Serabi, Jajanan Tradisional Yang Enak dan Mengenyangkan

0
337
Anifah Penjual serabi di Desa Serah Kecamatan Panceng Gresik

Gresik, www.panjinasional.net – Serabi makanan tradisional yang jarang kita temui saat ini. jajanan yang pada era tahun 80 an ini sangat favorit sebagai salah satu jajanan di masyarakat pedesaan
Dulu dipasar ataupun di kampung – kampung kerap kali kita temukan makanan tersebut. Bahkan tidak jarang jajanan Serabi ini dulunya hampir setiap warga bisa membikin sendiri karena bahannya yang simpel dan cukup mudah membuatnya.
Saya masih ingat saat kecil, nenek saya kerap kali membuat serabi untuk di nikmati sendiri bersama dengan keluarga. Dengan kompor tungku yang terbuat dari tanah liat, sedangkan apinya didapat dari kayu bakar dan wajan atau cetakan Serabi yang terbuat dari tanah liat pula.
Bahan yang digunakan antara lain tepung beras ketan, dicampur dengan santan kelapa dengan di beri garam kemudian di campur dengan air lalu di aduk hingga adonan merata dan siap di tuangkan ke wajan atau cetakan yang sudah di panas kan di atas tungku atau Pawon.
Tidak seberapa lama setelah di tuang, dan di tutup sehingga matangnya bisa merata di bagian atasnya. Awas jangan kelamaan karena Serabi bisa gosong di bagian bawah menghitam seperti arang.
Siang itu, selepas liputan di desa Serah kecamatan Panceng Gresik, saat melintas di jalan desa saya melihat seorang ibu yang berjualan serabi di depan rumahnya. Wanita yang perkiraan berusia 48 tahun ini mengaku meneruskan resep warisan orang tuanya.
Anifah namanya, didepan tungku atau Pawon (kompor yang terbuat dari tanah liat) itu menuangkan adonan serabi ke wajan yang terbuat dari tanah liat tersebut sembari di tunggui oleh para pembeli setia.
Saya berhenti, dan turut mengantri untuk mendapatkan kue Serabi tersebut. Serabi yang telah matang diangkat dan ditaruh di sebuah tempayan agar agar panasnya berkurang. Pelanggan yang telah mengantri mengambil sendiri serabi tersebut dengan alas menggunakan daun pisang.
Terdapat parutan kelapa di samping tempayan tersebut yang mana pembeli bisa menambahkan parutan kelapa sesuai selera masing-masing.
Giliran saya, untuk mendapatkan serabi yang baru diangkat dari panggangan tungku. Dengan sedikit kepanasan saya ambil Serabi tersebut dengan memakai alas alami yakni daun pisang.
Saya tambahkan parutan kelapa yang sudah di siapkan, dan kemudian saya gigit bagian pinggir nya sedikit demi sedikit, saya rasakan benar tekstur yang lembut sedikit kasar di bagian sisi luar yang sedikit gosong.
Hhmmm…perasaan saya mengingatkan saat masa kecil saya, rasanya sangat khas. Aroma Serabi yang kegosong gosongan membuat selera bertambah. Tak terasa satu serabi habis terlumat di dalam mulut saya.
Saya ambil satu lagi meski pun rasanya menghabiskan satu serabi saja sudah cukup membuat perut ini terisi mengenyangkan. Sambil menghabiskan satu Serabi lagi, para pembeli silih berganti datang dan kebanyakan mereka membeli untuk di bawah pulang (take away).
Selesai makan dua serabi, saya pun membayar dan mengeluarkan uang selembar sepuluh ribuan. Dan ternyata harga untuk dua serabi yang saya makan hanya sebesar Rp 2000,- sangat murah sekali.
Tak disangka tadi saya kira satu Serabi itu harganya lima ribuan eh ternyata hanya seribu an. Kembalian uang tadi saya minta untuk dibungkuskan Serabi saja untuk di bawah pulang. Penjual pun mengambil daun pisang untuk membungkus Serabi.
Menurut Anifah selain pembeli lokal dari di desa Serah dan tetangga desa. Kerap kali juga ada rombongan keluarga yang lewat sini dan berhenti membeli Serabi yang di buatnya.
Setiap harinya Anifah buka jam 1 siang dan rata-rata habis jam 3 sore. Meski dijual murah namun Anifah mengaku dalam berjualan selama dua jam itu dirinya bisa mendapatkan uang antara 60-70 ribu setiap hari nya.
Dia merasa cukup dengan penghasil tersebut dan tidak ada niat untuk menaikkan harga serabi karena dengan dijual seribu satu serabi sudah mendapatkan keuntungan.
Jajanan tradisional seperti Serabi ini memang perlu ada perhatian dari pecinta kuliner agar tidak hilang di telan jaman. (Shol).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here