Memilih Pemimpin Ibarat Berjudi?.

0
207
Gambar ilustrasi

www.panjinasional.net – Mengapa Socrates Membenci Demokrasi?
Tapi sebenarnya Socrates tidak pernah membenci demokrasi, tapi ia hanya berfikir jika demokrasi bukanlah sebuah sistem yang simpel.
Socrates pernah mengatakan kepada Adeimantus, salah seorang warga, bahwa sistem demokrasi adalah suatu sistem yg dikira masih banyak kekurangan di dalamnya. Dia mengibaratkan masyarakat dalam sistem demokrasi sebagai sebuah kapal dalam hantaman ombak.

Socrates menanyakan,
“Siapa yang kamu lebih pilih untuk memimpin kapal ini, masyarakat biasa atau orang yang berpengalaman?”

Adeimantus menjawab, “Pilihan kedua tentunya!”
Socrates menjawab,
“Lalu mengapa kita berjudi untuk memilih orang yang tidak berpengalaman dalam memimpin suatu negara berdasarkan suara dari orang-orang yang belum terdidik?”

Maksud Socrates ialah, pemilih dalam sistem demokrasi harusnya diberi “keterampilan”, karena memilih bukan bicara insting. Memilih pemimpin dalam suatu negara perlu dilengkapi dgn alasan logis, mengapa orang ini pantas memimpin negara? Bukan karena faktor suka-tidak suka, bahkan penampilan.

Socrates memberikan bayangan antara 2 kandidat pemimpin dalam sistem demokrasi; antara tukang permen dan dokter.

Tukang permen,
“Ayo pilih saya, saya bisa memberikan anda permen manis yg bisa membuat hati anda senang.
Sedangkan dokter itu?
Dia hanya bisa menyakitimu, melarangmu minum makan ini itu, hal hal yang kamu sukai.”

Pasti jawaban Dokter hanya, “Aku melakukan itu untuk kesehatanmu”.
Tentu jawaban ini hanya akan menyebabkan kehebohan dan ketidak puasan dalam masyarakat. Sebab memilih pemimpin bukan kita sedang berjudi, dan bukan hanya sekedar memilih yang sama ibarat berjudi.

Sedangkan Socrates mengatakan, demokrasi perlu berbanding lurus dengan sistem pendidikan yang sudah matang, sehingga tak ada lagi masyarakat yang bodoh.**Quora/tim/gtt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here