Ketua Pelaksana Bantuan Hibah Gubernur Sebutkan, Dana 1,5 Miliard Tak Cukup Untuk Pembuatan Kapal Nelayan

0
53
Keterangan Foto, Tengah: Ustad Nuruz Zaman

Sumenep, Panjinasional.net – Persoalan bantuan dana hibah Provinsi Jatim/Gubernur Jawa timur yang dikucurkan ke Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Ulum, Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, pada tahun 2020 lalu, terindikasi tidak sesuai dengan peruntukannya, mulai mendapat respon dari ketua panitia pelaksana.

Menurut Ustad Nuruz Zaman, selaku Ketua panitia pelaksana kegiatan mengatakan, dana hibah Gubernur Jawa Timur yang diterima  Yayasan Ponpes Miftahul Ulum itu digunakan untuk kegiatan pengadaan kapal penangkap ikan (kapal nelayan).

” Saya sudah ngomong di media, kalau bantuan itu untuk pembuatan kapal nelayan, kalau pabrik es itu tidak ada. Dan proposal yang saya tandatangani itu pembuatan kapal,” katanya. Rabu (14/7/2021) di ruang kerjanya.

Informasi awal kegiatan bantuan dana hibah gubernur tersebut memang untuk kegiatan pabrik es. Tapi selang beberapa hari setelah deal ternyata kegiatannya berubah menjadi kapal nelayan.

” Saya bilang ok deal gak apa-apa pembuatan kapal. Kenapa saya tetap menerima bantuan itu, karena saya mempunyai teman yang mengerti soal kapal, kalau saya kan gak tahu masalah kapal,” paparnya.

Pembuatan kapalnya itu, di pekalongan, lanjut dia.

Tapi yang tahu pasti soal proses pelaksanaanya adalah teman saya Zein orang pamolokan, dia team saya di bawah.

” Saat ini kapalnya masih berlayar di laut bagian utara. Kalau sampean bertanya dimana kapalnya saya gak tahu dimana, karena kapalnya belum nyandar,” ujarnya.

Namun anehnya, saat yang bersangkutan ditanya siapa yang mengoperasikan dan dimana tempat penyandaran kapal yang diklaimnya itu? Ustad Nuruz Zaman kembali mengatakan jika yang tahu persoalan kapal tersebut adalah teamnya.

” Seperti yang saya sampaikan tadi, saya dibawah ada team, itu yang pegang (tahu) semuanya,”jawabnya.

Pada saat kembali ditanya, bagaimana mekanisme pengelolaan dari kapal nelayan tersebut? ustad Nuruz malah enggan untuk menjawab pertanyaan dari awak media.

” Jangan dulu lah. Sampean bertanya, saya kan punya hak tidak menjawab. Tapi yang jelas bantuan itu sudah saya terima dan sudah beres. Ini malahan sebelum SIP nya keluar, ketua apanya yang disana itu minta tambahan lagi 500 juta untuk pembelian fiber. Tak cukup sebenarnya dananya,” tukasnya.

Disisi lain, Zein yang disebut mengetahui betul proses pembuatan kapal nelayan dari dana hibah gubernur tersebut mengaku, jika dirinya hanya sebatas pengelola kapalnya saja. Karena pihak Yayasan tidak tahu soal nelayan.

” Dan kebetulan saya mampu untuk mencari nelayan yang akan mengoperasikan kapalnya itu. Sementara nelayan di Sumenep itu kan gak ada yang mau berbulan-bulan ditengah laut, hanya nelayan pekalongan, tuban dan tegal yang biasa/senang menangkap ikan di laut sampai berbulan-bulan,” kata Zein saat dikonfirmasi oleh awak media ini di rumahnya. Jum’at (16/07/2021).

Namun setelah awak media ini menilai ada yang aneh dengan pernyataan ustad Nuruz Zaman, yang mengatakan dana 1,5 miliard tidak cukup untuk pembuatan kapal nelayan tersebut. Zein langsung membenarkan apa yang di sampaikan ustad Nuruz Zaman.

Menurut Zein, kapal nelayan yang dibuat oleh Yayasan Miftahul Ulum di pekalongan itu menghabiskan dana hampir 2,5 M dengan speck 30 GT.

” Coba di chek di google, kapal nelayan yang 30 GT itu harganya 3 M lebih. Karena saya dan teman-teman, bukan saya tapi teman-teman itu buat sendiri di pekalongan maka kapal tersebut menghabiskan dana hampir 2,5 M,” tuturnya.

Lanjut Zein, untuk pembelian jaring ikannya saja sudah 850 juta, untuk pengecoran kapalnya di dalam itu menghabiskan dana 150 juta. Sementara dari provinsi hanya memberikan 1,5.

” Kalau 1,5 itu hanya untuk kapal dan mesinnya saja, tidak sampe beroperasi kapal itu. Jadi untuk menutupi kekurangannya kita dan teman-teman itu swadaya,” ujar dia, namun tidak disebutkan teman-temannya itu siapa?

Disinggung bagaimana mekanisme dari pengelolaan kapal tersebut? Zein juga enggan menjawab pertanyaan dari awak media. Menurut dia, persoalan tersebut merupakan urusan dirinya dengan pihak Pesantren Miftahul Ulum.

” Itu urusan saya dengan pesantren, pihak luar tidak perlu tahu. Yang penting bantuan hibah tersebut sudah digunakan. Dananya sudah habis dan kapalnya ada dan sudah beroperasi,” tukasnya.

” Terkait by name by addresnya, biar lebih jelas silahkan konfirmasi ke pemerintah provinsi jatim. Tapi yang jelas pesantren miftahul ulum itu tidak ada menerima bantuan pabrik es,” tukasnya.@dar/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here