Cerita Fikri Anak Freddy Budiman, Sebelum Di Eksekusi Mati Dipaksa Kendalikan Narkoba dari Penjara

0
75
Detik detik menghadapi hukuman mati Freddy Budiman berdoa

Panjinasional, Jakarta – Adanya pengakuan secara eksklusif dari Fikri Anak Freddy Budiman, baru-baru ini yang menceritakan kisah almarhum ayahnya dalam tayangan video bersama Gritte Agatha di Youtube Gritte yang tayang pada 17 Maret 2021.

Mantan gembong narkoba kelas kakap, Freddy Budiman dieksekusi mati oleh regu tembak dari Brimob Polda Jawa Tengah di lapangan tembak Limus Buntu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat, 29 Juli 2016.

Freddy Budiman divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terbukti mengimpor 1.412.476 butir ekstasi dari China pada Mei 2012 silam.

Lima tahun pasca-kematian Freddy Budiman, seorang anaknya yang diketahui bernama Fikri Fernanda Budiman memberikan kesaksiannya melalui tayangan video di channel YouTube Gritte.

Hasil screenshot tayangaan video bersama Gritte Agatha di chanel Youtube Gritte

Fikri menceritakan, saat kunjungan terakhir Freddy Budiman minta kunjungannya dilakukan di kamarnya. Karena ada beberapa obrolan yang ingin dilakukan secara intim. Freddy bercanda ingin memandikan anaknya lagi. Ia tetap tenang tidak seperti orang yang ingin diesksekusi mati. “Gue ngeliat sendiri dia gak ada rasa kesedihan, kayak masih bercanda aja gitu loh,”ujar Fikri dikutip Senin (22/3/2021).

Saat itu, dirinya menangis mendengar tidak lama lagi ayahnya akan dieksekusi oleh regu tembak dari Brimob di Nusakambangan. “Hal yang membuat gua kuat sampai sekarang, pesan papa waktu itu adalah: dedek boleh sekarang nangis sebanyak-banyaknya. Keluarin aja semua tangisan, semua kesedihan dedek keluarin sekarang, setelah papa udah gak ada, setelah dedek keluar dari lapas ini, dedek udah gak boleh lagi nangis, dedek harus jadi laki-laki yang kuat, jadi laki-laki yang punya mental yang kuat dan bisa berjuang di kehidupan ini,”ujar Fikri menirukan pesan ayahnya.

Freddy Budiman saat itu kata dia minta dimundurkan eksekusinya setelah sholat Isya. Sebelum dieksekusi, mereka makan dan sholat Isya berjamaah setelahnya. Fikri pun mengingat dirinya disuapin untuk terakhir kali oleh ayahnya. “Sampe keluar pintu aku teriak “Aku sayang papa” Sebenarnya pengen Fikri mandiin, tapi dilarang akrena takut mempengaruhi psikologi dia. Akhirnya ayahnya sampai dengan kondisi sudah dimandiin dalam peti mati,” pungkasnya.

Sosok Freddy Budiman dikenal sebagai gembong narkoba yang telah dieksekusi mati di Lembaga Pemasyarakatan Nukambangan, Cilacap, Jawa Tengah pada 29 Juli 2016 lalu.

Dia divonis mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 15 Juli 2013 atas kasus kepemilikan 1,4 juta Pil Ekstasi yang diselundupkan dari China pada Mei 2012 lalu.

Dikutip dari kompas.com, Sebelumnya, Freddy pernah divonis 3 tahun 4 bulan setelah tertangkap memiliki 500 gram sabu-sabu pada 2009. Selanjutnya Freddy kembali berurusan dengan polisi dan divonis 18 tahun penjara setelah terbukti memiliki 300 gram heroin, 27 gram sabu, dan 450 gram bahan pembuat ekstasi.

Tak cukup sampai di situ. Freddy si terpidana mati terciduk dan mengakui masih mengendalikan bisnis narkoba dari balik jeruji besi. Freddy mengatur pembuatan narkoba jenis baru dimana pabriknya kemudian diketahui terletak di sebuah ruko di Cengkareng, Jakarta Barat, pada April 2015.

Freddy Gunawan, bahkan juga mengendalikan peredaran narkoba di berbagai lapas, merekrut anak buahnya yang juga narapidana seperti dirinya.

