Jakarta, Panjinasional – Mantan Pemilik Bank Dagang Negara Indonesia Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim menjadi tersangka dugaan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Sjamsul dan Itjih diduga bersama mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung melakukan tindakan korupsi BLBI terutama dalam penghapusan kredit tambak Dipasena kepada Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI), yang kala itu diambil alih pemerintah

Dugaan kerugian uang negara yang disebabkan oleh Sjamsul dan istri tidak main-main, tembus Rp 4,58 triliun.

Sebenarnya kasus ini bukan barang baru pernah mencuap pada 2004. Bahkan Kejaksaan Agung sudah menyidik kasus ini sebelum 2008.

Namun, sayang kasus di Kejaksaan Agung tersebut tidak berlanjut. Akhirnya KPK turun langsung dan menangkap seorang jaksa, yakni Urip Tri Gunawan karena suap yang ia terima atas kasus ini.

Urip menerima uang suap senilai US$ 660 ribu atau Rp 7,92 miliar (kurs Rp 12.000) dari Artalyta Suryani, yang merupakan suruhan Sjamsul Nursalim.

Tujuannya tak lain meminta Jaksa Urip menghentikan pengusutan kasus BLBI yang melibatkan BDNI dan tambang Dipasena. Setelah kasus bergulir ke pengadilan, jaksa Urip dihukum 20 tahun penjara. Hukuman itu bertahan hingga tingkat kasasi.

Meski di atas kertas hukum 20 tahun penjara, ia hanya menjalani hukuman badan di sel penjara hanya 9 tahun saja. Pada 2017, dia mendapatkan status bebas bersyarat.

Artalita juga divonis bersalah dengan hukuman 5 tahun. Dia pun telah menghirup udara bebas.

Meski demikian, Ayin, panggilan dari Artalita masih beberapa kali menjalani pemeriksaan KPK sejak 2017 lalu. Lembaga ini masih menyelidiki hubungan antara Bukit Alam Surya dengan Tambak Dipasena.

Bukit Alam Surya diketahui milik suami Ayin, Surya Dharma yang telah meninggal dunia. Bukit Alam Surya diketahui yang membangun tambak tersebut untuk Dipasena.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here