Kapolsek Ngaliyan, Orang Radikal Justru Harus Didekati

0
51
Kapolsek Ngaliyan, Kompol R Justinus

Semarang. www.panjinasional.net – Kapolsek Ngaliyan Kota Semarang Kompol R Justinus menegaskan orang yang terpapar radikalisme tidak boleh dijauhi, melainkan harus didekati antara hati ke hati. Dengan pendekatan rasa kasih sayang, sikap dan pemikiran mereka bisa lebih terbuka karena selama ini mereka cenderung merasa sendiri dan ekslusif. 

“Ada beberapa faktor penyebab munculnya radikalisme. Karena itu kita dalam melakukan pendekatan harus mengetahui terlebih dulu kondisi mereka agar lebih mudah dan bisa komunikatif,” kata Kompol R Justinus dalam acara Penyuluhan Penanggulangan Faham Radikalisme dalam Menyikapi dan Mewaspadai Wabah Corona Covid 19 di Alula Kantor Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (11/11/2020). 

Justinus menjelaskan radikalisme muncul sejak lahirnya manusia itu sendiri. Radikalisme itu lekat dengan sifat bawaan manusia yakni adanya emosi dan ambisi seseorang. Ketika emosi dan ambisi seseorang muncul, jika tidak memahami dan terarah dengan  benar dan tepat, maka yang terjadi adalah sikap radikalisasi. Biasanya hal itu terbentuk setelah terjadi pertentangan psychologis yang bersangkutan.

“Karena itu kami selalu menghimbau kepada anggota dan kepada tokoh-tokoh masyarakat agar kita piawai membawa diri di tengah semaraknya paham radikalisme dengan segala bentuk kepentingannya. Berbagai peristiwa telah banyak membuktikan kalau radikalisasi itu bermuara pada usaha merusak tatanan yang ada selama tatanan tersebut sudah menyatu dengan nilai-nilai yuridis formal,” tegasnya.

Apalagi, lanjutnya, di tengah wabah pandemi covid 19 ini, ada-ada saja pemikiran yang berorientasi pada mengembangnya radikalisasi. Kejenuhan terhadap suasana akibat diterapkannya aturan atau protokoler kesehatan seperti jaga jarak termasuk ketika menunaikan ibadah sholat, kemudian anjuran agar menghindari kerumunan, kurangi aktifitas di luar rumah, dan sebagainya, juga sangat memungkinkan masyarakat berada di titik jenuh sehingga mudah dirasuki pemikiran radikal. 

“Kita harus selalu waspada dan menempatkan diri pada proporsinya masing-masing  dengan tetap menerapkan protokoler kesehatan. Kita juga harus berinteraksi kepada siapapun tanpa memandang status sosial, agama dan jabatan. Dengan perbedaan tetap kita galang persatuan agar tidak lagi ada kesulitan yang tidak bisa kita atasi,” katanya. (Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 3 =