Ada rahasia cara berkomunikasi dari dalam penjara, Saat diwawancarai Kompastv pada 15 April 2015, Freddy membeberkan caranya berkomunikasi dengan anak buahnya dari dalam penjara.

Menurut Freddy, ia menggunakan fasilitas warung telepon (wartel) yang ada di LP Nusakambangan tempatnya mendekam kala itu. “Kalau di lapas itu ada wartelsus, Wartel khusus pemasyarakatan. Itu saya pakai untuk berkomunikasi. Jadi, selama ini saya berbincang itu lewat wartel disana,” kata Freddy.

Dijelaskan oleh Freddy, ia juga dipungut biaya untuk menggunakan fasilitas telekomunikasi di lapas itu. “(pakai wartel) bayar, tergantung dari penggunaan kita ya,” tambahnya.

Freddy dapat menggunakan wartel di lapas itu selama yang ia inginkan. “(tidak ada batasan waktu). Bebas. Cuma buka nya di pagi hari, jam 09.00-11.00 WIB,” paparnya.

Berkat fasilitas tersebut, Freddy Gunawan mengaku dapat berkomunikasi dengan timnya di berbagai lapas seperti di LP Cipinang dan Salemba. Dia bahkan bisa menghubungi jaringannya di Belanda. 

“Saya komunikasi seperlunya saja dengan pekerja saya, sama yang di Belanda aja,” ucap Freddy. “(Hubungi anak buah di lapas) pakai wartel. Bisa kok,” lanjutnya.

Diminta jaringan internasional

Freddy lantas menceritakan awal mula ia memutuskan untuk masih terlibat di bisnis narkoba meski telah divonis mati.

Dia mengungkapkan, bisnis tersebut baru berjalan beberapa bulan dari total 1,5 tahun masa tahanan menunggu eksekusi mati, terhitung sejak divonis pada 2013.

Freddy mengaku mendapat penawaran dari jaringan internasionalnya untuk membuat dan mengedarkan narkoba jenis baru.

“Kebetulan saya kan sudah diisolasi kurang lebih 1,5 tahun, jadi (bisnis narkoba) baru berjalan beberapa bulan ini dan ada penawaran dari mereka (sindikat). Istilahnya ya sejenis narkoba baru, ekstasi. Mungkin (pengedarannya) dari jalur baru,” beber Freddy.

Ketika ditanya siapa yang menawarkan, Freddy hanya menjelaskan bahwa itu datang dari jaringannya. “Dari jaringan saya ke saya,” katanya.

Lalu Freddy menjelaskan, jaringannya membutuhkan dirinya untuk mengedarkan narkoba baru lantaran tidak ada orang Indonesia selain dirinya yang bisa mengatur. “Sebetulnya ini bukan inisiatif pribadi saya, tapi jaringan saya yang menentukan saya. Karena mereka tidak punya orang di Indonesia kecuali kita,” urainya.

Freddy kemudian berkilah, bahwa hukum di Indonesia terkait penyalahgunaan dan pengedaran narkoba masih terbilang ringan sehingga ia nekad terus melanjutkan bisnis haram tersebut. “Ya mungkin saya lihat hukum di Indonesia ya, sampai detik ini hukuman mati kalau kita berkelakuan baik bisa terjadi perubahan. Saya 1,5 sampai 2 tahun ini hanya diisolasi, saya terima hukuman itu,” ujar Freddy.

Karena masih menunggu waktu pasti eksekusi matinya, Freddy memutuskan menerima penawaran sindikatnya karena butuh uang demi keluarganya.

“Dengan adanya eksekusi (mati) gelombang 1, gelombang 2 membuat saya ya mungkin ketakutan. Tapi bukan takut pada eksekusinya,” ujar Freddy.

“Saya punya keluarga, punya kehidupan, punya anak yang saya harus penuhi. (Jadi) penawaran dari jaringan saya terima saja,” sambungnya.

Selain itu, Freddy mengaku tertarik terlibat lagi karena mengetahui ia akan mengedarkan narkoba baru. “Karena narkoba baru ya. Terus melalui sistem pengirimannya simpel ya, pakai kertas,” katanya.@red..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here