Bos Ferrari Resto Kesal, Bunuh Korban Yang Minta 12Jt/Bulan Plus 2Butir.?

0
130
Kiri: Marsal Harahap korban pembunuhan dan Kanan: Sugito Pemilik Ferrari Resto tersangka

Modus operandi motif pembunuhan oleh pelaku, timbulnya rasa kesal dan sakit hati S selaku pemilik karena korban selalu memberitakan maraknya peredaran narkotika di Ferrari dan korban meminta jatah 12 juta/bulan dan 2 butir /hari dengan harga 250/butir.

Panjinasional, Surabaya – Menjawab tuntutan berbagai tokoh pers media agar kasus pembunuhan jurnalis diusut secara tuntas akhirnya Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak secara jelas memaparkan kronologi kematian Marsal Harahap (42) yang tewas akibat tembakan tersangka A dan YFP. Keduanya bekerja berdasarkan perintah S (57) warga Tionghoa pemilik Cafe dan Resto Ferrari.

Pers conferensi Polda Sumut ungkap kronologi pembunuhan terhadap wartawan

Kasus penembakan Marsal pukul 23.30 di jalan umum Huta 7 Nagori karang Anyar kec Gunung maligas. Atas peristiwa tersebut telah dibentuk tim khusus dan berhasil mengungkap kasus tersebut.

Hasil penyelidikan yang telah memeriksa 57 orang saksi di TKP dari sekitar tempat kerja dan tempat diduga terjadinya tindak pidana, 2 orang saksi disekitar rumah korban, dari tempat kerja lassernews sebanyak 3 orang, 8 orang dari warung tuak, sekitar hotel Siantar 15 orang dan dari TKP 23 orang, dari Ferrari bar n resto sebanyak 5 orang. dikutip dari hasil pers konferensi Polda Sumut oleh media siantar.

Aliansi wartawan surabaya lakukan aksi menuntut pengungkapan kasus pembunuhan jurnalis hingga tuntas

Ditelusuri dari mulai kegiatan korban saat terakhir dan hasil alat bukti berupa cctv sehingga berhasil menangkap 2 tersangka sipil dan A seorang TNI. Tersangka YFP (31) wiraswasta dan humas atau manajer di Ferrari warga jalan melati Tanjung Tongah Siantar Martoba. Tersangka S (57) tahun selaku bos pemilik resto ferrari beralamat di jalan seram bawah Siantar Barat.

Dari sisi perannya orang yang melakukan dan menyuruh melakukan dijerat dengan pasal 340 sub 338 terkait pembunuhan secara berencana dengan ancaman hukuman seumur hidup, kata Kapolda.

Barang Bukti 1 unit mobil korban Datsun Go 1921, parang, kwitansi dari Ferrari bar, sepatu, kemeja ikat pinggang, soft gun hitam, 1 senpi jenis pistol buatan pabrik Amerika 6 butir peluru kaliber 9mm. Honda Vario yang digunakan pelaku untuk menembak korban.

Sedangkan modus operandinya dan motif pelaku, berawal timbulnya rasa sakit hati S selaku pemilik, karena korban selalu memberitakan maraknya peredaran narkotika di Ferrari Resto dan korban meminta jatah 12 juta/bulan dan 2 butir /hari dengan harga 250/butir.

Akibat dari pemberitaan korban, S tidak bisa lagi menjalankan usahanya. Karena pemberitaan oleh korban, maka S alias Sugito meminta bawahannya YFP selaku humas Ferrari Resto agar korban diberi pelajaran dan harus dibedil (ditembak). “Ini orang harus dikasih pelajaran dibedil katanya kepada YFP,” ucap S saat dihadirkan dalam konferensi pers tersebut.

Saat ini Pemilik Resto Ferrari dinyatakan sebagai Tersangka atas pembunuhan Marsal, Pembunuhan sudah direncanakan agar Korban Dibedil.

Perencanaan pembunuhan dimulai dari pertemuan di rumah S dengan mengatakan kepada Y dan A kalau begini orang ini cocoknya di bedil (ditembak). Lalu tersangka alian humas di ferari menindaklanjuti menyusun strategi melakukan pembelajaran. Y dan A bertemu di salah hotel di Siantar 

Pada pukul 14.30 A menjemput Y di jalan Vihara dengan mobil Innova ke kedai tuak rindung memantau korban. Korban menuju Lapo tuak milik ibu Ginting di jalan Rindung. 

Kemudian tersangka Y dan A ke Sapadia meminjam sepeda motor saudara A di Hotel Sapadia. Y membonceng A menuju rumah korban di TKP. Karena korban belum pulang, setelah minum tuak ternyata korban berada di hotel Siantar.

Keluar dari kamar hotel bersama wanita, korban juga bertemu temannya (sudah diamankan) dalam pemeriksaan Polda SatNarkotika di salah satu kamar hotel yang sama.

Melihat korban belum pulang, Y dan A putar arah tapi di jalan berpapasan dengan mobil korban maka Y dan A berbalik arah mengikuti korban dan mendahului sampai di TKP.

“Y dari arah depan bersama A lalu melakukan tembakan mengenai kaki korban sebelah kiri bagian atas tulang kaki dan pembuluh arteri sehingga darah cukup banyak dan kehabisan darah. Akhirnya korban meninggal saat dibawa ke rumah sakit”, jelas Panca.

Lalu Y dan A langsung mengembalikan sepeda motor kepada pemiliknya di Sapadia dan menuju Ferrari minum hingga jam 6 pagi. Sedangkan senpi yang digunakan disimpan Y dan dikubur di makam ayahnya bersama 6 butir peluru. 

Kasus ini telah ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan dengan penetapan 2 tersangka dan A (oknum anggota TNI).

Menurut pengakuan S tersangka, Sebelum kejadian, S mentransfer uang ke A untuk membeli senpi guna eksekusi Rp 15 juta. Pada 19 Juni, S transfer lagi 10 juta ke A dan imbalan 5 jt ke Y dan tambahan 3 juta melalui kasir Ferrari ke Y.

Dalam pengungkapan kasus, kepolisian Polda Sumut bekerjasama dengan Pangdam I BB dan juga LPSK (Lembaga Perlindungan saksi dan Konsumen), jelasnya.@**net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here