*Manusia, Akal, dan Peleburan Diri*

Oleh : Moh. Busri

www.panjinasional.net – Setiap individu pada nyatanya tidak akan pernah lepas dengan adanya Persoalan. Baik persoalan secara internal ataupun eksternal, yang hal tersebut menjadi keharusan bagi dirinya untuk melewati semua itu. Tentu untuk melewati sebuah persoalan membutuhkan akal sehat untuk berpikir, agar solusi yang dilahirkan merupakan cara yang terbaik. 

Sejalan dengan hal tersebut Rene Descartes pernah mengatakan “aku berpikir maka aku ada”. 

Dari hal itu manusia sebagai mahluk berakal hanya dapat diterima keberadaanya jika mampu berpikir, dan manusia yang tidak dapat berpikir maka secara tidak langsung dirinya tidak akan sadar dengan keberadaannya, hal tersebut dapat dilihat pada kehidupan manusia yang memiliki kekurangan dalam berpikir (gila).

Tujuan manusia berpikir pada intinya hanya ingin mencapai ketenangan, dan pada saat proses pencapaian ketenangan tersebut manusia dituntut untuk berpikir keras agar menemukan solusi dengan cara yang bermacam-macam dan salah satunya adalah ketenangan yang dicapai dengan jalan spiritual yang berbentuk agama.

Dalam proses ini membutuhkan konsentrasi dan keseriusan yang tinggi. Bagaimana tidak, sementara proses peng-Esaan Tuhan bagi para Agamawan membutuhkan peleburan jiwa secara total agar dapat menyatukan realitas tuhan dengan realitas dirinya sendiri. 

Setelah hal itu dapat dicapai dengan sempurna maka ketenangan yang diharapkan benar-benar akan dirasakan. Maka bukan hal yang aneh jika keberadaan dunia menjadi tiada dalam dirinya, karena peleburan yang itu sudah dapat menghadirkan realitas tuhan secara murni dalam dirinya sehingga dapat menghilangkan segalanya.

Proses peleburan secara spiritual jika dilalui pada tahap tertinggi memang bukan hal yang mudah. Sehingga ada beberapa tahapan yang mesti dilaluinya.

Proses peleburan diri dengan Tuhan dalam agama Islam diklasifikasikan menjadi empat tahapan. Yang pertama tahapan syari’at, kedua thoriqot, ketiga haqiqot, dan keempat ma’rifat. Sebagian pendapat mengibaratkan syari’at sebagai perahu, thoriqot sebagai lautan, dan haqiqot sebagai permata/mutiara dalam lautan.

Syari’at diibaratkan sebagai perahu karena tidak memungkinkan untuk memperoleh mutiara tanpa adanya perahu sebagai kendaraan. Maka dari itu syari’at itulah yang akan menjadi alat pengantar atau penyelamat untuk tercapainya pada suatu tujuan agar dapat memperoleh mutiara ditengah lautan. 

Sementara Thoriqot di ibaratkan sebagai lautan, yaitu agar perahu yang dijadikan kendaraan dapat dipergunakan sebagai mestinya. Menjadi hal yang sangat tidak masuk akal perahu dapat beroperasi jika tidak ada lautan, bahkan juga sangat mustahil kerang akan hidup untuk mengandung mutiara tanpa adanya air laut.

Jadi antara perahu (Syari’at), lautan (Thoriqot), dan mutiara (Haqiqot) merupakan tiga pokok yang saling berkesinambungan satu sama lain. Barang siapa yang sudah mampu melewati tiga hal diatas atau sudah memperoleh mutiara, maka disitulah manusia tersebut akan mencapai titik ma’rifat, yaitu tingkatan tertinggi.

Pada tingkatan tersebutlah peleburan realitas tuhan dengan dirinya dapat menyatu sehingga dunia fana tidak lagi ada dalam benaknya dan ketenangan sejati akan didapat.

*Kritik Agama Feuerbach

Berbeda dari narasi diatas, menurut Feuerbach sebagai pengkritik agama mengatakan bahwa agama hanya menjadi pemicu konflik dalam kehidupan manusia. Baginya agama hanya dapat melahirkan pertikaian dengan sikap fanatik, selain itu juga dapat melahirkan rasa malas yang disebabkan oleh kepercayaan yang terlalu bergantung pada do’a.

