tersebut merupakan kebijakan yang sepihak. Pada saat saya meminta solusi dari penutupan pasar hewan ini, pemerintah Kabupaten Sumenep hanya bilang sabar, dan menyuruh jualan online.

” Enak sekali mereka ngomong begitu, sementara nasib para pedagang sapi berada di ujung tanduk. Jika dagangan mereka tidak laku sebelum lebaran haji maka mereka akan mengalami kerugian yang cukup besar, terus siapa yang peduli?,” tegas dia.@dar/qib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here