BPN Gresik Diluruk Warga Sidokumpul Terkait Dugaan Mafia Tanah

0
78

Gresik, www.panjinasional.net – Kantor ATR BPN Gresik didatangi puluhan warga Kelurahan Sidokumpul, sebelumnya Aksi unjuk rasa dilakukan di depan kantor kelurahan Sidokumpul oleh puluhan warga terkait permahasalahan tanah. Puluhan warga membentang spanduk dan berorasi dikantor yang berada di jl.Jaksa Agung Suprapto Gresik, (17/12/20)  

Kali ini warga yang datang  didampingi aktivis dari Gerakan Penolak Lupa (Gepal) membentangkan spanduk serta membawa keranda mayat, menuntut agar mafia tanah diusir dari kota Gresik karena tanah yang ditempati warga menjadi obyek sengketa. Aksi kemudian dilanjutkan ke Kantor ATR BPN Gresik di jalan raya permata bunder Astri. 

“Kami minta pemerintah untuk mengusut tuntas para Mafia tanah yang ada di Kabupten Gresik yang telah meresahkan warga, khususnya di tanah sengketa,” teriak korlap aksi.

Menurut Koordinator Gepal, Abdul Wahab mengatakan, lokasi yang ditempati warga sudah dilakukan pengukuran oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Gresik dan warga sudah melakukan pengurusan Sertifikat secara resmi.

“Di lokasi yang di ukur oleh BPN, Terdapat 63 kepala rumah tangga (KK) yang menempati 48 rumah sudah memiliki sertifikat hak milik (SHM),” kata dia.

Anehnya tanah yang ditempati warga menjadi obyek sengketa antara Ongko dan ahli waris dari almarhumah Siti Maryam yakni Andy Buchory akan dilakukan pengukuran dengan BPN Gresik.

Saat Audensi bersama BPN Gresik dijelaskan bahwa lokasi pengakuan ahli waris tidak termasuk lokasi yang dilewati warga atau rumah warga.

“Pengajuan oleh ahli waris itu, tidak termasuk wilayah permukiman warga melainkan objek tanah Desa Gapurosukolilo,” ungkapnya saat usai mediasi dengan petugas BPN Gresik dan pihak kelurahan.

“Sebelumnya lokasi yang ditempati warga ini, diakui ahli waris. Konflik itu sudah terjadi sekitar satu setengah tahun silam. Saat itu, kami tak dilibatkan untuk advokasi. Saat ini, warga minta terlibat dalam advokasi,” tandas dia.

Sementara itu, Andy Buchory selaku ahli waris Almarhumah Siti Maryam menjelaskan, sengketa yang diajukan bersama keluarganya atas tanah seluas 5.603 meter.

Mulanya pada tahun 1994 silam, ada ketidak harmonisan dalam keluarganya. Sehingga, ada yang menjual sepihak. Padahal, semua ahli waris ada 23 ahli waris yang perlu tanda tangan. Tetapi, tanpa ada tanda tangan tetap dijual.

“Alhamdulillah pada awal tahun 2020 ini, semuanya sudah kumpul termasuk keluarga yang ada di luar negeri dan luar pulau dan sekarang bersedia dijual,” pungknya. (gtt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here