Politik Belah Bambu. Gerakan ini Pernah Sasar Golkar, PPP, dan Berkarya. tapi Gagal untuk Demokrat

1
46

Jakarta – Gerakan dan kecepatan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atasi sebuah gerakan Kudeta alias pengambil alihan ketua umum secara paksa dan sistemik seperti adanya aksi Belah Bambu yang pernah dialami partai partai sebelumnya.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Reserach and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menganggap, langkah Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan cepat melakukan konferensi pers dan koordinasi terkait isu kudeta terhadap Demokrat sudah tepat. Meskipun , isu tersebut sempat berpotensi membuat gaduh di masyarakat.

“Kalau tidak diatasi dengan cepat, bukan tidak mungkin nasib Demokrat bisa tragis, bisa bernasib sama seperti partai lain yang pernah dikudeta, diambil paksa melalui dualisme kepengurusan dan melalui Legitimasi pengesahan SK Kemenkumham,” Kata Pangi saat dihubungi sindonews,Selasa (2/2/2012).

Pangi juga mengatakan, apa yang dialami Demokrat pernah terjadi di partai lain. Ia menyebutnya Politik Belah Bambu yang pernah menyasar internal Partai Golkar, PPP, terakhir Partai Berkarya.

Pangi juga melihat, Polanya mirip yakni benturan faksi yang menguat, pelibatan kader yang kecewa dan dipecat, dipaksakan untuk menyelenggarakan Munaslub, kemudian nantinya Kemenkumham yang mengesahkan kepengurusan yang sah, sesuai selera Chemistry kekuasaan. Dalam hal ini, kecenderungan pada partai oposisi yang menjadi target dan korban operasi khusus tersebut.

Namun demikian, Pangi mengaku mencermati, bahwa Partai Demokrat selamat dan lolos dari operasi khusus mengambil paksa/kudeta terhadap partai tersebut, yang tidak sesuai dengan selera kekuasaan. Dia melihat, Partai Demokrat yang selama ini cukup kritis terhadap kebijakan kekuasaan.

“Paling tidak Partai Demokrat cukup mahir dan piawai mengendus dan mampu dengan cepat mengantisipasi upaya Politik Belah Bambu menyasar partai tersebut, berhasil menggagalkannya, akibat operasi tersebut mengalami patahan di tengah jalan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika seandainya berhasil politik belah bambu melalui kudeta terhadap Partai Demokrat, bahasa sederhananya, apakah masih ada partai yang mau mengambil jalan sebagai partai oposisi.

“Karena kalau nggak sesuai dengan chemistry kekuasaan ujungnya bisa tragis, mungkin itu juga mengapa ketua umum partai lainnya cari selamat dan cari aman, maka pilihannya bergabung ke gerbong koalisi pemerintah,” papar dia.

OTAK AHY SEKELAS JENDRAL.

Benar tidaknya isu tersebut. Partai Demokrat kesannya selamat dari isu Kudeta, mencermati isu kejadian itu, kecepatan dan cara mengambil langkah taktis AHY seorang Ketua Umum Partai yang masih muda cukup brilian dan berotak seperti seorang Jendral. sehingga banyak pihak yang memberikan acungan jempol terhadap Putra SBY yang mengakhiri predikat tentaranya berpangkat Maor, baru berkarir di Politik berawal dari pencalonannya di Pilgub DKI 2017 lalu. Namun kini AHY seperti seorang Jenderal sehingga bisa menghalau gerakan yang diduga dimotori seorang jenderal senior.

Menyikapi peristiwa ini bisa menjadi senjata permainan bagi yang punya kuasa dan yang punya logistik. Paling tidak, ini bisa saja menjadi pembelajaran bagi yang melakukannya, ternyata candu kekuasaan mengambil alih pimpinan elite sentral partai dengan cara-cara inkonstitusional atau dengan cara paksa bisa dihentikan, agar tidak menjadi candu kekuasaan. Syukurlah Partai Demokrat bisa membela diri dan membongkar isu kudeta belah bambu, hingga bisa mempertahankan legitimasi partai, sebab kekuasaan itu ibarat seni berkuasa, tinggal siapa yang bisa dimainkan dan memainkan.. @tim. 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here