Oleh: Moh Busri.

*Kabar Corona Memicu Kepanikan Publik*

www.panjinasional.net – Perbincangan virus Corona sampai saat ini masih menjadi topik hangat ditengah sosial. Bahkan pada awal kepulangan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China ke Indonesia kemarin sempat menjadi situasi yang sangat meresahkan masyarakat. Hal itu dikarenakan cepatnya isu yang beredar di publik bahwa virus Corona merupakan virus yang sangat jahat dan mudah menular. Pada satu sisi memang perlu adanya kewaspadaan dalam menyikapi hal itu, namun jika masyarakat menyikapi hal itu dengan tindakan yang panik maka hal tersebut tidak akan menjawab persoalan. Justru tindakan sedemikian akan membangun isu publik yang terpelintir dari hal yang seharusnya sampai dengan baik.

Himbauan untuk menyikapi keadaan yang terjadi dengan sikap tenang sudah seringkali disampaikan. Seperti kabar yang dilansir oleh Kompas.com pada (Senin, 27 Januari 2020), virus Corona yang berawal dari kota Wuhan memang sudah menyebar ke 13 negara, diantaranya Kanada, China, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam, Nepal, Perancis, dan Australia. Namun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik dalam menyikapi adanya pemberitaan virus corona.

Sedangkan pada waktu yang berbeda tepatnya tanggal, 3 Maret 2020, pukul 08.40 Waktu Indonesia Barat (WIB), Kompas TV, juga mengabarkan terkait hal itu, bahwa pada 14 Februari lalu, WNI (Kompas TV, tidak menyebutkan nama) yang berusia 31 tahun melakukan kontak langsung dengan Warga Negara Jepang (WNJ) yang tengah berada di Indonesia. Lalu, pada 16 Februari, WNI tersebut mengalami batuk-batuk dan memeriksakan diri ke rumah sakit dan berobat jalan.

Namun pasca berobat, kondisi dari WNI itu tidak kian membaik bahkan semakin parah, ditambah lagi dengan sesak napas, demam, dan batuk-batuk. Sehingga dirinya meminta untuk dirawat inap pada 26 Februari. Kemudian pada 28 Februari, WNI ini dihubungi oleh temannya (WNJ) yang menyatakan dirinya positif terjangkit virus corona dan dirawat di Malaysia, ternyata ibu dari WNI ini juga mengalami gejala yang sama. Sehingga pada 1 Maret WNI itu dan ibunya memutuskan untuk dipindahkan ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dan pada 2 Maret, hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa keduanya positif terjangkit virus Corona.

Kabar mengenai virus tersebut semakin hari semakin hangat diperbincangkan, sehingga kepanikan dari masyarakat semakin sulit untuk dikondisikan. Terlebih akhir-akhir ini beredar surat dari Palang Merah Indonesia melalui WatsApp yang diterbitkan di Surabaya pada, 3 Maret 2020, dengan nomor surat : 267/02.06.00/YANKES/III/2020, Prihal, Tindakan Penyebaran Virus Corona, yang ditujukan kepada ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten/Kota se Jawa Timur.

Dalam surat tersebut tertera nama-nama kota dengan jumlah 65 orang yang suspect (tersangka) terjangkit virus Corona. Himbauan dari surat itu bertujuan agar PMI kota setempat memberikan pendampingan. Kota-kota yang tercantum diantaranya:

1. Sidoarjo, 3 orang

2. Surabaya, 34 orang

3. Tuban, 1 orang

4. Banyuwangi, 1 orang

5. Bojonegoro, 1 orang

6. Bondowoso, 1 orang

7. Gresik, 1 orang

8. Jember, 1 orang

9. Kediri, 4 orang

10. Lamongan, 2 orang

11. Lumajang, 4 orang

12. Malang, 7 orang

13. Pamekasan, 1 orang

14. Ponorogo, 1 orang

15. Probolinggo, 3 orang

Beredarnya surat itu telah memancing pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat, lantaran tidak ada kejelasan detil mengenai hal itu. Dilansir oleh “Beritajatim.com” pada Kamis, 5 Maret 2020, bahwa beredarnya surat diatas telah membuat PMI Kota Kediri langsung diserbu pertanyaan dari berbagai kalangan. Mereka yang bertanya-tanya hanya ingin memastikan kejelasan dari kabar tersebut.

