Isa Ansori: Wawan Kemplo Sang Aktivis Yang Tak Pernah Berhenti

0
46
Rumah terakhir sang aktivis yang tak pernah berhenti, Wawan Keplo

Panjinasional – Isa Ansori tokoh pendidikan jawa timur merasa kehilangan atas meninggalnya kawan seperjuangannya, sesama aktivis Wawan Willy, alias Wawan Kemplo sang aktivis yang tak pernah berhenti berjuang. Inilah sebuah rasa yang kehilangan ditulis dalam laman facebook dikutip oleh www.panjinasional.net:

Pada pagi hari pukul 06.00 Selasa, 29 Juni 2021, saya dihubungi kawan kawan untuk membantu penanganan sahabat aktivis Wawan Willy yang saya kenal sejak tahun 1993 an dengan panggilan Wawan Kemplo.

Saat itu diujung telpon yang saya dengar adalah suara dari Ratna Krak, sahabat aktivis dilapangan dalam berbagai perjuangan diatas tahun 2015 an, beliau berharap saya bisa membantu proses penanganan Mas Wawan Willy dan istrinya Ega agar segera mendapat penanganan.

Kepada Mbak Ratna saya sampaikan adakah kawan yang lebih dekat jaraknya dengan tempat tinggal Mas Wawan Willy, saya akan bantu proses kelancaran di rumah sakit di Surabaya. Hal ini agar Mas Wawan dan istri segera mendapatkan pertolongan pertama. Mbak Ratna langsung mengiyakan dan telpon ditutup. 

Sebentar, setelah telpon Mbak Ratna ditutup, nada panggil di handphone saya berbunyi lagi dan tertera nama Mas Ponang Adji Handoko yang mengabarkan bahwa Mas Wawan sedang butuh penanganan cepat dan butuh segera dibawah ke rumah sakit.

Kepada Mas Ponang saya sampaikan coba dicarikan kawan yang jaraknya dekat dengan rumah Mas Wawan, dan segera bawah ke rumah sakit. Saya sarankan untuk dibawah ke RSAL , Rumah Sakit Dr Soetomo atau RS Soewandhi Surabaya. Setidaknya kepada ketiga Rumah Sakit itu saya mendapatkan pengalaman penanganan yang cukup baik. Sehingga dengan bekal pengalaman itu setidaknya akan mempercepat alur pertolongan. Mas Ponang pun mengiyakan dan saya menunggu telpon selanjutnya dari beliaunya.

Sebentar setelah itu, Mas Ponang telpon kembali dan menceritakan kalau mertua Mas Wawan, Dr Zulkifli, juga mengiyakan dan sudah berkoordinasi dengan sejawat dokternya untuk dibawah ke RSI Jemursari. Sayapun mencoba mengikuti seluruh proses yang sudah dijalankan.

Tak lama kemudian dering telpon berbunyi lagi, Mbak Ratna kabari saya, bahwa sudah meluncur ke RSI Jemursari. Dan sambil sesenggukan, Mbak Ratna bertanya apa yang harus dibawa ke RS?. Yang datang dulu, bawakan air oksigen, vitamin dan buah jeruk, supaya ada yang bisa mengisi lambungnya. Apa yang saya katakan kepada Mbak Ratna adalah pengalaman saya selama menjalani isolasi mandiri.

Sejurus kemudian, telepon dari Cak San, Senior pergerakan yang mengabarkan bahwa Mas Wawan telah tiada dan dengan suara bergetar saya ucapkan Innalillahi wa innailaihi rojiuun, semoga husnul khootimah.

Mas Wawan telah berhenti dan saya yakin perjuangan dan gagasannya yang luar biasa untuk negeri berjuang kembali ke UUD 1945 asli tak akan pernah berhenti. Setelah itu saya juga mendapat kan japri dari Mas Nanang Sundowo, yang mengabarkan Mas Wawan telah pergi dan mohon dimaafkan bila sesuatu yang salah. 

Saya mengenal intens beliau sekitar 7 tahun terakhir, sejak tahun 2013 an, dalam beberapa diskusi pergerakan dan advokasi. Pertama saya intens berdiskusi dengan beliaunya berkaitan dengan Pengembalian Rumah Radio Bung Tomo, kemudian berjuang mengembalikan dibangunnya kembali Masjid As Sakinah kompleks Balai Pemuda Surabaya. Setelah itu atas kepedulian kita kepada Surabaya, Saya bersama Wawan Willy dan Nasir, kawan dalam Keluarga Besar Rakyat Surabaya ( KBRS ) berjuang untuk menjadikan Eri Cahyadi sebagai Walikota Surabaya, sebab waktu tahun 2017, belum ada orang yang mengenal sosok Eri Cahyadi.

Sebagai aktifis, saya dan Wawan berangkat dari jalan yang berbeda, namun kami punya tujuan yang sama, ditahun 90 an kami bersama sama berjuang untuk melawan tirani orde baru.

Jalan takdirpun mempertemukan saya dan Wawan yang berbeda. yang saya tangkap dari sikap Wawan adalah selalu tampil untuk mengorganisasi gagasan gagasan yang berbeda menjadi sebuah bentuk aksi dan tugas saya menterjemahkan dengan detail kegiatan yang terukur.

Saya dan Wawan seringkali menjadi kombinasi yang serasi dalam aksi aksi, sehingga membuat nama KBRS menjadi wadah aksi yang sering diperhitungkan oleh sasaran aksi. 

Sebagai sesama aktivis yang sudah lama berada dilapangan, kedewasaan dan kemampuan menghargai dan mengapresiasi sama sama terbentuk. Sehingga diantara saya dan Wawan jarang terjadi friksi yang terbuka, karena terlatih sama sama bisa menghormati.

Jalan pergerakan dan aksi rupanya harus terhenti, ketika kerja dan kerja sesungguhnya memenangkan Eri Cahyadi mulai dilaksanakan.

Saya merasa harus memilih jalan lain meski tujuannya sama. Karena jalan untuk kerja kerja tersebut kita belum bisa bersepakat. Sayapun memilih jalan perjuangan saya dan Wawanpun lebih memilih bertahan dalam wadahnya untuk berjuang. Saya pun mengorganisir sayap pemenangan Eri Cahyadi dalam wadah Surabaya Ber – 1.

Dan kini … Wawan Willy telah tiada, denyut perjuanganmu masih terasa, saya sangat menghormati pilihan pilihanmu, penghormatan saya terhadap engkau adalah sejarah akan menjadi saksi, masih ada perjuangan selama kita bersama yang belum terselesaikan dan sayapun sudah sejak lama bersepakat dengan Wawan untuk mewujudkannya. Nah kini meski kita memilih jalan berbeda, dan engkau telah tiada, sayapun akan berusaha tetap Istiqomah berjuang mewujudkan gagasan itu dengan cara saya..dan kesempatan itu saya dapatkan lebih terbuka.

Selamat jalan mas Wawan..semoga semangat juangmu menjadi api yang membakar daya juang kami sahabatmu, semoga keluarga yang engkau tinggalkan selalu diberi kesabaran dan ketabahan.

In Memoriam untuk Wawan Willy aktivis yang tak pernah berhenti. Surabaya, 29 Juni 2021 M. Isa Ansori, Sahabat Perjuanganmu***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here