Irfan Yunianto (dosen Pendidikan Biologi UAD Yogyakarta) yang selamat dari korban kebrutalan.

Yogyakarta – Panjinasional

Sehubungan dengan tragedi penembakan di Masjid aI-Noor dan Lindwood, Christchurch Selandia Baru, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui surat bernomor 101/PER/I.0/J/2019 yang ditandatangani Prof Dr Bahtiar Effendy, MA (Ketua) dan Dr H Abdul Mu’ti, MEd (Sekretaris Umum), menyampaikan duka clta yang sedalam-dalamnya atas tragedi penembakan dl Masjid al-Noor dan Lindwood, Christchurch Selandia Baru, yang menewaskan puluhan Muslim. 

“Mereka yang wafat adalah syahid yang mendapatkan tempat terhormat di hadapan manusia dan Allah azza wa jalla. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran,” ungkap Bahtiar Effendy. 

Kepada umat Muslim Selandia Baru agar tetap tegar dan tidak surut selangkahpun dalam ber-Islam dan berdakwah di Selandia Baru. 

PP Muhammadiyah mengutuk keras penembakan, yang sesungguhnya merupakan pembantaian dan aksl teroris yang sangat biadab serta permusuhan terhadap umat Islam, apapun motifnya dan siapapun pelakunya. 

Mendesak pemerintah Selandia Baru agar segera mengusut tuntas motif dan pelaku pembantaian maupun dalangnya serta memberikan hukuman yang seberat-beratnya.

“Pemerintah Selandia Baru agar meningkatkan keamanan dan melindungi seluruh warga negara khususnya umat Islam agar dapat hidup damai dan menjalankan ajaran agama dengan aman,” papar Prof Dr Bahtiar Effendy, MA.

PP Muhammadiyah mengapresiasi pernyataan tegas dan sikap cepat pemerintah lndonesla yang mengambil langkah diplomatis dan mendesak agar segera melakukan langkah-langkah diplomasi lebih lanjut dan tindakan kemanusiaan untuk membantu, mengevakuasi, dan menyelamatkan warga Indonesia yang menjadi korban. 

Mengimbau umat Islam Indonesia untuk bersikap tenang, tidak membuat pernyataan yang memperkeruh suasana, dan melakukan langkah-Iangkah yang kontra produktif. 

Umat Islam Indonesia hendaknya menggalang solidaritas dan melakukan doa bersama untuk kese|amatan dan mendukung perjuangan dakwah Muslim di Selandia Baru.

Sementara itu, salah seorang dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bernama Irfan Yunianto (dosen Pendidikan Biologi) bersama satu anak dosen UAD Yogyakarta selamat dari korban kebrutalan aksi laki-laki bersenjata, yang memberondongkan tembakan saat shalat Jum’at di Masjid al-Noor di Christchurch, Wellington, Selandia Baru, Jum’at (15/3/2019) waktu setempat.

Irfan Yunianto, pengajar FKIP UAD berada di Selandia Baru untuk meneruskan studi S3 Biologi di salah satu perguruan tinggi di Selandia Baru. 

Untuk saat ini pihak UAD Yogyakarta mencoba menghimpun informasi terkait kondisi mereka. Termasuk berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Selandia Baru.

Memperhatikan perkembangan mutakhir terhadap kondisi umat Islam di New Zealand dan setelah Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mencermati perkembangan terkini terkait tragedi penembakan jamaah mesjid di New Zealand, Pemuda Muhammadiyah menilai tindakan pelaku penembakan tersebut sebagai terorisme dan pelakunya adalah teroris.

Pemuda Muhammadiyah mengutuk keras dan mengecam tindakan terorisme tersebut serta menuntut aparat penegak hukum mengadili pelaku dengan sanksi hukum seberat-beratnya.

Kota Christchurch yang terkenal dengan kota sejuta taman, ramah pada pendatang dan damai dalam menjalankan ibadah ternodai oleh aksi teroris biadab yang terkesan dibiarkan oleh pemerintah New Zealand.

Salah satu teroris penembakan adalah warga negara Australia, Brenton Tarrant, pernah 

menulis manifesto setebal 73 halaman yang menyatakan niat jahatnya. 

Hal ini tentu diketahui oleh semua orang, terutama intelijen New Zealand. Sangat mencurigakan di mana tidak ada tindakan pencegahan dari pihak terkait.

Dengan aksi penembakan yang disiarkan langsung oleh pelaku teror tersebut, ini 

membuktikan pemerintah New Zealand gagal melindungi warga negaranya dan mendeteksi dini kegiatan terorisme di negara mereka.

Pemuda Muhammadiyah mendesak agar pemerintah New Zealand menyatakan tindakan tersebut sebagai tindakan terorisme yang biadab.

Pemuda Muhammadiyah menyatakan duka mendalam kepada korban, baik yang telah 

meninggal, luka-luka, dan yang masih selamat. Pemuda Muhammadiyah meminta dan mendesak Menteri Luar Negeri — dalam dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Zealand — untuk berkoordinasi secara cepat dan 

melakukan perlindungan extra bagi warga negara Indonesia yang berada di masjid tersebut dan di wilayah yurisdisi New Zealand.

Hal ini perlu dilakukan karena ada lebih kurang 331 Warga Negara Indonesia yang tinggal di Chirstchurch dan 6 WNI diperkirakan berada di lokasi.

Pemuda Muhammadiyah berkeyakinan bahwa tindakan terorisme, apapun latar belakang pelaku dan motifnya, tidak bisa dibenarkan dan harus dilawan.

“Agama Islam dan juga keyakinan agama lain, kami pandang memiliki paham agama yang 

memuliakan kemanusiaan, mendukung hubungan toleransi atau tasamuh, tolong menolong atau ta’awun, saling asih dan asuh di tengah kehidupan sosial yang ragam,” kata Sunanto, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Jum’at (15/3/2019).

Sunanto mengecam pembunuhan, ekstrimisme dan terorisme. “Sehingga tidak ada agama apapun yang mendorong 

melakukan terorisme,” tandas Sunanto, yang mengimbau umat Islam di Indonesia dan di mana pun berada untuk tidak terpancing dengan provokasi dan hal-hal yang tidak produktif. 

Sebaliknya, PP Pemuda Muhammadiyah mendorong agar umat Islam senantiasa berdoa dan membangun hubungan sosial yang mulia dan beradab.

“Semoga kehidupan berbangsa dan bernegara dalam lingkup global semakin kondusif,” kata Sunanto, didampingi Dzul Fikar Ahmad T (Sekretaris Jenderal). (Affan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here