Moh. Busri Penulis

www.panjinasional.net – Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat Islam, karena dibulan tersebut pahala untuk orang yang beribadah dilipat gandakan oleh Allah SWT. Bahkan saking sangat utamanya bulan Ramadhan, tidurnya umat Islam yang berberpuasa juga diberi pahala yang berlipat ganda oleh Allah. Selain itu sebenarnya bulan Ramadhan juga merupakan waktu istirahat bagi fisik dan rohani karena setelah sebelas bulan umat Islam bekerja keras memenuhi kebutuhan duniawi tentunya sangat perlu adanya waktu istirahat yang cukup. Maka dibulan suci Ramadhan Allah SWT memberikan waktu istirahat untuk fisik dan rohani manusia supaya mengurangi takaran aktivitasnya.

Manusia adalah mahluk yang tidak memiliki batas kepuasan, dirinya selalu menginginkan sesuatu lebih dari yang telah didapat. Sebenarnya, hanya ada satu hal yang membedakan manusia dengan binatang yaitu cara berpikir (akal), maka dari itu jika saja manusia tidak dapat berpikir sehat selayaknya manusia yang dapat bermanfaat untuk manusia yang lain maka dengan jelas dapat dipastikan bahwa manusia tersebut sama halnya seperti hewan bahkan lebih parah sebab sifat ketidak puasan yang dimiliki manusia melebihi sifat rakusnya binatang. Pada umumnya manusia berbanting tulang untuk memenuhi kepuasan duniawi yang hal itu tidak pernah menemukan ujung.

Bermula dari kebutuhan pokok manusia yang sebenarnya cuma sebatas sepiring nasi dan selembar baju, setelah dirinya berhasil mendapatkan semua itu maka dirinya juga akan bermimpi untuk mendapatkan sekarung beras, begitulah seterusnya. Bahkan semisal dunia berhasil dimiliki maka kepuasan itupun tidak akan pernah putus sampai disana. Maka tidak salah jika manusia yang bersukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah itu lebih baik dari pada manusia yang kaya raya namun tidak pernah merasa cukup, sebab ketidak puasan itulah yang akan menunggangi dirinya hingga lupa akan dirinya sendiri.

Waktu siang terasa kurang dan begitu juga dengan waktu malam, banginya tiada waktu yang cukup untuk menuntaskan pekerjaan. Secara tidak langsung hal itu merupakan sebuah penyiksaan pada fisik serta rohani, karena waktu istirahat yang kurang maksimal akan menyebabkan kesehatan terganggu, juga dengan otak yang terus berpikir tanpa ada waktu refreshing maka juga akan mengganggu kesehatan mental. Allah SWT telah mengetahui semua itu, maka diri-Nya memberikan nikmat yang luar biasa dibulan Ramadhan. 

Dibulan itulah umat muslim diwajibkan untuk berpuasa agar pola makannya dapat teratur sehingga kesehatan tubuh bisa stabil. Hal itu pernah diungkapkan oleh beberapa pakar kesehatan bahwa puasa dapat berdampak positif bagi kesehatan tubuh. Dikutip dari Kompas yang dilansir pada 24 April 2020 bahwa manfaat puasa tidak hanya berpengaruh positif bagi kesehatan mental melainkan juga bagi kesehatan fisik.

Selain itu nuansa berbeda juga sangat sering dijumpai pada bulan suci Ramadhan, orang yang biasanya bekerja tidak mengenal waktu akan lebih mengkondisikan dengan bekerja ala kadarnya saja. Orang yang biasanya lebih suka mengumpulkan harta sebanyak mungkin, maka dibulan suci Ramadhan sangat banyak orang yang dermawan dengan membagi rezeki pada orang yang lebih membutuhkan.

Dan orang yang biasanya lebih suka membicarakan aib orang lain maka di bulan tersebut akan lebih banyak orang yang membacakan ayat suci Al-Quran. Demikianlah bulan suci Ramadhan yang segala rahmat tuhan dilimpahkan pada hambanya yang masih iman terhadap-Nya.

Andaikan saja manusia bisa menyadari betapa basarnya nikmat Tuhan yang diberikan pada dirinya, sama seperti yang disadari pada bulan Ramadhan tentu perjalanan hidupnya akan lebih tenang dengan ungkapan sukur. Masyarakat yang berkemampuan minim akan lebih dihargai dan dibantu oleh sesamanya sehingga tidak ada lagi ratap tangis lantaran kelaparan. Tidak cukup adanya kecukupan duniawi jika hal itu tidak diiringi dengan rasa sukur, karena ketenangan dari dalam jiwa tidak akan diperolehnya. Saat ketenangan itu sulit diperoleh maka sepanjang kehidupan manusia hanya akan diperbudak oleh egonya sendiri.

Ada banyak hal yang harus dipelajari dari hikmah bulan Ramadhan, seperti halnya sifat dermawan untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan terhadap sebagian harta yang kita miliki, itu tidak akan pernah mengurangi rezeki yang akan dilimpahkan oleh Allah kepada kita. Dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah telah berjanji akan melipat gandakan rezeki-Nya untuk umat manusia yang bersyukur, dan sedekah merupakan bagian dari bentuk syukur.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya : Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, \”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.\” (QS. Ibrahim :7)

Bukti dari ayat diatas sangat jelas dapat dilihat pada bulan Ramadhan, yaitu dengan banyaknya umat muslim yang saling berbagi namun ternyata hal itu tidak mengurangi rezeki yang dilimpahkan oleh Allah kepadanya, melainkan hal itu semakin beranak pinak sehingga membuat mereka yang bersedekah semakin berkecukupan. 

Secara kasat mata dibulan Ramadhan umat muslim sedikit mengurangi porsi kerjanya karena sedang berpuasa, namun ternyata hal tersebut tidak sedikitpun menjadi penghalang bagi nikmat Tuhan yang hendak diturunkan pada dirinya, bahkan nikmat itu semakin berlipat ganda jika semua itu diterima dan disyukuri dengan ikhlas.

Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, jika pada bulan sebelumnya umat manusia merasa resah lantaran sulit menemukan pekerjaan juga dihantui rasa khawatir akan apa yang hendak dimakan, ternyata pada bulan Ramadhan tuhan memberikan ketenangan jiwa yang luar biasa sehingga rasa khawatir itu berubah menjadi syukur jika dirinya benar-benar beriman kepada Allah SWT. 

Maka jika ketenangan itu ingin tetap abadi dalam diri setiap manusia, janganlah pernah berhenti untuk bersyukur dan ikhlas selagi hal itu masih berada dijalan-Nya. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat memberikan manfaat kepada manusia yang lain, maka jangan pernah khawatir karena Allah selalu bersama hamba yang masih iman kepada-Nya.

**@Moh.Busri, Penulis adalah Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here