Uji Klinis Vaksin Nusantara Dihambat?, Kompak Presiden dan BPOM Sebut Penelitiannya Harus Sesuai Kaidah Medis

0
19
Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat diwawancarai wartawan di DPR RI. BPOM menyebut uji klinis vaksin Nusantara yang Terawan prakarsai tak sesuai kaidah klinis. (Sumber:kompas.com)

Panjinasional, Jakarta – Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto terus memperjuangkan pengembangan vaksin Nusantara. Namun, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito menilai uji klinis I vaksin Covid-19 ini tidak memenuhi kaidah klinis yang baik.

Terawan mengaku sudah mengembangkan proses sel dendritik yang menjadi cikal bakal vaksin Covid-19 sejak 2015. Ia pun yakin vaksin Nusantara aman.

“Kami juga sudah mendapatkan uji binatang terhadp vaksin dendritik melalui pihak ketiga di AS yang membuat mantap kami untuk ikut peran serta untuk mengembangkan vaksin COVID-19 berbasis dendritik,” ujar Terawan saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi IX yang tersiar lewat kanal YouTube DPR RI, Rabu (10/3/2021).

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito

Ia berharap pemerintah dan BPOM mau mendukung lebih lanjut pengembangan vaksin Nusantara ini. “Mudah-mudahan ini terus berlanjut supporting dari Kementerian Kesehatan dan juga Badan POM,” kata Terawan.

Namun, Kepala BPOM Penny Lukito menyoroti berbagai penyimpangan dalam penelitian vaksin Nusantara. “Pemenuhan kaidah good clinical practice juga tidak dilaksanakan dalam penelitian ini. Komite etik dari RSPAD tapi pelaksanaan penelitian ada di RS dr Kariadi,” jelas Penny.

Padahal, menurut Penny, tiap tim peneliti harus memiliki komite etik yang bertanggung jawab pada pelaksanaan dan keselamatan subjek penelitian di tempat uji klinis. Penny juga mempermasalahkan perbedaan data dari tim uji klinis vaksin Nusantara dengan data yang terungkap di rapat kerja Rabu ini. Padahal, BPOM telah selesai meninjau hasil uji klinis I vaksin Nusantara. “Saya hanya memberikan komentar bahwa data yang diberikan tadi tidak sama dengan data yang diberikan pada BPOM, dan kami sudah melakukan evaluasi,” ungkap Penny.

Hendropriyono sangat mendukung temuan Terawan

Guru besar filsafat intelijen Jenderal (Purn) AM Hendropriyono mengapresiasi vaksin Nusantara yang digagas Dr Terawan Agus Putranto dan kawan-kawan. Ini jadi angin segar bagi bangsa untuk menuntaskan pandemi COVID-19.

Hendro berharap pemerintah dan masyarakat, khususnya netizen, turut mendorong agar vaksin Nusantara mendunia. Vaksin ini kelak diharapkan dapat ikut membantu menyelamatkan nyawa manusia yang terpapar COVID-19.

“Para netizen bangsa yang patriotik pasti merasa bangga atas penemuan vaksin Nusantara oleh Dr Terawan Agus Putranto. Merekalah yang mampu menggerakkan, agar para pemimpin dan wakil-wakilnya di eksekutif, legislatif, yudikatif serta segenap masyarakat sipil bersatu padu mengibarkan penemuannya ini di forum dunia,” kata Hendropriyono dalam keterangannya, Sabtu (20/2/2021).

Presiden Jokowi: Harus mengikuti kaidah ilmiah

Dalam sebuah kesempatan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkomentar soal Vaksin Nusantara yang diinisiasi mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Bahwa Vaksin Covid-19 buatan dalam negeri ini sebelumnya memicu polemik terkait kajian saintifik. Jokowi mengatakan Indonesia berupaya menciptakan vaksin dan obat Covid-19 sendiri. Namun, ia mengingatkan agar upaya-upaya itu tetap mengikuti kaidah ilmiah.

“Untuk menghasilkan produk obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan bermutu, mereka juga harus mengikuti kaidah-kaidah saintifik,” kata Jokowi dalam pidato yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (12/3).

Lalu kenapa BPOM Tak Keluarkan Izin Uji Klinis II Vaksin Nusantara?.

BPOM telah menyerahkan hasil peninjauan atas uji klinis itu pada Kementerian Kesehatan dan tim peneliti vaksin di Semarang, Jawa Tengah. Namun, Penny enggan memberi gambaran detail hasil tinjauan itu.

Ia hanya menyebut, BPOM belum memberikan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis (PPUK) untuk uji klinis tahap dua dan tahap 3. Pihaknya mengatakan mendukung penelitian dan pengembangan obat serta vaksin dalam negeri. Namun, hal itu harus sesuai standar penelitian yang berlaku.

“Untuk menghasilkan produk obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan bermutu. Maka seluruh tahapan penelitian dan pengembangan harus sesuai dengan standar dan persyaratan baik GLP, GMC, dan GCP,” tegas Penny.@tim. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here