Oleh : Moh Busri*

www.panjinasional.net – Kemerdekaan seorang perempuan selalu dipandang sesuatu yang semu, lantaran dunia seorang perempuan selalu dibatasi pada profesinya sebagai ibu rumah tangga yang perannya cukup dikasur, sumur, dan dapur. Terlepas dari itu perempuan hanya sebagai makmum bagi suaminya yang dituntut untuk nurut dan patuh dalam segala kehendaknya, bagi siapa saja yang melangkahi kehendak seorang suami maka neraka baginya. Doktrinasi kultur sosial ataupun pemahaman agama yang kolot seperti ini sangat perlu untuk didekonstruksi agar kebodohan yang serupa tidak semakin mengakar pada anak cucu generasi selanjutnya.

Pada hakikatnya perempuan juga memiliki hak untuk merdeka dalam segala hal, merdeka berpendapat menyampaikan aspirasi, merdeka untuk menempuh proses pendidikannya, merdeka untuk menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya, namun disisi lain juga tidak lepas perannya sebagai makmum untuk suaminya. Jika perempuan selalu dibatasi langkah prosesnya maka bagaimana jika hari esok tidak ada lagi perempuan yang berpendidikan, apakah perempuan hanya akan dijadikan seorang babu, apakah hal demikian dapat dikatakan adil?.

Membahas tentang kebebasan perempuan maka sangat menarik jika lebih fokus pada perempuan Madura. Madura merupakan sebuah pulau di Jawa Timur, banyak sekali orang berpendapat bahwa penduduk Madura memiliki karakter yang keras bahkan satu hal yang sangat terkenal dipulau ini, yaitu “Carok”. Namun ternyata banyak hal yang masih belum diketahui dari pulau Madura ini, yaitu salah satunya tentang perempuan Madura. Seperti yang telah dibahas diatas bahwa jika pada umumnya perempuan hanya dianggap mampu menempati pekerjaan di kasur, sumur dan dapur ternyata hal itu berbeda denga perempuan Madura. Pada umumnya perempuan Madura mimiliki profesi yang hampir sama dengan laki-laki.

Pertama, cara bekerja perempuan Madura setara dengan cara bekerja kaum laki-laki pada umumnya. Jika perempuan pada biasanya selalu dipandang lemah dan tidak mampu bekerja setara dengan kemampuan laki-laki maka berbeda dengan perempuan Madura pada umumnya. Daerah yang mayoritas penduduknya adalah petani garam ini memiliki penduduk perempuan yang cukup besar semangatnya. Pada umumnya pekerjaan berat sepeti mencari nafkah dengan banting tulang selalu dikerjakan oleh seorang laki-laki, namun perempuan dipulau ini juga bekerja keras mencari nafkah untuk membantu suaminya agar dapat hidup sejahtera dalam keluarganya dengan berbanting tulang (bertani) bersama seorang suaminya tanpa ada klasifikasi taraf pekerjaan.

Kedua perempuan di Madura juga memiliki kebebasan dalam hal pendidikan. Hari telah memasuki era yang dikenal dengan 4.0 yaitu peperangan bukan lagi menggunakan senjata melainkan menggunakan kemampuan dalam hal ilmu pengetahuan dan mereka yang memiliki kemampuan kreativitas rendah maka akan benar-benar tertinggal terlebih dalam hal ilmu pengetahuan. Oleh karena itu maka menjadi sangat wajib adanya kebebasan dalam berproses untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Begitu pula yang terjadi pada perempuan Madura yang mengoptimalkan adanya bantuan pemerintah untuk melanjutkan pendidikan sampai pada taraf perkuliahan. Tidak sedikit perempuan Madura yang telah berhasil melanjutkan pendidikannya sampai pada taraf perkuliahan dan hal tersebut juga merupakan bagian dari kemerdekaan bagi kaum perempuan di pulau Madura.

Namun ada satu hal yang sampai hari masih menjadi kebiasaan kurang baik di pulau ini yaitu pernikahan dini. Sebenarnya hal itu bukan berarti terkesan tidak baik adanya pernikahan pada seorang perempuan yang baru saja menginjak usia 17 tahun hanya saja dilihat kurang baik, sebab pada usia sedemikian harusnya anak muda pada umumnya terfokus pada dunia proses memperoleh ilmu pengetahuan. Pandangan orang Madura melihat seorang perempuan terasa kurang baik apabila terlalu bebas berkeliaran diluar rumah jika tidak ada yang menjaganya. Maka sebab hal itu pernikahan tersebut dilaksanakan bertujuan agar perempuan ada yang menjaganya.

Masyarakat Madura sangat menjaga adanya etika, hal itu dapat dilihat pada tingkatan bahasanya yaitu bahasa tinggi (dikhususkan bagi pembicara yang lebih muda pada yang lebih tua) kedua bahasa menengah (dikhususkan bagi pembicara yang sejajar usianya dengan lawan bicaranya) ketiga bahasa rendah (dikhususkan bagi pembicara yang lebih tua pada yang lebih muda). Apa bila tingkatan bahasa tersebut tidak digunakan secara baik maka pembicara akan disebut sebagai orang yang kurang baik pula etikanya. Selain itu Madura juga memiliki falsafah “Bhapa’ Bhabhi Ghuru Rato” yang artinya seseorang yang perlu dihormati adalah bapak ibu guru dan raja.

Dengan adanya beberapa hal diatas maka cara orang Madura menjaga kehormatan dan martabat seorang perempuan yaitu dengan menikahkan perempuan pada usianya yang baru menginjak usia 17 tahun agar dirinya ada yang menjaganya. Jika dilihat dari sisi tersebut maka hal itu dapat dikatakan cukup baik akan tetapi jika dilihat pada sisi yang lain maka pada usianya yang baru menginjak fase dewasa seharusnya masih berproses dalam pendidikan.

Namun pada akhir-akhir ini kultur demikian sudah mulai luntur, dalam artian seorang perempuan sudah mulai mencapai kemerdekaannya dalam mencari ilmu pengetahuan atau melanjutkan pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi. Rusaknya sebuah negri bisa disebabkan oleh seorang perempuan dan majunya suatu negri juga dapat disebabkan oleh perempuan, oleh karena itu harusnya perempuan dapat memanfaatkan kebebasannya untuk kebaikan negerinya.

*Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here