Semarang. www.panjinasional.netKawasan wisata Kota Lama Semarang kian hari kian menampakkan keasrian dan keindahannya. Pengunjung pun jumlahnya  semakin banyak. Mereka datang dari dalam maupun luar kota Semarang, ada yang sekedar ingin tahu untuk berselfiria dan ada pula yang ingin menikmati aneka macam kuliner.

Keberadaan Kota Lama nan cantik jelita itu tidak lepas dari perhatian pemerintah Kota Semarang dan partisipasi masyarakat serta  dukungan para pegiat ekonomi yang konsen terhadap pengembangan kawasan wisata, tanpa mengutamakan profit oriented semata. 

Salah satu pelaku ekonomi yang ikut konsen terhadap pengembangan kawasan Kota Lama Semarang adalah Toko Oen. Ownernya, Megaputri Megaradjasa yang akrab dipanggil Yenny berkerjasama dengan pengusaha batik, Lily Santosa, menyulap salah satu gedung yang dulu mangkrak dan kumuh, menjadi gedung yang nyaman disinggahi sambil menikmati ice cream berikut snack yang disajikan oleh pramuniaga pilihan.

Kalau masyarakat Semarang sejak lama mengenal Toko Oen sebagai restoran dan penyaji oleh-oleh di Jl. Pemuda 52 Semarang, kini telah mengembangkan sayap membuka kedai  ice cream bertemakan oud en nieuw sambil mendarmabhaktikan diri ikut mengembangkan kawasan Kota Lama, Jl. Mpu Tantular 29, yang sekaligus sebagai destinasi wisata Kota Semarang.

“Kami memang tidak bisnis semata, melainkan juga ingin ikut mengembangkan kawasan Kota Lama dari kumuh tak terawat, menjadi kawasan yang indah dan menyenangkan sehingga banyak dikunjungi orang yang ingin menikmati keindahannya,” kata Yenny dalam acara dialog bersama awak media dan mahasiswa   di Kota Lama, Kamis (9/1/20) lalu.

Dalam kegiatan media visit yang diprakarsai belasan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Udinus itu, hadir sebagai narasumber pemilik dan partner ice cream oud en nieuw, Yenny dan Lily Santosa, dosen Udinus Devi Purnamasari dan pakar kuliner yang mengelolah kedai, Ign Hendrianto.

Terkait bangunan yang direhab untuk kedai ice cream perpaduan gaya lama dan baru, Lily Santosa menjelaskan bangunan tetap mempertahankan orsinalitas bangunan gedung yang sudah ada. Hanya dikosmetiki di beberapa wajah bangunan saja.

“Bahkan lantai yang ditinggikan sekitar 50 cm ini tidak membongkar lantai aalinya. Jadi kalau suatu saat dibongkar bangunan lantai asli masih ada,” tambah Hendri. (Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here