Infonya PMI Kota Kediri memang menerima surat yang sama melalui email. Tetapi, belum mendapatkan kepastian bentuk pendampingan yang dimaksud dalam isi surat internal yang diduga ‘bocor’ itu. Terlebih dalam surat itu, empat orang hanya disebut warga Kediri, tanpa diketahui dari wilayah kota ataupun Kabupaten Kediri. Menyikapi hal itu Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Herlin Ferliana membantah bila 65 orang tersebut suspect corona. Herlin menyebut, 65 orang itu dalam keadaan sehat. Istilah suspect dalam pedoman penanganan COVID-19 sudah dihapus, karena orang cenderung panik dan itu masuk dalam kelompok sakit. Sedangkan 65 orang sesuai surat PMI, itu merupakan kelompok 1 yaitu orang sehat.

Corona Menjadi Tunggangan Kepentingan

Jika coba disadari dengan nalar kritis ada hal miris ditengah hangatnya perbincangan tentang kasus virus Corona. Tidak sedikit orang yang sengaja menunggangi kabar virus Corona dengan kepentingan pribadinya. Ditengah kepanikan publik  yang ketakutan dengan virus Corona, banyak orang-orang yang mengambil kesempatan hal itu dengan memasarkan obat-obatan, yang katanya dapat mengatasi penyakit tersebut, padahal belum ada penelitian jelas mengenai hal itu.

Secara tidak langsung tindakan demikian akan merugikan orang lain, karena obat yang dipromosikan dapat mengatasi virus Corona itu ternyata tidak dapat menjadi solusi. Bahkan hal tersebut justru akan menambah masalah lain yang disebabkan oleh efek samping dari obat tersebut, apalagi tidak ada resep dokter. Disadari seperti apapun mengenai hal itu biarlah publik yang menilai, namun setidaknya ada sedikit kesadaran pada setiap individu agar tidak gegabah dalam mengambil langkah.

Dalam kasus yang lain, sering kita temukan beberapa orang yang berbondong-bondong membeli masker dengan maksud ingin mencegah tersebarnya virus Corona. Sejauh ini masih belum ada kepastian jelas bahwa menggunakan masker dapat mencegah terjangkitnya virus Corona. Melainkan yang jelas tindakan itu akan membuat penggunaan masker yang berlebihan. Sehingga hal itu menyebabkan orang yang sejatinya memang membutuhkan menjadi kesulitan untuk mendapatkannya, karena stok yang tersedia telah dihabiskan konsumen yang gegabah dalam mengambil langkah.

Dengan mencuatnya konsumen pengguna masker maka dihawatirkan akan banyak orang yang juga ingin memanfaatkan hal itu dengan menimbun stok masker. 

Sehingga tidak heran jika kepolisian turun langsung kelapangan untuk mencegah kejadian sedemikian. Seperti yang dilansir oleh “Times Indonesia” pada Rabu, 4 Maret kemarin, Jajaran Polres Majalengka, menggelar Inspeksi Mendadak (sidak) untuk mengecek ketersediaan masker ke sejumlah apotek, pasar hingga gudang farmasi, hal itu dilakukan untuk mencegah penimbunan masker ditengah merebaknya isu virus corona.

Bahkan bukan hanya itu, ada juga kasus tentang kabar hoax mengenai virus Corona, sehingga kepanikan dan kegaduhan publik menjadi semakin parah. Terlepas dari latar belakang kepentingan yang diinginkan, namun hal itu sangat tidak baik untuk kondisi publik. Pada Sabtu kemarin, 7 Maret 2020, “Suara.com” telah memberitakan mengenai kasus berita hoax yang disebarkan oleh Fahira Idris anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

Sampai saat ini kasus berita hoax itu masih tetap berlanjut diranah hukum. Ditegaskan oleh Advokat Muannas Alaidid bahwa dirinya tidak akan mencabut laporan kepolisian atas kasus dugaan hoaks virus corona yang digaungkan oleh anggota DPD RI (Fahira Idris). Muannas bersikeras untuk melanjutkan proses hukum yang ada.

Hal itu bisa dijadikan sebuah pembelajaran bagi publik bahwa belum tentu kabar yang beredar adalah adalah berita asli. Bahkan bisa jadi orang yang menyampaikan berita tidak jelas tersebut mempunyai kepentingan pribadi. Jadi alangkah lebih baiknya jika dalam hal ini tidak dilalui dengan langkah yang gegabah, lebih-lebih sampai menyikapinya dengan panik. Berpikir tenang dan jernih merupakan cara yang sangat baik dari pada harus mengambil keputusan gegabah yang tidak pasti hasilnya.***

*Penulis: Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Redaktur Pelaksana LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep.

1 KOMENTAR

  1. Artikel ini sangat bagus, bahkan sangat penting untuk di konsumsi publik. Agar mereka sadar dan dapat berfikir jernih dalam menyikapi isu firus yang di sebut korona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here