MENGATASI KENAKALAN ANAK DIDIK

0
352

Oleh:
HARYONO, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia MTsN 3 Pamekasan

Cara berperilaku seseorang anak didik yang berstatus sebagai pelajar (SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK) dalam lingkungan sosial sangat variatif atau beragam. Ada seseorang yang berperilaku sesuai etika dan nilai-nilai sosial, ada juga yang berperilaku semaunya sendiri dan cenderung melanggar aturan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Terkadang juga ada yang sedikit mengikuti aturan, bahkan perilaku yang kontra dengan adat atau kebiasaan di lingkungan masyarakat setempat. Hal ini juga hampir relatif sama dengan yang terjadi pada lingkungan pendidikan Islami atau madrasah. Peserta didik pada umumnya banyak mengimitasi (mencontoh) perilaku anggota masyarakat berdasarkan lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini perlu adanya sebuah pemahaman terkait klasifikasi peserta didik berdasarkan tingkat perilaku pribadinya yang dianggap “nakal”.

Status atau kategori nakal peserta didik beraneka ragam, mulai dari; (a)tidak suka mengerjakan tugas secara umum, atau tidak patuh dalam lingkungan keluarga dan sekolah; (b) tidak melaksanakan tata-tertib lingkungan sekolah; serta (c)berbuat yang tidak pantas dalam sekolah dan masyarakat. Dari berbagai problem di atas maka peran para pendidik dan orang tua sangat penting dalam mengatasi persoalan tersebut, karena yang paling utama bukan permasalahan yang sedang terjadi beserta dampaknya, akan tapi bagaimana menyikapi sumber permasalahan tersebut dengan tepat agar tidak terulang kembali. Sebagai pendidik atau guru di sebuah lembaga pendidikan, jangan langsung menghakimi bahwa anak tersebut ‘jelek’ sikapnya atau ‘buruk’, bahkan tidak ada nilai positifnya sama sekali atas tingkah laku dan kenakalan yang diperbuat.

Sebagian para ahli pendidikan khususnya dalam ilmu psikologi pendidikan berpendapat, bahwa kenakalan seorang anak juga memiliki aspek positif, sehingga mereka beralasan perlu mempelajari terlebih dahulu penyebab atau faktor pendorong munculnya sikap ‘nakal’ dari seorang anak didik. Misalnya, dari segi psikologi anak yang tergolong ‘nakal’ memiliki nilai positif, diantaranya;
(1) Ekspresif, anak yang berstatus ‘nakal’ pada umumnya berani mengambil sikap untuk dinilai ‘negatif’ oleh orang lain demi menunjukkan status kemandiriannya dalam menentukan sikap dan karakternya dari doktrinasi orang lain. Dirinya ingin keluar dari zona ‘pengekangan’ dan menunjukkan sikap mandiri dalam mewujudkan keinginannya dan merasa bebas melakukan sesuai cara pribadinya.
(2) Percaya Diri, anak yang dinilai ‘nakal’ rata-rata memiliki rasa percaya diri yang tinggi, Dirinya melakukan sebuah tindakan yang dikategorikan ‘kurang baik’ untuk bangga dikatakan dirinya “hebat” dan bisa melakukan apa yang dia mau. Anak didik tersebut merasa bebas dalam melakukan apa saja, tanpa menganggap ‘ada’ aturan umum yang melekat atau harus ditaati bersama, serta tindakan yang melanggar itu dilakukan dengan sikap yang ‘lepas’ tanpa berpikir panjang.
(3) Tanggung Jawab, anak nakal biasanya sadar dengan apa yang dilakukannya. Dirinya berani memberontak terhadap suatu hal yang tidak sejalan dengan pemikirannya, walaupun sebenarnya sudah tahu dengan segala konsekuensi tindakannya termasuk sanksi yang akan diperolehnya. Sanksi apapun yang akan diterima sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.
(4) Berani Mengambil Keputusan, Keputusan anak yang berstatus nakal, rata-rata dalam memgambil tindakan dilakukan secara ‘tegas’, dirinya bersikap cepat dalam mengambil keputusan berdasarkan “apa yang ia mau”. Anak didik pada ranah ini, tidak peduli dengan konsekuensi (dampak) yang dilakukannya, meskipun dengan sadar dapat merugikan diri sendiri. Orang yang berani mengambil keputusan yaitu orang yang tergolong ‘nekat’. Sikap ‘nekat’ bisa menciptakan hal yang positif, anak didik seperti ini cenderung melakukan eksperimen-eksperimen terkait kemampuan yang dimilikinya meskipun terkadang “gagal”. Namun, tidak sedikit bukti kenekatan seseorang dalam mengambil keputusan dapat membuat sebuah keberhasilan dan berdampak bagi kehidupan. Sehingga peran pendidik (guru) dan orang tua sangat penting dalam mengawal peserta didik agar tidak “salah jalan”.

