Ketegangan terjadi saat Rekapitulasi penghitungan suara
Suasana memanas ketika Rekapitulasi penghitungan suara

Sumenep, Panjinasional.net

Pelaksanaan Rapat Pleno Rekapitulisi Penghitungan Hasil Surat suara yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa timur, kembali diwarnai Ketengangan dan memanas. Sabtu (4/5/2019)

Pantuan awak media, saksi dari salah satu Partai Politik yanki, Partai Hanura kembali mendatangi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan membawa setumpuk bukti from C1 dan melabrak KPU Sumenep, di Islamic Center Batuan Sumenep pada saat pelaksanaan Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Penghitungan Hasil Surat Suara.

Baca juga: Rapat Pleno Rekapitulasi

Dimana Muhctar Rafik saksi dari Partai Politik Hanura tetap ngotot bahwa telah terjadi dugaan pengelembungan perolehan hasil surat suara salah satu Caleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dapil VI di Desa Sabuntan, Kecamatan Sapeken.

Sehingga Itang yang biasa disapa dengan membawa setumpuk from C1 kembali melabrak KPU Sumenep untuk meminta from nota keberatan atas dugaan penggelembungan perolehan hasil surat suara H. Dulsiam dari Caleg Partai Kembangkitan Bangsa (PKB) dapil VI tersebut kepada pihak KPU Sumenep.

Ketengangan antara saksi Partai Hanura dan KPU tersebut sempat memanas karena kedua belah pihak sama-sama ngotot. Namun setelah melalui proses argumen yang begitu alot dan panas, akhirnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumenep memberikan surat from nota keberatan dugaan penggelembungan hasil surat suara di TPS 1-6 di Desa Sabuntan, Kecamatan Sapeken tersebut yang diminta Saksi Partai Hanura.

Dan From nota keberatan tersebut ditandatangi oleh kedua belah pihak yakni Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep, A. Warits dan Saksi Partai Hanura Muchtar Rafik.

Diberitakan sebelumnya, Muhctar Rafik salah satu saksi dari Partai Politik mengatakan bahwa terjadi perbedaan yang sangat signifikan di desa Sabuntan Kecamatan Sapeken.

“Perolehan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari H Dulsiam dibengkakkan sekitar 300 suara, tetapi pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak mau membuka from C1 berdasarkan DA, ini sangat keliru,” kata Muchtar Rafik, Jum’at (3/5) di Islamic Center Batuan.

Masih kata Muchtar Rafik,  jadi saya berharap adanya keadilan dari KPU Sumenep, bahwa ini benar-benar menyalahi aturan, karena terjadi penggelembungan suara di daerah Sabuntan. Sebenarnya ini harus di pending dan di cek ulang.

“Jadi saya berharap dari Pihak KPU Sumenep, untuk berlaku jujur terkait pemilihan ini,” pintanya.

Karena kata Itang biasa disapa, dalam angka dari 5 TPS Dulisiam itu hanya mendapatkan 190 tapi membengkak menjadi 420 suara.” Itu mulai dari TPS 1 sampai TPS 6,” ujarnya.

Disingung kenapa sempat terjadi ketengangan dengan Pihak KPU..? Menurunya, karena Pihak KPU dengan arongansi tidak memberikan ke sempat.

“Kita Partai Pak dilindungi UU, KPU tidak boleh memberengus kita sebagai Partai kita bukan kesepakatan. Jadi saya berharap bukan hak pelaksana hari ini,” sesalnya.

Disingung bahwa dirinya bukan dari Saksi Partai Politik HANURA..?. ” Pertama saksi itu adalah Risqi Adam, setelah saya melapor ke Bawaslu Kabupaten bahwa saya sebagai saksi.

“Adam (Rizqi Adam.red) memindahkan saksi itu kepada kami dengan koordinasi dia dengan menyerahkan kepada KPU, ternyata belum, laporannya sudah ke Bawaslu bahwa terkait ini dan Bawaslu telah memberikan rekomendasi melalui Imam.” jelas Itang.

Ditempat yang sama Ketua Komisioner KPU., Ach. Warits membantah kalau ada pengelembungan suara.

“Itu tidak ada penggelembungan suara yang dilakukan oleh PPK, tadi rekapitulasinya di Kecamatan Sapeken, apa yang disampaikan saksi itu tadinya tidak berdasar, karena memang seperti apa yang disampaikan PPK dan Bawaslu, bahwa rekapitulasi ditingkat Kecamatan tidak ada keberatan apapun dari seluruh saksi yang hadir pada saat itu dan tiba-tiba itu muncul sekarang,” kata Ketua KPU Sumenep, Ach. Warits, Jum’at (3/5).

Dikatakan Warits biasa disapa, dan yang memunculkan juga bukan saksi,,artinya atau orang yang bukan diberi mandat partai yang dimaksud untuk menjadi saksi dalam rekapitulasi tingkat Kabupaten.

Disinggung from C1 yang sempat ditampilkan oleh saksi Partai Politik..! Menurutnya, itu sudah ditampilkan di PPK, sebenarnya sudah selesai tetapi dipersoalkan disini, dan sesuatu yang dipersoalkan sebenarnya tanpa dasar.

“Tidak punya dasar sebenarnya, karena tadi sudah disampaikan secara tegas bahwa PPK telah melakukan rekapitulasi di tingakat Kecamatan dan sudah melakukan Rekapitulasi dari penghitungan suara disetiap TPS ditingkat Kecamatan dan disitu tidak ada keberatan apapun, seluruh saksi juga hadir dan seluruh saksi juga mengiyakan bahkan tanda tangan,” ujarnya.

Bahkan menurut Warits Bawaslu juga tadi menyampaikan tidak ada keberatan apapun yang disampaikan oleh saksi yang masuk ke Bawaslu. Sehingga kalau persoalan itu, tiba-tiba muncul itu kan aneh.

“Rekapitulasi hasil penghitungan dituangkan dalam C1, C1 itu dibuka juga ditingkat PPK. Dan pada saat itu seluruh saksi hadir dan pada saat rekapitulasi hasil penghitungan suara tidak ada masalah apapun, tiba-tiba masalah dimunculkan oleh orang yang bukan saksi dan itu aneh,” tukasnya.

Ketika kembali di singgung masalah from C1 yang sempat ditampilkan..!. “Tidak ada yang menampilkan C1 tadi, itu from keberatan yang disampaikan ke KPU dan itu pun bukan dari Partai Politiknya, itu dari Partai Politik lain sebenarnya,” pungkasnya.@ (qib/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here