Gambar Ilustrasi

www.panjinasional.netSalam Bhinneka Tunggal Ika!, Sangat perlu kiranya saya ucapkan salam persatuan dari berbagai macam perbedaan yang ada di Indonesia. Bangsa Indonesia terkandung dari banyak perbedaan, baik dari suku, agama, tradisi, dan budaya. Namun berbagai macam perbedaan tersebut dapat disatukan dengan jiwa nasionalis dan kebangsaan, hal tersebut dirangkum dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika “berbeda-beda tetap satu jua”. Sampai saat ini masih belum ada negara yang dapat menyatukan berbagai perbedaan menjadi satu kesatuan yang utuh seperti Indonesia, dan hal itu juga telah menjadi bukti bahwa dasar negara Indonesia “Pancasila” memang betul seperti yang dikatakan oleh bung Karno sebagai dasar yang benar-benar dinamis.

Namun perbincangan yang selalu mempersoalkan Pancasila sampai saat ini masih belum juga usai, dari Pancasila dibenturkan dengan agama, dibenturkan dengan kepentingan kelompok, dibenturkan dengan persoalan sosial yang sebenarnya hal tersebut telah sesuai dengan kehidupan yang terjadi. Untung saja sekarang Gusdur telah wafat, kalau tidak mungkin dia akan tertawa melihat kondisi ini sambil berkata, “gitu aja kok repot”.

Telah diketahui bersama bahwa pancasila merupakan dasar negara yang hal tersebut tentu menjadi penopang kuat bagi berdiri kokohnya sebuah negara, jika pondasinya telah ambruk maka bangunannya pun juga akan ikut ambruk, oleh karena itu dengan adanya negara Indonesia yang telah berpuluh tahun usia kemerdekaannya dan mampu disatukan segala perbedaannya maka sudah jelas pula betapa kuatnya Pancasila sebagai dasar negara. Jika hari ini banyak sekali wacana yang bermunculan untuk merong-rong keutuhan Pancasila bahkan terlebih sampai ingin mendekonstruksi Pancasila, baik dalam hal substansi ataupun non substansi maka dengan sangat jelas hal itu akan mengakibatkan kehancuran yang luar biasa dari keutuhan negara kesatuan republik Indonesia.

Jika boleh dimaknakan secara sederhana, kata “dasar” itu merupakan akar yang dapat mencengkeram kuat kebumi untuk menahan batang pohon agar dapat berdiri kokoh sekalipun diterpa oleh angin yang sangat kencang. Maka dari hal itu sangat tidak masuk akal jika sebuah akar harus dirombak ulang kalau saja tidak ingin batang pohon yang besar dan rindang itu roboh dan hancur. Begitu pula dengan pondasi sebuah rumah yang tidak jauh berbeda dengan hal yang terjadi pada analogi sebuah akar dari pohon besar itu. Maksudnya Pancasila telah menjadi sebuah dasar yang dinamis, tentunya telah mampu sesuai dengan kehidupan disepanjang zaman. Jika hari ini ada suatu konsep hukum yang tidak lagi sesuai dengan kehidupan yang terjadi maka seharusnya bukan Pancasila yang diubah melainkan konsep hukum tersebutlah yang mestinya diubah. Semisal hari ini kondisi sosial agama sedang tidak stabil dan bahkan tidak ada peraturan hukum yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut maka bukan sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa” yang harus diubah atau ditafsirkan kembali melainkan peraturan hukum tersebutlah yang mestinya diganti untuk disesuaikan dengan kondisi yang terjadi.

