Ketua MUI yang juga Ketua Baznas Jateng Dr KH Achmaf Darodji (tengah) didampingi Dr KH Fadlolan Musyaffa', MA dan host Myra Azzahro.

Semarang.www.panjinasional.net – Program pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah yang dipelopori Gubernur H Ganjar Pranowo SH MIP, bukan hanya tanggung jawab pemerintah provinsi semata, namun harus melibatkan semua pihak  termasuk jajaran Baznas Jawa Tengah.

“Jadi, misi mengentaskan kemiskinan menjadi misi bersama sebagaimana disampaikan Pak Gubernur, pengentasan kemiskinan harus dikeroyok bareng-bareng agar hasilnya cepat terlihat,” tegas Ketua Umum MUI Jawa Tengah sekaligus Ketua Baznas Jawa Tengah, Dr. KH. Ahmad Darodji, MSi dalam dialog interaktif “Ulama Menyapa”, Senin (6/1/2020). Hadir juga narasumber lain Sekretaris, Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah Dr KH Fadlolan Musyaffa’ Lc MA, dengan host Myra Azzahra. 

Achmad Darodji menegaskan, komitmen Baznas Jateng untuk pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah semakiin hari semakin besar. Antara lain sukses menyelenggarakan pelatihan pertukangan terhadap 1227 orang dengan bersertifikat, sehingga seluruh peserta dengan modal keterampilan dan sertifikat tersebut kini sudah bekerja bahkan sebagian besar direkrut di luar negeri seperti di Thailand dan Arab Saudi. Selain pertukangan juga pelatihan budidaya lele, jangkrik, ulat sutra, cukur rambut hingga home industri pembuatan aneka kue bagi ibu-ibu. Program produktif lainnya, Baznas membentuk Baznas Microfinance yang misinya memberi bantuan modal kepada UMKM yang kekurangan modal dengan cara pendampingan, juga dalam bentuk bantuan tanpa bunga dan tanpa agunan. Sedikitnya sudah 400 orang yang diberdayakan. Di 2020 rencana dikembangkan untuk 600 orang, sehingga total menjadi 1000 orang.

Alhamdulillah, lanjut Kiai Darodji, dari kerja keras untuk mengatasi kemiskinan yang di 2013 masih tinggi, 13 persen lebih, kini di akhir 2019 sudah berada di 10 persen. Di 2020 akan dioptimalkan lagi agar kemiskinan menurun menjadi 8 persen.

“Baznas punya peran cukup strategis dalam upaya menurunkan angka kemiskinan di Jawa Tengah,” tegasnya sambil menambahkan kalau pihaknya kini juga menyiapkan bantuan korban banjir di Jabodetabek.

Kiai Darodji menggugah masyarakat untuk sadar zakat. Mengingat dari potensi Rp 270 triliun per tahun untuk angka nasional, realisasinya baru tercapai Rp 10 triliun. Bila kesadaran berzakat semakin tinggi maka semakin cepat pula kaum fakir miskin yang akan terentaskan dari semula penerima zakat menjadi pemberi zakat karena ekonominya sudah mapan.

Dr KH Fadlolan menegaskan, kinerja Baznas Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Kiai Darodji sungguh luar biasa. Khusus Baznas Jateng setiap tahun mampu mengumpulkan zakat Rp 50 miliar lebih, belum termasuk kabupaten dan kota. Diprediksi ke depan perolehan zakat dari provinsi ini semakin besar sehingga akan berkontribusi untuk mengentasan kemsikinan secara lebih signifikan.

Maka, tandas Kiai Fadlolan, peran ulama dalam upaya mengedukasi umat tertang pentingnya berzakat harus terus digelorakan. Mengingat mengentaskan kemiskinan sebenarnya bukan tanggung jawab pemerintah atau negara semata tetap sejatinya juga tanggung jawab individu umat islam lewat zakat. Pemerintah sebatas mengatur regulasinya lewat UU dan kebijakan.

Ditegaskan, ada lima pokok asasi hidup individu yakni perlindungan terhadap nyawa, keturunan, akal, harta, dan keamanan. “Maka carilah rezeki atau karunia Allah seluas-luasnya, namun jangan lupa melaksanakan kewajiban zakat serta anjuran infak dan sedekah sehingga hartanya akan berkah dan manfaat pula untuk umat,” katanya. (Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here