Marsda Pur Prayitno Ramelan

Oleh : Marsda Pur Prayitno Ramelan (Pengamat Intelijen)
Sembilan tahun lalu Pray (penulis) meluncurkan buku pertama dari hasil ngeblog di Kompasiana sejak 2008, dgn judul “Intelijen Bertawaf”, dengan editor Pepih Nugraha. Peluncuran/bedah buku di Essence Dharmawangsa Apartment.

Karena buku pertama, rasanya bahagia dihadiri oleh beberapa tokoh diantaranya Jenderal Purn Hendropriyono, Marsekal Purn Chappy Hakim, Rosi (sekarang Pemred Kompas TV) , para teman2 purn TNI serta Kompasianers sekitar 100 orang. Peluncuran dihibur penyanyi Yuni Shara yang cantik, suaranya lembut.

Kini, Pray lebih banyak menulis di blog pribadi tentang Ramalan Intelijen, sebagai wadah dan bagian ibadah dalam membagi wawasan berbagai kasus dari sudut pandang intelijen. Sejak 11 tahun lalu telah tercipta 1.280 judul artikel, dan hingga kini sdh tercetak empat buku, Alhamdulillah.

Judul intelijen bertawaf itu saran dari adik Pray, Thomas. Pemahaman bertawaf dalam Islam adalah saat kita mengerjakan rangkaian Haji/Umrah, mengelilingi Kabah 7 kali sambil berdoa,berzikir. Ternyata, bukan manusia saja yg bertawaf, bulan, bumi serta planet2 yang ada juga bertawaf mengelilingi matahari. Demikian juga tata surya di galaxy, bertawaf, bergerak.

Jadi pada dasarnya, bertawaf itu adalah sebuah gerakan yang teratur dan terstruktur. Selain mengelilingi
Ka’bah, demikian juga sistem tata surya juga bergerak secara teratur dan terstruktur.

Dari pemahaman tadi, intelijen sebagai organisasi maupun fungsinya juga harus teratur dan terstruktur. Profesional dengan prinsip kerja intelijen, khususnya dalam merumuskan ancaman. Pimpinan intelijen tidak bisa semaunya sendiri bertindak, ada tatanan yang harus dilaksanakan dan ditaati, karena ada resiko2 yang fatal bila intelijen keliru dalam menyampaikan informasi intelijen.

Saat ini, menjelang Pilpres 17 April 2019, dari sisi ATHG, intelijen disarankan sebaiknya fokus mendeteksi potensi ancaman komponen intelstrat bidang politik, ekonomi dan keamanan.

Tanpa memahami dan melaksanakan makna bertawaf tadi, pada umumnya hasil yang dicapai tidak akan maksimal, bahkan bisa minimal. Resikonya “end user” bisa keliru (blunder) dalam mengambil keputusan. Kalau sudah begini, disebutnya RAMPUNG, bahkan ambruk.
Sementara tulisan Intelijen Bertawaf Jilid Satu cukup dahulu, kita tunggu jilid dua yang lebih fokus ke sikon nasional, @Salam.PRAY/Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here