Sebagai seorang pendidik atau profesi guru dalam sebuah lembaga pendidikan bukan cita-cita yang dulu saya inginkan. Sekarang status sebagai seorang guru di MTsN 3 Pamekasan telah saya jalani, meskipun tidak ada gambaran dalam benak saya pribadi saat masa berstatus ‘pelajar’. Penasaran dengan madrasah yang menjadi satuan kerja bagi diri saya pribadi, semua informasi dari media on-line dan cetak telah saya pelajari sebagai pondasi pemikiran, terdapat berbagai prestasi dan penilaian dari hasil penelitian yang gemilang mulai dari tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Tidak berhenti disana saja, ketika saya mengurus berkas CPNS di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pamekasan ada salah satu ‘oknum PNS’ di instansi tersebut menanyakan kepada saya. “Mas, penugasan di mana (?)”. Lantas saya jawab, “MTsN 3 Pamekasan” beliau sambil berkata kembali, “sampean (anda) siap-siap mental ya (!), di sana disiplin tingkat dewa”, katanya. Dari berbagai informasi tadi membuat saya menjadi khawatir dengan beragam pemikiran.

Kekhawatiran awal berkaitan dengan sikap ‘tidak mampu’ mengajar dengan baik, khawatir tersebut lebih mengarah pada sikap tidak mampu berinteraksi dengan peserta didik dan sikap khawatir lainnya. Saya sadar bahwa bekerja di ‘madrasah unggulan’ diperlukan kemampuan beradaptasi pada semua civitas akademik. Pribadi saya berusaha menanyakan semua hal terkait satuan pendidikan beserta anak didik yang ada, agar tidak dianggap “ketinggalan kereta” saat berada di dalam satuan kerja yang baru. Diri Saya meyakini bahwa berada di madrasah ‘hebat’ pasti terdapat permasalahan yang kompleks dan pasti menimbulkan efek negatif. Salah satunya adalah kenakalan peserta didik. Permasalahan kenakalan peserta didik sebenarnya hal yang wajar, dan sudah biasa terjadi di madrasah secara umum.

Sebagai seorang pendidik yang masih berstatus “guru baru”, saya harus bisa mengimbangi sistem yang sudah ada dan berjalan dengan baik, jangan sampai apa yang saya lakukan dapat merusak sistem yang sudah ada. Setiap tindakan saya lakukan dengan hati-hati agar memiliki dampak signifikan bernilai positif kepada semua anak didik. Dalam mengatasi berbagai permasalahan, terutama yang berkaitan dengan kenakalan peserta didik, maka diperlukan beberapa hal sebagai berikut;
Kita sebagai pendidik harus pintar dalam memanfaatkan kondisi perserta didik yang variatif atau beragam. Jangan sampai sebagai pendidik malah memutuskan harapan dan cita-cita seorang anak didik, sehingga kapabilitas sebagai seorang pendidik sangat menetukan output peserta didik dalam mengatasi masalah kenakalannya. Ada banyak metode dan trik dalam menanggulangi kenakalan peserta didik yang harus dikuasai oleh seorang guru. Beberapa metode yang bisa diterapkan antara lain;

1. Dekati hatinya dengan lemah lembut
Peserta didik akan merasa nyaman berkomunikasi (sharing) pada Sang Guru, jika proses belajar mengajar (PBM) dilakukan dengan sikap ramah, penuh kelembutan dan kasih sayang. Dengan kasih sayang yang tulus bisa menggugah peserta didik yang semula bersikap ‘nakal’ untuk berhenti dan sadar melakukan hal-hal yang kurang etis, mereka akan segan dan sungkan pada Sang Guru. Terkadang sikap nakal yang dilakukan oleh peserta didik akan luluh begitu saja, dengan cara yang lembut dirinya merasa dihargai dan diperhatikan oleh gurunya.

