Wawancara Terbuka Calon Hakim Agung Dilanjutkan Penandatanganan Fakta Integritas

0
54
Pemilihan Calon Hakim Agung berlangsung wawancara di gedung Komisi Yudisial Jakarta

Jakarta. Panjinasional.net – Terlaksananya Wawancara Terbuka Calon Hakim Agung dan Ad Hoc di MA hari kedua ditutup dengan penandatanganan pakta integritas calon. Rangkaian wawancara akan dilanjutkan pada Jumat (4/12) menghadirkan 3 peserta terakhir. 

Rangkaian Wawancara Terbuka Calon Hakim Agung dan Calon Hakim Ad Hoc di Mahkamah Agung Tahun 2020 yg dilaksanakan secara langsung di Auditorium Lantai 4, Gedung Komisi Yudisial memasuki hari kedua (3/12).

Wawancara Terbuka hari kedua (3/12) diikuti oleh 5 Calon Hakim Adhoc Tipikor: Dr. Sinintha Yuliansih Sibarani, S.H., M.H., Rodjai S Irawan, S.H., M.M., Yarna Dewita, S.H., M.N., Felix Da Lopez, S.H., M.H., dan Mulijanto, S.H., M.H.

Hadir dalam Wawancara Terbuka  Calon Hakim Agung dan Calon Hakim Ad hoc di Mahkamah Agung Tahun 2020, Panelis Pakar Tamu: Pakar Kenegarawanan Prof. Dr. Bagir Manan, S.H., dan Pakar Hukum Kamar Dr. H. Parman Soeparman, S.H., M.H. Calon Hakim Ad Hoc Tipikor yang pertama diwawancara adalah Hakim Ad hoc Tipikor PN Semarang, Dr. Sinintha Yuliansih Sibarani, S.H., M.H.

Dikutip dari konten twitter Komnas HAM. Saat ditanyai Bagir Manan terkait hakim Ad Hoc dan pengadilan tipikor dalam kancah peradilan di Indonesia, Sinintha menjelaskan bahwa kehadiran hakim ad hoc dan pengadilan tipikor adalah untuk menjawab dinamika yang ada di masyarakat maka hadirlah hakim ad hoc.

Ada harapan baru dari hakim yang berasal dari luar pengadilan sendiri yg dianggap mampu, berpengalaman dan berintegritas, membawa pengaruh dan budaya baik sehingga dapat saling memperngaruhi hakim yang selama ini menangani perkara tipikor.

Selanjutnya, Sinintha menjawab Farid Wajdi terkait hukuman mati dan menegaskan bahwa hukuman mati dalam perkara korupsi adalah baik dan tetap harus diberlakukan.

Calon Hakim Ad Hoc Tipikor selanjutnya yang diwawancarai adalah Rodjai S Irawan, S.H., M.H. dari PN Bandung.  Rodjai mengatakan bahwa hulu dari korupsi adalah pelaksana kegiatan dan dalam hal ini adalah penyelenggara negara, yang menyebabkan kerugian negara dengan cara memperkaya diri dan melawan hukum.

Dia juga menyatakan dirinya menjaga dari perilaku yang tidak baik. Mekanisme defensif yang ia lakukan, diakuinya ketika tinggal di Bandung, dimana dirinya bahkan sampai sengaja memelihara kumis dan jenggot untuk mengesankan diri dan agar orang segan terhadapnya, terutama para penasehat hukum.

Rodjai pernah menangani kasus perbankan dengan kerugian lebih dari 100 M dengan putusan hukuman 12 tahun yang di MA dinaikkan lagi menjadi 15 tahun.

Rodjai juga berpengalaman menangani kasus pengadaan alat kesehatan, kasus melibatkan beberapa kepala daerah, kasus stadion GBLA, dan yg cukup spektakuler kasus ipang di Palembang yaitu kasus kredit fiktif. 

Tentang independensi hakim, Rodjai mengatakan bahwa hakim harus diberikan ruang agar dapat memutus sesuai rasa keadilan.

Calon ketiga hari kedua yang diwawancara adalah Yarna Dewita, S.H., M.N., yang merupakan Hakim Ad Hoc Tipikor Serang Banten. Dalam mengadili perkara, mengutip Prof Bagir Manan, Yarna Dewita menyatakan setuju bahwa setiap perkara itu adalah unik. 

Yarna Dewita mengaku mendapat banyak ilmu dari pengalaman menjadi hakim ad hoc selama 9 tahun. Tidak satupun perkara itu sama. 

Hakim berpegang kepada dirinya sendiri, kepada masyarakat, dan kepada Tuhan. Hakim harus memiliki integritas. Percuma hakim pintar tanpa integritas. 

Keadilan hakim akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

KPN, Waka PN, itu haruslah yang memiliki intergitas dan profesional, supaya cita-cita mewujudkan pemberantasan korupsi dapat mendekati kesempurnaan.

Calon keempat hari kedua yang diwawancara adalah Feliz Da Lopez, S.H., M.H., yang merupakan Hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Negeri Medan. 

Apabila aturan yg terdapat dalam suatu UU masih samar-samar normanya, masih belum jelas, Felix mengatakan penemuan hukum perlu dilakukan agar kasus perkara yang ditanganinya sebagai hakim dapat diselesaikan. 

Metode penemuan hukum dalam konteks tipikor, hakim menggunakan metode penemuan hukum interpretasi ekstensif, yaitu memperluas bunyi redaksi dari UU tersebut sehingga perkara yg sedang ditangani dapat diselesaikan.

Ditanya alasannya pernah menangani perkara dengan onslag, vrijspraak, dan pemidanaan, Felix enggan berkomentar.

Felix merujuk Peraturan Bersama antara MA & KY No. 2 Tahun 2012 terkait Pedoman Perilaku dan Kode Etik Perilaku Hakim pasal 7 ayat 3 huruf f, g dan h, bahwa hakim dilarang memberikan komentar, pendapat maupun kritik terhadap putusan yg sedang berjalan maupun sudah pernah diputus.

Disinggung ungkapan, “pengadilan sebagai tempat membebaskan koruptor”, Felix menanggapi dengan tetap berfikir positif. Ditegaskannya, proses pembuktian di persidangan berpedoman dan berpatokan dengan ketentuan dalam pasal 183 KUHAP, prinsip negatief wettelijk bewijstheorie, yaitu tetap berdasarkan minimal 2 alat bukti dan ditambah keyakinan.

Jika nanti lolos sebagai hakim ad hoc tipikor, Felix menegaskan akan konsisten menjalankan ketentuan yang termaktub Perma No. 1 Tahun 2020 agar menjadi pedoman dan patokan kedepan sehingga ada konsistensi dari judex jurix terkait penanganan tipikor. 

Calon terakhir di hari kedua yang diwawancara adalah Mulijanto, S.H., M.H., yang merupakan Hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Tinggi Makassar. 

Mulijanto yang berpengalaman sebagai hakim karir selama 34 tahun, digali pemahamannya terkait kedudukan hakim sebagai pejabat negara, kode etik hakim, independensi, serta pemahaman kenegaraan oleh tim panelis pewawancara. 

Dalam hal teknis yudisial yang bersinggungan dengan KEPPH, Mulijanto mengatakan apabila terdapat pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh hakim dan terbukti maka hakim tentu dapat dikenakan sanksi. Namun, baginya hakim tidak dapat diberi koreksi dalam memutus perkara. 

Kesalahan hakim dalam teknis memutus perkara merupakan kewenangan peradilan diatasnya untuk memberikan sanksi, melalui upaya hukum. Hakim tidak dapat dijatuhi sanksi karena hal ini.**tim. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here