Jadi menurut Feuerbach, agama tidak lagi dijadikan sesuatu yang diagungkan. Begitu pula Tuhan, baginya tidak lagi menjadi realitas keagungan dengan segala maha-Nya.

Melainkan keberadaan agama dengan segala substansinya harus ditarik kedalam diri manusia. Kepemahaan Tuhan sebagai Realitas yang maha pengasih, penyayang, dan sebagainya tidak lagi dijadikan kalimat pujian, namun ditarik kedalam diri manusia agar dapat menjadi makhluk yang maha pengasih, penyayang, dan seterusnya. Sehingga tidak lagi ada pertikaian dimuka bumi, dan setelah itu ketenangan individu dan sosial akan tercipta dalam kehidupan sosial.

Setiap manusia memiliki hak tersendiri untuk mencapai ketenangannya. Baik memilih jalan spiritual dalam bentuk agama atau memilih jalan yang lain, namun pada intinya manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. 

Maksudnya manusia masih membutuhkan manusia yang lain untuk dapat bertahan hidup. Maka secara tidak langsung untuk mencapai ketenangan, manusia masih membutuhkan kehidupan yang harmonis dengan manusia lainnya.

*Manusia dengan Kecerdasan Karbitan*

Hari ini telah sampai pada masa yang dikenal dengan era yang penuh pengetahuan, bahkan dapat dikatakan sangat nihil untuk ditemukannya manusia bodoh yang masih hidup sampai saat ini. 

Kecerdasan dan kepintaran manusia saat ini tidak lagi mampu untuk diukur dengan alat tes apapun. Dari hal itu lahirlah genarasi “Justisis” atau dapat kita kenal sebagai generasi penjastis. Genarasi tersebut merupakan generasi yang cerdas dalam menghakimi manusia lainnya. 

Mereka yang beragama dengan sangat mudah menjadi hakim untuk mereka yang tidak beragama, dan lebih parahnya seakan dirinya telah menjadi panitia surga dan neraka untuk mengkafirkan orang lain. Bahkan selain itu juga terdapat hal yang lebih lucu, yaitu hanya lantaran berbeda paham agama terkadang masih juga saling mencaci satu sama lain. 

Tidak jauh berbeda dari hal itu, mereka yang tidak beragama pun juga ikut-ikutan menjadi generasi Justisis. Mengkritik agama kesana kemari tanpa adanya dasar teori ilmiah yang jelas.

Badiuzzaman Said Nursi pernah mengatakan bahwa sesuatu yang paling pantas untuk dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri, dan sesuatu yang paling pantas untuk dicintai adalah cinta itu sendiri. Jadi tidak perlu merepotkan diri untuk mencari siapa yang menjadi musuh melainkan menyelesaikan permusuhannya. Dan tidak perlu memandang siapa yang pantas untuk dicintai karena yang harus dicintai adalah cinta itu sendiri yang berhak diberikan pada seluruh umat manusia.

Ketenangan batin memanglah suatu kebutuhan bagi manusia, dan hal itu bebas mau ditempuh dengan cara apapun yang pada intinya perdamaian antar sesama merupakan gambaran dari ketenangan jiwa manusia. Insan yang berpengetahuan seharusnya tidak hanya menjadi penjastis terhadap manusia lainnya, melainkan memberikan pengetahuan. Dan dengan pengetahuan itulah manusia dapat dikatakan sebagai mahluk terdidik atau berpendidikan.

Sehingga Aresto Thales pernah mengatakan tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia (Humanisme). Maka dari itu berhentilah menjadi akademisi karbitan yang kerjanya hanya menghakimi manusia lain. Semua agama memiliki ajaran yang baik, dan bertujuan untuk membangun keharmonisan satu sama lain, jadi percuma menjadi manusia beragama jika tidak dapat menjalin keharmonisan.

Jika menurut Feuerbach, manusia tidak perlu mengagungkan tuhan dan agama melainkan menarik substansi agama kedalam dirinya agar menjadi manusia yang maha pengasih penyayang dan seterusnya. 

Maka bagi saya alasan mengagungkan Tuhan dan agama tidak lain hanya untuk meminta jalan keharmonisan dan hal itu saya temukan pada kaindahan Asmaul Husna..

*Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here