Gresik. www.panjinasional.net – Sengketa tanah di Desa Ambeng-Ambeng Wetan Rejo Kecamatan Duduksampean  antara Suwarno selaku penggugat/ pembeli melawan Evi mujiono cs selaku ahli waris Almarhum Katimin / penjual, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Gresik Selasa Kemarin (18/06)

Sidang perdata ini beragendakan mendengar kesaksian dari pihak penggugat. Ada dua orang saksi yang dihadirkan yaitu H Ghozali dan H Ma’ruf, keduanya warga setempat.

Dalam kesaksiannya, Ghozali mengungkapkan, dirinya mengaku mengetahui tanah tersebut sudah dibeli oleh pihak penggugat.

Hal itu diketahuinya dari kwitansi pembeliannya.” Saya tahu tanah itu dibeli dari kwitansi pembelian yang ditunjukkan oleh penggugat, juga dari dulu kan sudah dikelola oleh iparnya Suwarno” ujarnya.

Lantas kemudian, Hakim menanyakan, apakah kwitansi yang dimaksud itu diketahuinya saat transaksi jual beli?

Ghozali, menjawab, “Kwitansi itu saya  tahu dari pihak pembelinya, tanah juga sudah dikuasai oleh pembeli, sertifikat juga sudah berada di tangan pembeli, malah saya yang mengelola tambak tersebut ” tambahnya lagi.

Sementara dari kesaksian Ma’ruf juga mengaku bahwa tanah itu memang sudah dibeli oleh pihak penggugat sejak tahun 1996.

Putu Gede Hariadi selaku Hakim Ketua usai mendengarkan saksi, menutup sidang, dan akan mengagendakan sidang lanjutan pada pekan depan.

Kuasa hukum Penggugat, Fajar Trilaksana tidak mengomentari hasil kesaksian dari dua orang tersebut, hanya saja Ia memprotes ikut campur Kepala Desa Ambeng-Ambeng Rejo, Fahrudin, yang dinilai tidak netral dalam sengketa kedua warganya tersebut.

Fajar Trilaksana, menyayangkan kedatangan Fahrudin dipersidangan pada 14 Mei lalu.

” Tidak sepatutnya, Dia (Kades red-)  datang persidangan di jam Dinasnya.Apalagi dia tidak punya kapasitas apa-apa di persidangan itu ,tidak ada surat panggilan untuk menjadi saksi atau surat tugas apapun,”ujarnya.

Dari informasi pihak penggugat Suwarno selaku pembeli, awal mula sengketa tanah tambak,  berawal dari pembelian tanah seluas +- 3700 M2 yang dibeli dari Almarhum Katimin seharga 29 juta,pada tahun 1996,namun tidak segera diurus balik nama ” ya..waktu itu saya repot kerja disurabaya,juga kan masih belum ada biaya juga, lagipula kan masih saudara,jadi tidak terpikir akan seperti ini” ujar Suwarno. Namun seiring waktu, tanah itu kemudian akan dibalik nama oleh Suwarno,karena Suwarno sudah memiliki waktu dan biaya untuk pengurusan ,akta jual beli dan lain sebagainya,disinilah ahli waris meminta uang sebesar 25jt per orang, ahli waris ada 4 orang jadi total pembeli harus membayar 100juta, sedangkan ahli waris sudah tahu bahwa tanah tersebut sudah dijual oleh orang tua mereka pada tahun 1996, malah ada salah satu ahli waris yang pada saat itu ikut menandatangani kwitansi penerimaan uang pembayaran pembelian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here