oleh Raymond Susilo <Seorang Pejuang Muda>

Kalau seseorang belum pernah belajar Sejarah, sanggupkah ia mencetak Sejarah?

Tahun 2019… Tahun diberlangsungkannya Pemilihan Presiden di Negara Indonesia. Sementara itu di Prancis dan berbagai belahan lainnya di Bumi ini, banyak meluap ungkapan ketidakpuasan rakyat. Mereka berbaris menjadi satu dengan mengenakan rompi kuning, dan hingga saat ini sudah berlangsung sepuluh minggu berturut-turut. Ini adalah pertanda kegagalan pemerintah negara-negara tersebut memecahkan permasalahan yang internal ada di dalam masyarakat. Di Amerika Serikat, Donald Trump, presiden terpilih ke-45 Amerika Serikat menutup pemerintahan, mengakibatkan dampak yang besar pada pelayanan publik negara itu.

Apa hubungan semua ini dengan Negeri Indonesia? Jelas, cepat atau lambat, apapun yang ada dan berasal dari luar negeri, akan sulit untuk tidak memberikan pengaruh di Negeri Indonesia ini. Dunia kita ini sudah begitu saling terhubung, apapun yang bergerak di satu tempat, akan ikut menimbulkan pergerakan di tempat lain, seperti gelombang.

Dunia ini sedang memasuki masa bergejolak, dan kita cukup dekat dengan situasi yang sifatnya revolusioner. Ke depan, akan ada semakin banyak gerakan populis, karena massa suka untuk diyakinkan kalau seandainya dunia ini masih aman dan dan nyaman untuk ditinggali. Suka tidak suka, akan banyak yang terpancing oleh umpan populisme ini. Massa ingin ikut serta dalam sesuatu yang sifatnya tren, yang ramai dan hangat dibicarakan, tanpa jelasnya asal-usul dari tren itu sendiri. Sayangnya, tidak semua tren itu baik dan bermanfaat, malah ada yang mengundang korban, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kita juga perlu sering mempertanyakan, apakah tren ini bukan sesuatu yang disengaja, oleh pelakunya yang menciptakannya, siapapun itu, untuk mencapai maksud tertentu, apapun itu?

Tapi dunia ini sudah tidak sanggup menahan beban lebih dari ini. Pemanasan global semakin terasa, dan ini mengakibatkan perubahan iklim yang pesat. Kalau ini tidak ditangani dengan segera maka kita akan kehilangan Dunia kita ini, dan kemungkinan kesempatan kita untuk menghuninya dengan nyaman. Kita akan dipaksa untuk mengubah pola perilaku kita atas tuntutan keadaan, dan kita harus merancang pola-pola dan sistem-sistem baru yang jauh berbeda dari apa yang selama ini berlaku. Salah satu yang perlu diubah adalah pola relasi antar-manusia kita, dan relasi kekuasaan yang ada di dalamnya.

・・・

Bukan tanpa sebab banyak timbul kekhawatiran pada apa yang di Negeri ini secara abstrak dikategorikan sebagai “komunisme”. Jelas banyak yang keliru mempersepsikan Komunisme sebagai ateisme, ataupun pembunuh ulama, atau tidak ber-Tuhan atau keterkaitan dengan Cina, atau Yahudi, atau apapun bahan lain yang bisa secara umum kita golongkan teori konspirasi. Sekedar meluruskan saja, karena semua ini sesungguhnya terlalu mengada-ada, terlalu liar dalam upaya mengkait-kaitkan apa yang sebenarnya sebenarnya hampir tidak ada kaitannya. Sesungguhnya Komunisme hanyalah salah satu varian dari pemikiran Sosialisme, dan Marx yang menjadi salah satu pencetus pemikiran sosialis bukanlah orang Yahudi yang menjalankan agamanya, dan tidak benar bahwa orang-orang komunis semuanya ateis. Di banyak negara Arab yang mayoritas Muslim pun, pemikiran sosialis dapat dicerna tanpa harus menjadi ateis. Ini karena komunisme / sosialisme bukanlah ajaran agama, melainkan gagasan ekonomi, yang bisa dikritisi, dan dipergunakan apapun yang berguna darinya.

Sekarang sudah dua puluh tahun lebih sejak Reformasi, perlahan tapi pasti kita melepaskan diri dari pengaruh cuci otak ‘Orde Baru’ (yang tidak ‘Baru’ amat). Tatanan ini sangat konservatif, amat keras menentang apapun yang dianggapnya sanggup mengancamnya. Ia sangat Darwinian, memperhatikan keberlangsungan hidupnya di atas segalanya. Ia mengakomodasi apapun yang sanggup membuatnya semakin perkasa mempertahankan hidupnya, tidak peduli meski itu adalah suatu kebejatan yang paling terkutuk sekalipun (atau justru karena itu demikian maka ia menampung semua itu masuk). Ia menciptakan manusia-manusia yang terhipnotis, manusia-manusia yang hanya patuh, penurut, seperti budak, yang tidak peduli apapun perintah yang diberikan kepada mereka, yang paling penting adalah mematuhinya. Mereka ini seperti Abraham, yang siap sedia menghunus senjatanya untuk menyembelih anaknya, atas perintah Tuhan mereka. Pikiran sadar tidak diperlukan, apalagi gagasan untuk menilai moralitas sang pemberi perintah. Semua itu tidak akan pernah terpikirkan oleh manusia budak.

