Gresik, www.panjinasional.net – Pembuangan Material hitam oleh Pabrik Bata ringan di Sedayu Gresik,  yang di duga merupakan meterial yang mengandung Limbah B3 di sebuah lahan bekas Galian C di belakang Pabrik sangat disayangkan.  

Pabrik Bata ringan yang mengaku telah mengantongi ijin Tempat Penampungan Sementara (TPS) untuk limbah yang dihasilkan dari sisa pembakaran tersebut seharusnya ditempatkan pada TPS yang ada.

“ pabrik kami telah mengantongi ijin Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) untuk Limbah” kata Hendro Widiatmoko, SH selaku HRD &GA Manager saat bertemu dengan panjinasional(20/6/ 2020)

Informasi yang di dapat dari investigas ke beberapa pihak, TPS yang di ijinkan tersebut berada di dalam Lokasi pabrik bukan di luar pabrik. Sedangkan bekas galian C tersebut berada diluar pabrik, berada di belakang di alam terbuka dan disitulah material yang di Duga limbah B3 dari batubara di timbun. .  

Diah Dwiana Lestiani, salah satu peneliti di Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri – BATAN Bandung  mengatakan “cerobong-cerobong industri yang menggunakan batu bara menghasilkan sisa pembakaran berupa limbah padat abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash). “ungkapnya dalam tulisan yang dimuat di Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia

Dari hasil penelitiannya didapati jika Limbah B3 yang dibuang langsung ke dalam lingkungan dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Penentuan unsur pada limbah tersebut secara kualitatif dan kuantitatif merupakan langkah awal untuk mengevaluasi dampak terhadap lingkungan terkait dengan risiko kontaminasi lingkungan dan biologis

Limbah abu ini mengandung unsur toksik dan berpotensi besar menjadi masalah lingkungan, bahkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) telah menetapkannya ke dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) berdasarkan PP No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Konsentrasi unsur toksik yang berdampak pada lingkungan seperti As dan Cr pada  abu dasar masing-masing sebesar 6,24 dan 137,4 mg/kg, adapun pada abu terbang masing-masing sebesar 6,37 dan 39,0 mg/kg. Konsentrasi As pada keduanya tersebut telah melebihi batas baku mutu yang ditetapkan dalam PP no.85 tahun 1999.

Setiap asap pabrik industri menghasilkan sisa pembakaran batubara berupa limbah padat abu dasar 25% (bottom ash) dan abu terbang 75% (fly ash) .Abu terbang merupakan partikel abu yang terbawa gas buang, sedangkan abu dasar adalah abu yang tertinggal dan dikeluarkan dari bawah tungku.

Dalam tuntutan hukum, Limbah B3 tergolong dalam tuntutan yang bersifat formal. Artinya, seseorang atau perusahaan dapat dikenakan tuntutan perdata dan pidana lingkungan karena cara mengelola Limbah B3 yang tidak sesuai dengan peraturan, tanpa perlu dibuktikan bahwa perbuatannya tersebut telah mencemari lingkungan.

Seperti telah diberitakan di media ini beberapa hari yang lalu, material hitam di duga Sisa pembakaran batubara (botton ash) yang di urug dengan sisa pecahan material bata ringan sehingga menutupi material hitam tersebut. (****Tim/ BERSAMBUNG )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here