Selain itu Pancasila juga merupakan falsafah bangsa Indonesia, sebagai sebuah falsafah tentunya Pancasila dapat dijadikan ukuran kerangka berpikir dan bertindak untuk kesejahteraan sosial, juga untuk menyatukan emosional kekeluargaan antar umat beragama, bahkan juga untuk menanamkan jiwa sosialis, nasionalis, dan agamis. Jika dalam teori marxis kesejahteraan sosial hanya dapat ditempuh dengan adanya pemberontakan masif dari kaum proletar terhadap kaum feodal, bahkan salah satu tokoh yang bernama Feuerbach menyatakan bahwa agama hanya akan membuat penganutnya candu dalam mengagungkan agama itu sendiri sehingga menjadikannya malas untuk mengimplementasikan pada kehidupan sosial, ternyata di Indonesia kedua hal itu dapat dikomparasikan menjadi satu dengan adanya Pancasila, yaitu sosialis dan agamis dapat menyatu. Tidak cukup disitu kedua hal diatas masih memerlukan rasa nasionalisme, yaitu dapat mencintai tanah air dan menerima perbedaan yang ada di Indonesia sebagai sebuah kekayaan, maka dari hal itu terciptalah kehidupan berbangsa yang benar-benar tercapai secara murni seperti yang termaktub dalam sila terakhir yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Seperti yang pernah diterangkan oleh Dr. Fahrudin Faiz. S.Ag bahwa rakyat Indonesia cenderung terlalu mementingkan agama dari pada yang lainnya. Sebenarnya ada 4 hal yang sangat dipentingkan oleh rakyat Indonesia, yaitu Agama, Suku, Kebangsaan, dan Kemanusiaan. Dari hal tersebut agama menjadi suatu hal yang sangat utama sehingga terkadang sampai lupa akan maksud dan tujuan dari agama itu sendiri. Jika pada dasarnya agama adalah untuk membangun keharmonisan dalam kehidupan sosial maka ternyata hal itu berubah menjadi anarkisme agama, yang tidak lain disebabkan oleh adanya sikap dan pemahaman yang terlalu fanatik terhadap agama itu sendiri, sehingga pemahamannya pun menjadi pemahaman yang paradog, maka dari hal itu lahirlah kelompok-kelompok yang mudah menyalahkan kelompok lainnya atas nama agama. 

Melihat beberapa studi kasus yang terjadi, sebenarnya empat hal diatas dapat di komparasikan menjadi satu, dapat di implementasikan secara bersamaan sehingga nanti akan lebih mengarah pada maksud dan tujuan dari Pancasila itu sendiri, yaitu persatuan Indonesia dengan tetap mencintai berbagai macam perbedaan yang ada di Indonesia.

Selain itu Dr. Fahrudin Faiz juga pernah mengemukakan terkait pendapat bungkarno mengenai Pancasila, yaitu dari “Pancasila menjadi Trisila, dari Trisila menjadi Ekasila”, maksudnya dari lima sila yang ada dapat diperas menjadi tiga dan yang tiga intisarinya hanya satu, yaitu gotong royong. Berbicara gotong royong tentu tidak hanya terbatas pada kerja bakti saja melainkan secara substantif gotong royong tersebut merupakan sebuah rasa kesatuan untuk saling membantu dan saling menjaga satu sama lain. Dari hal itulah keharmonisan berbangsa dan bernegara akan tercapai secara murni bahkan tidak hanya mendahulukan kepentingan dan kepuasan ego sektoral melainkan lebih mendahulukan kebutuhan bersama untuk saling menjaga dan merawat sesama bangsa Indonesia, itulah sebenarnya tujuan dari Pancasila. Jadi jika hari ini agama masih dibentur-benturkan dengan Pancasila, maka hal itu menunjukkan bahwa kelompok tersebut kurang paham akan falsafah bangsa Indonesia dan pergulatan sejarah kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia, sebab kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari semangat rakyat Indonesia yang memang dari mulanya memiliki berbagai macam perbedaan.

Terakhir, setelah kita ketahui betapa kuatnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, lalu pentingkah kiranya Pancasila untuk dipertahankan?, Jawaban itu saya kira bukan untuk dijabarkan kembali melainkan cukup diimplementasikan pada kehidupan sosial.

Penulis

*Oleh: Moh. Busri. Penulis sebagai Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here