Wali Kota Dewanti Sewa Petak Lahan dan Resmikan Sawah Rojo Art Farming, Demi Lindungi Petani

0
73
Wali Kota Dewanti Lakukan Penanaman Perdana di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Minggu (8/11/2020) pagi.

Wali Kota Batu Hj Dewanti Rumpoko mengaku bahwa sebenarnya ia tidak paham konsep yang ditawarkan hasil inovasi petani dan kaum milenial ini. Namun karena perintah positif maka ia pun tidak segan untuk memberikan dukungan secara langsung.

Kota Batu Panjinasional – Dikenal sebagai kota wisata dan pertanian, Kota Batu terus melakukan inovasi agar menarik. Kali ini sebuah terobosan lahir di bidang pertanian yakni Sawah Rojo Art Farming.

Gagasan itu pun didukung penuh oleh Wali Kota Batu Hj Dewanti Rumpoko dengan meresmikan secara langsung pada Launching Program Pemberdayaan Petani Sawah Rojo Art Farming & Diskusi Interaktif dengan Tema: Menggagas Inovasi & Kreativitas Pertanian Masa Kini di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Minggu ( 8/11/2020) pagi.

Wali Kota Batu Hj Dewanti Rumpoko mengaku bahwa sebenarnya ia tidak paham konsep yang ditawarkan hasil inovasi petani dan kaum milenial ini. Namun karena perintah positif maka ia pun tidak segan untuk memberikan dukungan secara langsung.

“Mudah-mudahan langkah kecil ini bisa menjadi besar asalkan dilakukan dengan komitmen penuh,” katanya saat memberikan solusi.

Selain itu, Wali Kota Dewanti juga dapat melihat pada evaluasi perbankan BUMN saat ini akan melakukan pembiayaan terhadap usaha yang 30 persennya dilakukan oleh kaum milenial. “Nah di Sawah Rojo ini kan lebih anak milenialnya, makanya saya minta pihak terkait untuk bisa memfasilitasi dengan bank-bank BUMN tersebut,” timpalnya.

Untuk tahap awal, Pemkot Batu sendiri memberikan dukungan dalam bentuk sewa menyewa lahan pertanian yang masuk program Pertanian Seni Sawah Rojo itu.

Di bagian lain, Koordinator Petani Milenial Fadilah Akbar mengungkapkan bahwa motivasi dirinya menjadi petani milenial untuk membantu menyatakan yang juga sebagai petani. 

“Saya ingin merasakan susah payahnya menjadi petani, dan ternyata pertanian itu dikelola dengan baik, maka hasilnya juga akan baik, dari sisi kualitas hasil pertanian maupun penjualannya,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia mengatakan kalau ada sembilan anak milenial yang saat ini tertarik untuk ikut bertani. Sebab selain pola bercocok tanam, juga terutama dalam rangka pemasaran hasil pertanian secara langsung ke masyarakat melalui aplikasi penjualan berbasis online. 

“Selama ini petani dirugikan penjualannya kalau melalui tengkulak, yang melakukan monopoli harga, sehingga dengan adanya teman-teman milenial ini hubungan konsumen dan petani bisa terjalin secara langsung dan sama-sama saling menguntungkan,” katanya.

Walaupun juga dikembangkan pola pemasaran, yakni dengan menjual petak-petak pertanian sekitar Rp3 juta kepada masyarakat. Namun hasil pertanian masih berlebihan. “Nah, kelebihan ini yang kita pasarkan secara online ,” ucap Akbar.

Sementara itu, Pendiri Sawah Rojo Herman Aga memaparkan sementara ini ada 10 petak lahan yang bisa disewa oleh masyarakat, namun ada enam untuk awal sudah disewa oleh Pemkot Batu, termasuk Ibu Wali Kota Dewanti.

“Sewa lahan selama tiga bulan, hasilnya menjadi milik penyewa dengan menerapkan sistem pendidikan dan pengalaman bertani,” paparnya.

Artinya, dengan menyewa petak tersebut maka masyarakat selama tiga bulan ikut belajar bertani dengan pendampingan petani. Kemudian hasil penjualan menjadi milik penyewa. 

“Hasil yang didapat dari pola sewa ini adalah edukasi pertanian, pengalaman bertani, nilai wisata, dan yang sangat membantu para petani menjaga harga hasil pertanian,” pungkas Herman. (Adv/gtt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here