・・・

‘Orde Baru’ ini adalah Tatanan Dunia Lama, dan ini adalah tatanan yang masih berlaku sampai dunia ini ada ketimpangan, ketidakadilan dan kejahatan. Dunia yang Baru bukan saja harus diwujudkan, tapi merupakan sebuah keniscayaan, demi kesejahteraan hidup semua orang yang hidup di Bumi ini, dan supaya kita bisa meraih hidup yang optimal, dengan Kesempatan yang Sama, dan berkembang sesuai dengan bakat, minat, keahlian dan potensi kita.

Dalam perjalanan Bangsa Indonesia ini, Orde Baru telah menghambat potensi bangsa ini untuk berkembang optimal, terutama dalam bidang intelektualitas. Di saat bangsa ini perlu para pemikirnya, ia menyensor, melarang pemikiran, perkumpulan, dan kegiatan yang sifatnya mengganggu kekuasaannya. Akhirnya ia berpuas diri, selagi menganggap segala jerih payahnya selama ini menebang semua rintangan di hadapannya sebagai bagian dari keberhasilannya menaklukkan medan. Padahal alam semesta itu terus mengalir, baik ruang maupun waktunya, dan semua yang berada dalam pusaran pengaruhnya tidak lepas darinya, termasuk Orde Baru ini. Ia sudah loyo, tapi masih bertahan setitik. Ibarat Hydra yang sanggup pulih asal ada serpihan kecilnya, janganlah Orde Baru ini diberi kesempatan untuk tumbuh kuat kembali.

Sekarang ini ada varian lain dari Orde Baru, Tatanan Dunia Lama ini. Ia mengambil wujud konservatisme keagamaan. Ini tidak lain hanyalah bentuk lain dari primitivisme yang mengajak kita supaya menjadi semakin tidak relevan dengan berlalunya hari. Ini sesungguhnya adalah gerakan supaya manusia mengalami devolusi, yang ujungnya hanyalah sup purbakala, tapi masa depan tidak ada di masa lalu, dan ini adalah sebuah oxymoron. Kemajuan hanya ada saat kita bercerai dengan masa lalu, dan kawin dengan masa depan.

Kaum konservatif merasa, pemikiran seperti itu telah kita lalui, sehingga mereka ingin kembali kepadanya, tapi kaum progresif, mereka tidak pernah merasakan sendiri kehebatan itu, dan mereka ingin supaya, untuk pertama kalinya, umat manusia meraih kehebatan itu. Di sinilah perbedaan, orang yang mundur, dan orang yang maju.

Apa yang kita butuhkan? Mengutip Victor Hugo, pemikiran yang telah tiba pada waktunya!

Angkatan muda negeri ini punya potensi untuk melampaui dan mengungguli serta mengangkat Negeri ini ke tingkatan baru. Mereka punya internet dan saluran komunikasi yang luas. Yang diperlukannya sekarang adalah kemampuan berpikir kritis dan skeptisisme untuk menguraikan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Saat ini sanggup dilakukan, Tatanan Dunia Lama akan kehilangan pengaruhnya dan kita umat manusia akan meraih jaman keemasan, bebas dari masa lalu yang kelam dan menyengsarakan kita selama ini. Tentu saja, demi kemanusiaan, demi Bangsa, Negara, dan Dunia, kemampuan mempertanyakan pertanyaan yang tepat, dan kemampuan memberikan jawabannya, adalah suatu keahlian yang wajib dipelajari.

Ke manakah kita? Mengutip Buzz Lightyear, menuju tak terbatas, dan melampauinya!

Angkatan muda adalah para manusia Faustian. Angkatan ini hanya peduli pada apa yang bisa dibenarkan oleh akal. Apapun yang tidak dapat diketahui oleh akal adalah sesuatu yang tidak ada, kehampaan yang tiada maknanya. Mereka pencari makna tertinggi, apotheosis, itu adalah saat ketika mereka akhirnya mencapai perkembangan paling puncak kehidupannya.,@***

2 KOMENTAR

  1. Emang Indonesia mungkin sudah terlalu lengket dengan orde baru jadi kaget dah sekarang, knp ga dari awal aja kalo emang mau kaga usah berubah (ーー;)

  2. Bangsa ini harus diajak untuk berpikir ke depan dengan tetap menjaga etika dan moral yang diajarkan oleh agamanya…
    Dan agama bukan menjadi penindas umat lain dan mengkafirkan seseorang.yang berbeda pikiran dan pandangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here