Pemkot Semarang Terapkan Sangsi bagi Orang Tak Bermasker

0
81
Walikota Semarang Hendrar Prihadi

Semarang. www.panjinasional.net Pemerintah Kota Semarang akan menerapkan hukuman mulai Jumat 14 Agustus 2020 kepada masyarakat yang kedapatan melanggar tidak menggunakan masker berupa teguran lisan, perintah membeli masker, larangan melanjutkan perjalanan, penyitaan identitas diri (Kartu Tanda Penduduk Elektronik), hingga sanksi sosial dengan menyapu atau membersihkan ruas jalan selama 15 menit atau sepanjang 100 meter.

“Hukuman tidak berupa denda uang, agar tidak menambah beban ekonomi masyarakat di tengah tekanan pandemi saat ini. Poin pentingnya adalah memberikan efek jera bagi para pelanggar yang tidak mengenakan masker, bukan untuk menambah beban ekonomi masyarakat di tengah pandemi,” tegas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. 

Untuk itu, lanjutnya, kami tetap maksimalkan patroli pembatasan kegiatan masyarakat agar tetap peduli akan bahaya COVID-19. Hendi berharap ke depan masyarakat akan semakin paham akan fungsi pemakaian masker untuk melindungi diri sendiri dan juga lingkungan sekitar dari bahaya persebaran virus Covid-19. 

Dijelaskan, dengan pemahaman tersebut, warga akan dengan sadar dan otomatis menggunakan masker di manapun berada.  Di samping itu, selain menertibkan penggunaan masker, melalui peraturan terbaru Wali Kota Semarang No. 57 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM),  diatur kembali pula jam operasional PKL dan usaha non formal yang berada di area terbuka publik. 

Dimana jika sebelumnya jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 22.00 WIB, maka dalam peraturan Wali Kota Semarang terbaru yang dikeluarkan, diperpanjang hingga pukul 23.00 WIB. 

Dengan adanya perpanjangan jam operasional tersebut, diharapkan tidak ada lagi tempat usaha yang melanggar dengan berbagai alasan. 

Tak hanya itu saja, kegiatan yang mengundang massa jika sebelumnya dibatasi maksimal sampai dengan 50 orang, kini menjadi 100 orang. 

“Meskipun ada kelonggaran-kelonggaran, namun saya minta masyarakat agar tetap komit dan taat di dalam menjalankan protokol kesehatan. Kita tunjukkan bahwa warga Kota Semarang disiplin dan mampu bersama-sama menghadapi Covid-19 ini,” tandas Hendi panggilan akrabnya. 

Doa Bersama

Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah meminta imam shalat Jumat di masjid-masjid se Jawa Tengah memimpin doa untuk keselamatan bangsa,  khususnya berdoa agar diberi keselamatan serta dijauhkan dari keganasan Covid-19.

“Seruan ini dikeluarkan MUI dalam rangka merespons gagasan Pak Gubernur Jateng Ganjar Pranowo  agar seluruh ummat Islam berdoa serempak waktu Jumatan. 

Doa bersama agar terhindar penularan Covid-19, menurut Kiai Darodji, sebagai usaha batiniyah yang merupakan kelengkapan dari usaha lahiriyah yang selama ini sudah terus menerus dilakukan bersama. Dengan doa serentak di shalat Jumat, Allah SWT segera mengabulkan dengan dibebaskannya seluruh lapisan masyarakat dari pandemi tersebut.

Ditambahkan, jumlah masjid di Jawa Tengah berdasarkan data tahun 2018 sebanyak 36.000. Bila semua jemaah shalat jumat  berdoa bersama di seluruh masjid, dapat diitung betapa besar jumlah jemaah yang berdoa secara bersama-sama. (Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here