2. Berilah pujian
Pujian kepada peserta didik yang dinilai ‘nakal’ akan membawa implikasi (berdampak) positif pada sebuah perubahan sikap. Pujian disini bukan pada kelakuan negatif yang telah dilakukannya, melainkan nilai positif yang dimilikinya. Dia akan termotivasi dengan nasehat dan pujian oleh gurunya, sehingga bisa meninggalkan hal negatif dengan sendirinya. Memberi motivasi dengan pujian, seperti; “Nak, Sesungguhnya engkau orang yang hebat, engkau anak yang mampu, dan engkau pasti bisa”. Dengan melakukan hal demikian akan memunculkan rasa percaya diri anak didik tersebut, sehingga Ia berhenti melakukan kenakalan dan beralih pada sikap dan perilaku yang bernilai positif.

3. Memberikan contoh
Seorang guru yang baik bukan hanya pintar menyuruh, akan tapi bagaimana cara memberi contoh pada peserta didik. Salah satu contoh yaitu suatu tindakan nyata yang membuat peserta didik “merasa tidak enak” apabila melakukan sikap dan tindakan berkategori ‘nakal’. Guru yang baik, tidak hanya memberikan himbauan untuk melakukan kebaikan, akan juga hadir sebagai ‘pelaku kebaikan’ seperti yang sering diungkapkan dalam slogan 3M; mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang. Ini sangat penting dilakukan di era sekarang dengan penuh keterbukaan dan pola berpikir kritis yang digalakkan oleh berbagai kalangan. Jangan sampai apa yang kita suruh, namun diri kita pribadi tidak mengerjakannya, bisa jadi kita dikomplain oleh peserta didik. Kita sebagai guru harus bisa memberi contoh, misalnya, ‘membuang sampah pada tempatnya’, sikap dasar ini sudah menjadi contoh bagi peserta didik, sehingga mereka tidak menganggap apa yang dikatakan guru hanyalah teori saja.

4. Konsisten
Peraturan yang sudah ditetapkan harus dipatuhi bersama, jangan sampai ada perubahan atau inkonsisten terhadap aturan tersebut. Jika itu dilakukan maka peserta didik akan menganggap bahwa dalam melakukan pelanggaran pasti akan ada dispensasi atau keringanan dalam sebuah sanksi. Dengan melaksanakan aturan secara tegas akan membuat peserta didik segan dan takut untuk melakukan sebuah pelanggaran. Jangan sampai ada celah untuk memberi kebebasan atau pelanggaran terhadap sebuah aturan yang telah disepakati. Jangan menjadikan sebuah aturan hilang begitu saja, kecuali ada sebuah pembaruan peraturan sebagai keputusan bersama.

5. Berikan penghargaan dan sanksi
Peserta didik zaman sekarang sudah sangat kritis terhadap apa yang dilakukan oleh Sang Guru. Mereka akan merasa tidak adil, jika ada siswa yang memiliki nilai positif dibiarkan begitu saja tanpa diberi sebuah penghargaan. Mereka cenderung membandingkan dengan teman bermain dalam lembaga pendidikan lainnya. Reward di sini tidak harus berupa benda atau materi saja, bisa dengan penilaian dan pujian secara verbal yang dapat menjadikan mereka ‘senang’ atau ‘bangga’. Sebaliknya, dengan peserta didik yang melakukan kelalaian dalam sebuah aturan, mereka menuntut agar peserta didik tersebut diberi sanksi sebagai konsekuensi atas apa yang telah dilakukan. Sanksi tidak harus yang memberatkan siswa tersebut, misalnya, ‘kekerasan fisik’. Ini sudah bukan zamannya, carilah sanksi yang bisa memberi efek jera misalnya bisa dengan tugas literasi; “menulis kesalahan yang dia perbuat dan bagaimana cara mengatasinya”, “disuruh bernyanyi atau berjoget di depan kelas”, “disuruh membersihkan lingkungan sekitar kelas”, “membaca Al-quran dan sanksi lain, yang tidak berhubungan dengan fisik, namun tetap berkaitan dengan aspek pembelajaran.

