POLDA JATIM GELAR, TINDAK PIDANA ILEGAL AKSES (HACKER)

0
16

Panjinasional.net, Surabaya – Unit ltt Subdit V/Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menggelar konferensi pers Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP-A/26/V/IRES.2.5/SUS/SPKT Polda Jatim tanggal 19 April 2021, tentang tindak pidana mengakses komputer/sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun (llegal akses/hacker) hasil pengembangan setelah ditangkapnya tersangka HTS (Bekasi) selaku penampung data llegal Akses (koordinator) di Bandara Juanda Surabaya, Senin (28 juni 2021).

Sebagaimana yang disangkakan, dimaksud pelanggaran Pasal 32 Ayat (2) Jo Pasal 48 Ayat (2) UU RI No.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan atau Pasal 480 KUHP dan atau Pasal 55 dan 56 KUHP.

Awal kejadian diketahui pada bulan April 2021, Polisi berhasil mengamankan atau meringkus kedua tersangka, penangkapan kedua tersangka berbeda tempat lokasi, yang pertama tersangka berinisial FSR diamankan di Bekasi dan yang kedua tersangka berinisial AZ diamankan di Jakarta.

Sedangkan tersangka FSR sebagai penyedia layanan rekening bersama (rekber). Dalam hal ini tersangka FSR memfasilitasi tersangka HTS (telah ditangkap lebih dulu), kemudian saudara PS (DPO) dalam melakukan transaksi jual beli data CC (Credit Card/kartu kredit) dengan kesepakatan, sebagai berkut:

Tersangka HTS dan Saudara PS sepakat menggunakan rekber, dan Tersangka FSR membuat grup Facebook Messenger “Done’ sebagai sarana komunikasi antara penjual, pembeli, dan penyedia rekber (Rekening bersama).

Kemudian, Tersangka HTS transfer dana ke rekening bersama milik Tersangka FSR, dan lakukan konfirmasi kalau dana sudah masuk ke rekening bersama.

Selanjutnya saudara PS kirim data CC (credit card/kartu kredit), dilanjutkan Tersangka HTS bwrtugas konfirmasi penerimaan barang,.

Tersangka FSR selaku penyedia rekber transfer dana ke Saudara PS, lalu PS konfirmasi apabila dana masuk, Sedangkan FSR menerima komisi sesuai kesepakatan. Kemudian tersangka FSR menghapus grup Facebook Messenger “Done”,.

Selanjutnya tersangka AZ berperan sebagai pengirim data emal (email result) berupa alamat dan password email, dikirim ke tersangka HTS. Jika diakses email tersebut, berisi data pribadi dan data perbankan (data CC) milik warga negara asing, data email dari tersangka AZ termasuk sekumpulan data CC yang ditampung oleh tersangka HTS , selanjutnya diteruskan ke tersangka AD untuk diolah sedemikian rupa.

Awal mula Kejadian, tersangka FSR dan tersangka AZ ditangkap berdasarkan hasil pengembangan dari keempat tersangka, yaitu tersangka HTS, yang sebelumnya telah ditangkap oleh Anggota Unit IIl Subdit V/Siber Ditreskrimsus Polda Jatim di beberapa tempat yang berbeda.

Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka HTS dihubungkan dengan barang bukti yang ada, diperoleh petunjuk yang mengarah kepada tersangka lainnya, yaitu tersangka FSR yang memiliki peran sebagai penyedia layanan rekening bersama (rekber) dan berhasil diamankan oleh petugas di Kabupaten Bekasi.

Tak hanya itu, dari hasil Pemeriksaan terhadap tersangka HTS juga mengarah kepada tersangka lainnya, yang memiliki peran sebagai data email (email result) ke tersangka HTS selanjutnya Petugas mengamankan tersangka AZ di Jakarta.

Peran tersangka FSR adalah sebagai penyedia layanan rekening bersama (rekber), dalam hal ini tersangka FSR memfasilitasi tersangka HTS (telah ditangkap lebih dulu) dan diduga tersangka PS (DPO) dalam melakukan transaksi jual beli data CC (Credit Card/kartu kredit) dengan kesepakatan tertentu. Dan FSR mendapat keuntungan dari transaksi yang telah dilakukan oleh tersangka HTS dan Saudara PS.

Peranan HTS sebagai koordinator, yang telah menampung seluruh data yang diperoleh, kemudian tersangka RS, tersangka RH, dan tersangka AZ yang berperan sebagai penyedia data akun bank, data email serta data CC milik orang lain, selanjutnya oleh tersangka HTS dikirimkan kepada tersangka AD selaku eksekutor untuk diolah menjadi suatu produk yang dapat di uangkan.

Sedangkan tersangka AD selaku eksekutor, dalam hal ini berperan mengolah seluruh data yang dikirim dari tersangka HTS untuk dijadikan kode voucher Indodax yang dapat digunakan dan dikonversikan menjadi mata uang Kripto (mata uang digital ex.bitcoin).

Menurut Kombes Pol Gatot Repli Handoko Kabid Humas Polda Jatim bahwa perbuatan yang dilakukan para tersangka tersebut, yaitu menyediakan data yang digunakan untuk membuat Akun Paxful adalah data milik orang lain, begitu juga dengan data Credit Card (Data CC) dan Akun Venmo yang termuat di dalam Email Result

tersebut adalah data milik orang lain. Dari data akun layanan perbankan Bank Of America yang digunakan sebagai sarana untuk mengkonversi mata uang Kripto seperti Bitcoin dalam Akun Paxful adalah data milik orang lain.

Rangkaian perbuatan tindak pidana ITE para tersangka, yaitu ; memindahkan atau mentransfer

informasi elektronik atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak

berhak. 

Diketahui bahwa, informasi elektronik atau dokumen elektronik yang dikirimkan berisi data pribadi dan data perbankan milik warga negara asing. Dari sejumlah data tersebut, selanjutnya diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan keuntungan prbadi.

AKBP Zulham Effendy Wadirreskrimsus Polda Jatim menambahkan, kedua tersangka merupakan komplotan tersangka HTS. Mereka saling terkait. “Mereka dan komplotannya akan terus kami kembangkan,” ungkapnya.

Zulham menambahkan, dari aktivitas ilegal tersebut, tersangka mampu meraup keuntungan uang ratusan juta, dan polisi masih melakukan pemburuan terhadap pelaku lain yang terlibat dalam kasus ini. “Kami masih mengejar tiga pelaku lainnya,” pungkas Wadirreskrimsus Polda Jatim.

Dari penangkapan tersangka, polisi menyita enam buah ponsel berbagai merek, dua buah laptop dan beberapa akun Facebook. Sedangkan Barang Bukti yang berhasil disita dari tersangka FSR, antaralain ; 1 (satu) buah handphone android, 1 (satu) buah buku tabungan BCA serta 1 (satu) buah kartu BCA, 1 (satu) buah kartu BTPN Jenius, dan Akun Facebook. Kemudian barang bukti yang Disita dari tersangka AZ, antaralain ; 1 (satu) buah handphone android, Akun Facebook.

Atas perbuatannya, para tersangka melanggar Pasal UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika Pasal 32 Ayat (2) Jo Pasal 48 Ayat (2):

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan memindahkan atau mentransfer informasi elektronik atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak”, jo “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan/atau denda paling banyak sebesar Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah)”.

Para tersangka bakal dikenakan Pasal 55 dan 56 KUHP; Dipidana sebagai pelaku tindak pidana ; a) Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan

perbuatan, b) Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja mengajurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya. Yaitu Pasal 56; Dipidana sebagai pembantu kejahatan: 1) Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan, 2) Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.@Rohi..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here