Pemberitaan Covid Bernarasi Positif Sangat Diperlukan untuk Membangun Optimisme

0
41
Ketua PWI Jateng H Amir Machmud NS (kiri) dan KH Achmad Darodji, ketika menandatangani Naskah Seruan.

Semarang. www.panjinasional.net – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah menyerukan bersama agar dalam pemberitaan Covid-19 media massa dan media sosial memberikan penonjolan narasi positif. Harapannya agar masyarakat terjauhkan dari traumatika berkepanjangan di tengah kondisi Covid-19 yang masih mengganas.

Seruan bersama tersebut diwujudkan dalam bentuk naskah dan ditandatangani Ketua PWI Jawa Tengah H Amir Machmud NS, SH MH dan Ketua Umum MUI Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji MSi, di Studio TVKU, Senin (12/7/2021). 

Naskah yang berisi 4 butir seruan itu dibacakan oleh Ketua Komisi Infokom MUI yang juga Wakil Ketua bidang organisasi PWI Jawa Tengah H Isdiyanto Isman. Isinya antara lain pertama, media tidak memblow-up berita dan informasi Covid-19 dengan narasi-narasi yang berpotensi memunculkan trauma di kalangan masyarakat, melainkan dikonstruksikan menjadi berita dan informasi yang cenderung membangun optimisme masyarakat menghadapi pandemi.

Kedua, dalam mengemas berita pandemi, hendaknya menyertakan nurani tertingginya. Butir ketiga,  menghindari hoaks. Keempat, menyerukan agar tokoh masyarakat dan tokoh agama ikut aktif menyosialisasikan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya memutus mata rantai pandemi Covid-19.

Dalam sambutannya Ketua MUI Jateng KH Achmad Darodji menyampaikan keprihatinannya atas penggunaan kata ‘terpapar’ covid. Padahal kata ‘terkena’ saja rasanya juga masih kurang pas apalagi ‘terpapar’.  “Karena itu dalam menyusun berita harus menggunakan nurani tertingginya, sehingga berita yang tersaji tidak menimbulkan rasa trauma di masyarakat melainkan lebih kepada membawa kemaslahatan,” tandasnya.

Ketua PWI Jateng H. Amir Machmud NS menyebutkan pemberitaan yang berlangsung saat ini, tidak bisa dihindari karena memang pemberitaan apapun itu narasinya adalah refleksi yang ada di masyarakat sekaligus merupakan pantulan keseharian yang dialami oleh masyarakat di masa pandemi. “Untuk itu, mau tidak mau realitas -realitas itu harus dibaca, diserap dan ini juga akan mempengaruhi perilaku dan sikap di masyarakat meski sangat memprihatinkan,” kata Amir Machmud.

Sementara itu, dalam webinar yang digelar usai penandatanganan Naskah Seruan, dukungan terhadap pemberitaan media bernarasi positif terus mengemuka. Hal itu disadari lantaran yang dibutuhkan masyarakat adalah optimisme ke depan.

Hadir sebagai narasumber Wakil Ketum MUI Jateng Prof. Dr Ahmad Rofiq MA, Ketua Bidang Organisasi Hukum dan HAM MUI Jateng Prof Abu Rokhmad Musaki, Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS, Rektor Udinus Semarang Prof Dr Ir Edi Noersasongko MKom dengan Narasumber Kunci Ketua MUI Jateng KH Achmad Darodji.

Ketua Bidang Organisasi Hukum dan HAM MUI Jateng Prof Abu Rokhmad Musaki meminta agar masyarakat lebih menggunakan nalarnya dengan memanfaatkan kewarasannya. Jangan sampai menuruti kebodohan-kebodohannya.

“Kita masyarakat biasa dalam hal ini umat Islam punya peluang untuk memilih berita dan mengajak masyarakat untuk cerdas menggunakan akal pikiran, menggunakan kewarasannya, kita bisa memilih berita yang mencerahkan, berita yang menggembirakan, berita yang bisa menumbuhkan imunitas bukan berita yang membuat psikologis kita jadi malah drop,” katanya.

Wakil Ketum MUI Jateng Prof. Dr Ahmad Rofiq MA, secara prinsip narasi postif itu setuju untuk masyarakat dan harus  secara simultan dilakukan. Pemerintah yang membuat kebijakan itu perlu wisdom ketika menyikapi persoalan-persoalan seperti saat ini. Misalnya, lanjut Prof Rofik, dalam kata PPKM Darurat. Kenapa harus ada darurat, sehingga ini tidak menambah optimisme tetapi mencekam dan seolah-olah menakut-nakuti.

Selanjutnya, Rektor Udinus Semarang Prof Dr Ir. Edi Noersasongko M.KOm menyampaikan pemberitaan negatif ada dua yakni pertama, memberitakan yang bisa menurunkan imunitas dan yang kedua soal berita hoax.

Masyarakat, lanjutnya, ketika mendapatkan berita yang diragukan bisa bertanya ke ahlinya baik dengan PWI maupun ke MUI sesuai topik beritanya. Media massa dan media sosial diharapkan benar-benar menghindari hoaks dalam memberikan  informasi terkait perkembangan pandemi, agar tidak menimbulkan keguncangan dan kegaduhan di tengah masyarakat.(Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here