Bantul. www.panjinasional.net — Career Development Center (CDC) Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) adakan pelatihan antikorupsi dan pendidikan antikorupsi bagi mahasiswa tingkat nasional di Ruang Serbaguna Lantai 10 Kampus Utama UAD Jl Ringroad Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Sabtu (14/12/2019).

Pada acara pelatihan kali kedua kerjasama dengan KPK sejak 2018 dengan pemateri Dr Suyadi, M.Pd.I dan Dr Sumaryati, M.Hum, yang keduanya Dosen UAD Yogyakarta dan Instruktur Antikorupsi KPK, dibuka Wakil Rektor III Dr Abdul Fadlil, MT.

Sebanyak 396 orang mahasiswa dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di 5 propinsi ikuti kegiatan itu, di antaranya: Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta, STIE Muhammadiyah Surakarta, UM Malang, UM Kudus, UM Tasikmalaya, Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), UAD, UMY, UM Purwokerto, ITS PKU Muhammadiyah Surakarta.

Wakil Rektor III UAD, Dr Abdul Fadlil, MT, berharap kepada mahasiswa setelah selesai mengikuti kegiatan ini bisa mensosialisasikan pengertian dan pemahaman antikorupsi kepada orang lain. “Agar tidak melakukan korupsi,” papar Abdul Fadlil yang mengapresiasi Bimawa UAD Yogyakarta yang sudah adakan kegiatan kali kedua itu. 

Dikatakan Abdul Fadlil, korupsi itu tidak baik dan perilaku yang tidak dianjurkan. “Korupsi itu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kita harus menjaga betul agar tidak menyalahgunakan kepercayaan,” kata Abdul Fadlil yang menerangkan kepercayaan itu sangat mahal harganya dan kalau sudah dipercaya orang lain sangat mengkhawatirkan.

“Semua orang tidak ingin dibohongi, untuk itu harus berlaku jujur dan disiplin serta tidak menyalahgunakan kepercayaan,” terang Abdul Fadlil, yang berharap dari kegiatan ini mudah-mudahan sebagai bagian dari memperbaiki akhlak manusia serta berupaya agar tidak termasuk orang yang melakukan korupsi.

Kata Abdul Fadlil, kegiatan ini memberikan pembekalan kepada mahasiswa sebagai generasi muda tentang bahaya korupsi. “Agar tidak mempunyai karakter bibit-bibit korupsi,” tandasnya, yang berharap mahasiswa untuk tidak toleran terhadap perilaku koruptif yang bisa dimulai dari dunia kampus.

Abdul Fadlil berharap, kegiatan itu juga dapat menanamkan sikap antikorupsi kepada para mahasiswa dan memberikan wawasan tentang apa itu perilaku koruptif. “Sehingga mahasiswa memiliki pemahaman dasar tentang korupsi dan adanya pencegahan agar mahasiswa tidak melakukan tindakan korupsi,” katanya.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) UAD, Dr Dedi Pramono, M.Hum menjelaskan, kegiatan ini semoga memberi manfaat bagi UAD dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA). “Menjadi pengetahuan dan pegangan bagi mahasiswa yang mengupayakan Indonesia jadi bangsa yang bermartabat dan jauh dari perilaku negatif korupsi,” papar Dedi Pramono.

Selain itu, setelah mengikuti kegiatan itu dan diberi pemahaman tentang korupsi yang sebenarnya, mahasiswa bisa mengerti tentang apa itu korupsi.

Menurut Dedi, perguruan tinggi mempunyai peran besar mencegah korupsi. “Karena dunia kampus merupakan salah satu lembaga pendidikan yang akan melahirkan generasi pemimpin yang berperan strategis dalam mencegah dan mengatasi korupsi di negeri ini,” kata Dedi Pramono.

Ditambahkan Kepala Bidang Career Development Center (CDC) dan Alumni Bimawa UAD, Hendy Ristiono, S.Far, MPH, Apt, melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, kampus berperan besar mencegah korupsi yang nantinya bisa merugikan negara.

Menurut Hendy, kegiatan ini juga untuk mengangkat rangking UAD dalam sistem informasi manajemen pemeringkatan kemahasiswaan (Simkatmawa). “Yaitu program klasifikasi dan pemeringkatan bidang kemahasiswaan,” paparnya.

Sementara itu, ketika uraikan bersama mahasiswa kita biasakan perilaku antikorupsi, Dr Sumaryati, M.Hum, Dosen Prodi PPKn UAD sekaligus instruktur pendidikan antikorupsi KPK, mengatakan bahwa mahasiswa harus punya semangat antikorupsi, yang meliputi: jujur dan peduli, mandiri dan disiplin, tanggungjawab dan kerja keras, sederhana dan berani, adil dan berintegritas, hebat dan bermartabat.

Pada kesempatan itu, penulis buku antikorupsi berikan pretest bagi mahasiswa dan sampaikan capaian pelatihan antikorupsi serta prinsip-prinsip antikorupsi dan upaya pemberantasan korupsi.

Melalui kajian yang dilakukan KPK, seperti disampaikan Dr Sumaryati, ditemukan sembilan nilai sebagai pembentuk karakter yang bermuara pada perilaku antikorupsi: jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil.

Sementara itu, Dr Suyadi, M.Pd.I, Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) UAD dan Assesor Antikorupsi KPK, sampaikan pendidikan antikorupsi berbasis neurosains, pengertian-pengertian, faktor dan dampak korupsi.

Penulis lebih dari 70 judul buku itu juga uraikan korupsi dan agama serta landasan teoritis atau bioneuropsikologi dan struktur kelembagaan KPK.

Bagi Suyadi, korupsi adalah kejahatan luar biasa. “Karena mengakibatkan kerugian yang besar bagi negara,” kata Suyadi.

Adanya korupsi itu, menurut Suyadi, merusak proses demokrasi, meruntuhkan hukum, menurunkan kualitas hidup atau pembangunan berkelanjutan serta menyebabkan kejahatan lain berkembang.

“Energi besar mahasiswa adalah motor penggerak masa depan bangsa,” tandas Suyadi, yang menambahkan generasi muda sebagai calon pemimpin yang kompeten dan berintegritas.

Menurutnya, peran perguruan tinggi harus menjadi pusat gerakan akademis pemberantasan korupsi. “Dan mendorong gerakan pemberantasan korupsi, baik secara lokal maupun nasional,” ujarnya. (Affan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here