Retno Sudewi ketika memaparkan materi perkawinan usia anak

Semarang. www.panjinasional.net – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah Dra Retno Sudewi APT, M.SI menjelaskan perkawinan usia anak memiliki rentanitas yang cukup tinggi. Di samping yang terkait dengan masalah sosial ekonomi, juga berdampak negatif pada  kesehatan ibu dan anak yang akan dilahirkan.

“Perkawinan usia anak mayoritas belum siap menopang ekonomi keluarga. Mereka masih tergantung bantuan orang tua. Sedangkan untuk mencari nafkah, kejiwaan mereka masih labil atau belum siap lahir batin. Akibatnya, sering terjadi penelantaran terhadap istri bahkan terjadi eksploitasi,” kata Retno dalam acara Dialog Publik Pencegahan Perkawinan Usia Anak yang diselenggarakan Kementerian PPPAPPKB bekerjasama dengan Jateng Pos, di Semarang, Kamis (5/12/2019).

Hadir sebagai pembicara selain Retno Sudewi, guru besar UNS Prof Ismi Dwi Astuti, pakar kesehatan anak Setya Dwipayana, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian PPPA Indra Gunawan SKM, MA dengan moderator Septy Wulandari, jurnalis. Dialog diikuti ratusan peserta dari unsur mahasiswa, LSM, wartawan dan instansi terkait.

Retno Sudewi menjelaskan dalam perspektif kesehatan, perkawinan usia anak akan banyak diliputi perasaan stres lantaran kejenuhan terhadap persoalan keluarga maupun merawat bayi atau anak yang dilahirkan. 

Prof Ismi mengatakan penyebab perkawinan usia anak kesalahan tidak bisa ditumpukan kepada anak semata. Melainkan juga orang tua bisa menjadi penyebabnya. 

“Terutama di pedesaan banyak orang tua yang merasa malu kalau anaknya usia setamat SMTA belum menikah, takut jadi perawan tua. Pandangan seperti inilah yang melahirkan terjadinya perkawinan usia anak,” jelasnya.

Guru besar Fisip UNS tersebut prihatin masih tingginya perkawinan usia anak yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data di UNICEF 2018, Indonesia berada di peringkat 7 terkait jumlah perkawinan usia anak. Sedangkan di tingkat ASEAN, perkawinan usia anak di Indonesia berada di peringkat 2. 

“Dan tampaknya aturan perundang-undangan yang menetapkan perkawinan wanita usia 16 dan diubah menjadi usia 19, juga belum mampu membentengi terjadinya perkawinan usia anak karena masih ada celah untuk melakukan seperti adanya rekomendasi atau dispensasi dari pengadilan meski usianya masih tergolong anak,” katanya.(Mim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here