6. Berikan kepercayaan
Dengan memberi kepercayaan pada peserta didik yang nakal secara tidak langsung bisa meminimalisir tingkat kenakalannya. Mereka akan merasa diperhatikan dan merasa mendapat perlakuan khusus. Kepercayaan di sini hal yang kecil saja, misalkan jika pelajaran sudah habis minta tolong pada anak didik untuk membawakan tas dan buku Sang Guru ke ruangannya, tugas dikumpulkan padanya, menjadi salah satu koordinator acara sekolah dan lain sebagainya. Dengan begitu sang anak akan merasa malu sendiri, jika melakukan kenakalan seperti tidak mengerjakan tugas, bolos dan kenakalan lainnya.

7. Ajak ngobrol
Ngobrol ringan dengan peserta didik yang nakal merupakan cara yang ampuh, untuk meminimalisir bahkan menghilangkan sikap negatif dan kenakalannya. Dengan sering sharing maka dia akan terbuka kenapa dirinya melakukan hal demikian, setidaknya dengan kita ngobrol dari hati ke hati, akan mereka nyaman, dan terbuka serta merasa bahwa gurunya sangat peduli padanya, sehingga dengan sendirinya dirinya lebih segan untuk melakukan hal-hal negatif karena sudah terjalin ikatan emosional dengan Sang Guru.

8. Libatkan orang tua
Yang dimaksud dengan melibatkan orang tua di sini, bahwa sebagai guru hendaknya juga berkomunikasi lebih intensif kepada orang tua peserta didik sehingga tercipta sebuah sinergisitas terkait anak didik. Komunikasi bisa dijalin dengan cara membicarakan seputar permasalahan anak didik, bahkan termasuk prestasi yang pernah dimiliki, salah satunya; membuat sebuah grup komunikasi on-line atau WhatsApp (WA) antar wali murid. Grup on-line tersebut menjadi pusat informasi, terkait apa saja yang berkaitan dengan PBM di madrasah; perolehan SEREP, SKIM, UKBM tiap mapel dan lain sebagainya. Dengan demikian orang tua peserta didik mendapatkan kontrol perkembangan anaknya dari info grup tersebut. Semua orang tua pasti akan menanyakan pada anaknya kenapa kamu begini(?), kenapa kamu kok tidak memenuhi ini (?); dan itu dan pada akhirnya terjalin komunikasi terhadap guru tersebut bisa via on-line atau WA, telephone bahkan bertemu langsung guna membahas permasalahan perkembangan Sang Anak.

9. Doakan
Setelah berbagai cara dilakukan dalam mengatasi peserta didik yang nakal, maka yang paling akhir dan sangat penting yakni menyebut namanya disela-sela untaian doa saat setelah beribadah (sholat). Yakinlah bahwa doa itu pasti diijabah olehNya. Kita harus tulus, ikhlas dan ridho dengan apa yang kita kerjakan, karena mereka semua adalah titipan Sang Khaliq. Sebagai pendidik pada umumnya telah diberi amanah oleh orang tuanya, tidak hanya sebatas memberi ilmu pengetahuan yang dimiliki, melainkan juga dituntut untuk bisa mendidik semaksimal mungkin. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan pasti mendapat balasan yang setimpal, tidak ada perbuatan baik berakhir dengan sia-sia.

Dari beberapa cara mengatasi peserta didik yang tergolong “nakal” tersebut, saya lakukan dan alami secara pribadi, dan hasilnya memang lebih efektif. Namun dalam menerapkan cara yang ada, juga perlu melihat dahulu setiap karakter peserta didik yang ada, karena setiap individu memiliki karakter yang berbeda. Ada yang dengan pujian, perhatian, dan sanksi. Alhamdulillah, selama menjalankan proses belajar-mengajar (PBM) di MTsN 3 Pamekasan tidak mengalami permasalahan kenakalan siswa yang berlarut, peserta didik rata-rata melakukan kenakalan pada kategori ringan saja. Misalnya; tidak mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, dan kenakalan ringan lainnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + 20 =