Advokat H. Edy. RA. Tarigan, SH, MH. Bersama para Advokat lain termasuk para wartawan saat menunggu persidangan

Surabaya, Panjinasional.net – Kepanikan tentang Pemberitaan media online SindikatPost berjudul “Diduga Memperkosa, Oknum Pengacara Dilaporkan ke Polrestabes Surabaya” pada 31 Mei 2019 berbuntut ke meja hijau, sebab pihak media SindikatPost menjadi turut tergugat di Pengadilan Negeri Surabaya oleh pengacara Parlindungan Sitorus, SH yang berkantor dijalan Pandegiling Surabaya.

Salah Satu Lembar isi Gugatan yang Menyatakan Membayar Wartawan.

Dedik Sugianto Pimred Media Sindikat Post mendatangi PN Surabaya didampingi H.Edy R.A Tarigan S.H.MH dan puluhan pengacara dari 2 kantor hukum yakni Posbakumadin yang dipimpin oleh Pengacara Kondang Belly V.S Daniel Karamoy, SH,MH dan kantor hukum Nengala Alugoro yang dipimpin pengacara Tenar, Achmad Junaidi, SH serta para wartawan yang tergabung di organisasi Pers Sindikat Wartawan Indonesia (SWI) menghadiri sidang dalam gugatan yang dilayangkan Pengacara Parlindungan Sitorus. Kamis (4/7/2019)

Dalam persidangan yang digelar diruang Sari 2, Hakim Dewi dan dua hakim anggota sepakat memutuskan para pihak untuk melakukan mediasi yang akan dilakukan minggu depan dan menunjuk Edi Suprayitno sebagai hakim yang memimpin mediasi.

Seusai persidangan, ada Dedik menjelaskan bahwa medianya turut tergugat karena memberitakan pengacara Parlindungan Sitorus yang diduga melakukan pemerkosaan terhadap stafnya berinisial EDS.

“Tergugat utama adalah EDS, dan kita turut tergugat karena memberitakan pangacara itu, padahal didalam pemberitaan tersebut, saya sudah sesuai dengan kode etik dan UU Pers No.40 tahun 1999. Ada wawancara dengan nara sumber, ada surat Laporan Polisi yang dikeluarkan Polrestabes Surabaya,” ungkap Dedik.

“Nara sumber mulai pelapor, orang tua pelapor, dan terlapor yakni Parlindungan Sitorus sudah diwawancarai, sampai nama terlapor kita tulis inisialnya saja, bahkan alamat kantor hukum diduga tempat kejadian itupun tidak ditulis secara detail. Itu berita sudah berimbang, apanya yang digugat. Mestinya kalau pihak Parlindungan Sitorus tidak terima akan pemberitaan itu dia kan mantan wartawan harusnya paham, bisa gunakan hak jawab seperti diatur dalam UU Pers, bukan malah media dijadikan turut tergugat,” tambah Dedik.

“Dan saya baca di surat gugatan yang dikirim PN Surabaya beberapa hari lalu, dalam isi gugatan yang dibuat Parlindungan Sitorus, dirinya menuntut kepada tergugat pertama mencabut pemberitaan, kedua secara materiil sebesar Rp. 28 Juta dan kerugian immaterial sebesar Rp. 1 Milyar. 

Masih Dedik, Disalah satu butir gugatan materiil ada tertulis membayar wartawan untuk tidak memberitakan pemberitaan tersebut sebesar Rp. 6.000.000. Itu yang sangat saya sayangkan, seakan Parlindungan Sitorus menyuap wartawan. Dia harus menjelaskan dan membuktikan itu semua, siapa saja wartawan yang dikasih uang untuk tidak mengangkat berita terkait dirinya dituduh memperkosa, jika dia tidak dapat menjelaskan dan membuktikan, saya akan laporkan ke pihak kepolisian karena ada indikasi kuat menghina dan mencemarkan profesi wartawan yang seakan bisa dibayar dan dibeli,” kataDedik.

Dari isi surat gugatan yang tertulis Untuk membayar Wartawan agar tidak muat berita, berarti sebuah indikasi pengakuan.

Sanjaya Payangka,SH,MH seorang Lawyer di Surabaya sebagai Biro Hukum Panjinasional memberikan komentar “Menilik isi gugatan tentang membayar wartawan itu terkesan emosional, sehingga menjadi polemik dikalangan insan pers, siapa wartawan yang menerima bayaran,? kalau penyampaian kawan Parlin dalam isi gugatannya  secara profesional disampaikan bahwa ia sudah mengeluarkan biaya untuk ini dan itu termasuk biaya konferensi pers, bukan membayar wartawan”. Ujar Sanjaya.

@red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here