Sidang Penggelapan Rp80 Milliar, Dugaan Pelaku Pasangan Laksmana Dan Laksmono

0
90
Pasangan Pasutri Terdakwa Laksmana dan Laksmono

Panjinasional. Surabaya – Persidangan terbuka untuk umum dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan terdakwa pasutri Liem Inggriani Laksmana dan suaminya Liauw Edwin Januar Laksmono digelar diruang sidang Cakra Senen (5/10)dengan agenda mendengarkan pembacaan tanggapan jaksa penuntut Darwis Dan Deddy Arisandi dari Kejari Surabaya.

Dalam tanggapan JPU  yang dibacakan Deddy Arisandi diruang cakra bahwa nomor register :1994 /Pid.B/2020/PN SBY merupakan hasil dari penyidikan Bareskrim Mabes Polri BA Reg nomor BP/75/IX/2020/Dittipidum tanggal 17 September. Berita acara tersebut telah diteliti oleh JPU  secara cermat sehingga alasan PH terdakwa haruslah diabaikan,dan eksepsi PH terdakwa sudah masuk pada materi pokok perkara maka tidak ditanggapi oleh JPU.

Proses Persidangan Pasangan Laksmana Dan Laksmono

Namun PH terdakwa keberatan dengan adanya pencabutan BAP dari saksi Phien Thiono dan Johanna Uniek dan JPU juga tidak menanggapinya,karena untuk kebenaran materi JPU akan memanggil kedua saksi tersebut dipersidangan.

Kesimpulan JPU nomor register perkara : PDM – Eoh.2/09/2020 tanggal 7 September 2020 telah disusun secara cermat,jelas,dan lengkap sesuai dengan ketentuan KUHAP agar hakim yang menangani perkara ini menolak seluruh eksepsi PH terdakwa agar sidang dilanjutkan pemeriksaan materi perkara.

Perlu diketahui, terdakwa Liem dan Oenik sudah berteman akrab lebih dari 30 tahun ,singkatnya dengan modus modal berinvestasi terdakwa Liem menyerahkan uang Rp 500 juta kepada Oenik untuk tiga bidang tanah yang dibelinya dikawasan balikpapan tersebut.

Selanjutnya dibuatlah surat pernyataan yang dilegalisasi dihadapan notaris seakan akan pembeli tiga bidang tanah tersebut adalah terdakwa Liem dan korbannya adalah Oniek, Dalam peristiwa ini suami terdakwa Edwin Laksmono juga turut serta menanda tangani surat pernyataan ini sehingga semua hak dan kewajiban atas tiga bidang tanah tersebut diatas menjadi kepunyaan dan tanggung jawab bersama” jelas Jaksa Deddy dalam membacakan surat dakwaannya  dalam sidang sebelumnya ( 23/9 ).

Disini mulailah otak kotor terdakwa Edwin dengan membuat scenario, temannya sendiri Phien Thiono seakan akan atau disuruh berpura pura sebagai pembeli tiga bidang tanah tersebut.

Kemudian Edwin meminta Phien membuka tiga bilyet giro, total cek bilyet giro nilainya Rp 1,1 milliar diminta oleh terdakwa Edwin.

Jadilah Kerjasama yang rapi kedua terdakwa dengan menelpon  korban Oniek ,dan kedua terdakwa mengatakan bahwa sudah ada pembeli tanahnya, kemudian para terdakwa mengajak korban Oniek ke notaris dikawasan Kapuas untuk membuat IJB tiga bidang tanah yang dimiliki Onik tersebut.

Sayangnya ketika di notaris, Phien Thiono yang disebut sebut sebagai pembelinya tidak hadir dikantor notaris, dan Phien tidak tahu menahu adanya IJB, bahkan ia tidak kenal dengan Oniek,dan tidak tahu adanya sertifikatnya, Phien memang mengakui pernah membuat bilyet giro atas perintah atau permintaan terdakwa Edwin, justru Phien sangat kaget sekali kalau proses jual beli tanah tersebut dirinya diwakili Edwin.

Pada akhirnya, tenggang tiga bilyet giro tersebut tidak bisa dicairkan karena sudah jatuh tempo, hingga berita ini diturunkan Oenik tidak pernah menerima uang dari hasil penjualan tanahnya, namun ketiga sertifikatnya tersebut diduga sudah dikuasai oleh dua terdakwa pasutri, akibat perbuat penipuan dan penggelapan terdakwa Liem dan Liauw korban Oenik menderia kerugian hingga Rp 80 milliar. Sidang dilanjutkan pada senin depan dengan agenda putusan sela (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here