Undangan Resmi Rembuk Kamtibmas Polsek Genteng Surabaya

Surabaya, Panjinasional
Proses hilangnya motor jenis Scoopy di area parkir umum depan Monumen Kapal Selam (Monkasel), Surabaya, Kamis, (20/12/2018), lalu. Para awak pers melakukan konfirmasi serentak ke pihak Dishub Kota Surabaya dan disambut secara baik dan professional oleh pihak jajaran dishub tentang apa dan bagaimana aturan dan penyelesaian atas hilangnya motor di tempat parkir.


Selanjutnya Pihak Polsek Genteng, menyikapi dengan menggelar ‘Rembuk Kamtibmas’ di ruang pertemuan polsek tersebut dengan mengundang wartawan secara resmi,
Dengan terbiasa disiplin dan berusaha tepat waktu para wartawan hadir secara bersama sama dari berbagai media cetak dan online.

Hadir dalam pertemuan itu, dari kepolisian diwakili Waka Polsek Genteng AKP Andrian; Koramil Genteng diwakili Wadan Ramil Kapten Sugiharto; dari manajemen atau pengelola Monkasel dihadiri Irfan Harianja beserta dua orang stafnya; dua orang dari Dishub Kota Surabaya, Pol PP; korban yang kehilangan motor serta unsur media.

Namun aparat kepolisian mendadak tidak berkenan atas kehadiran wartawan hingga dibatasi dalam suatu forum resmi.
Kejadian tersebut bermula saat AWS (Aliansi Wartawan Surabaya) mendapat undangan resmi dari Kepolisian Sektor Genteng, (04/01/2019), guna menghadiri Rembuk Kamtibmas terkait hilangnya sepeda motor di pelataran halaman Monkasel Surabaya.

Puluhan awak media yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Surabaya (AWS), mendatangi Polsek Genteng memenuhi undangan Kapolsek, karena jadwal acara molor beberapa wartawan pulang, namun melihat banyaknya wartawan yang hadir maka yang diizinkan masuk hanya lima orang dengan alasan ruangan terbatas.

Setelah acara dimulai, dan dipimpin oleh Wakapolsek Genteng AKP Ris Andrian, dia mempersilahkan cukup 2 orang wartawan saja yang menjadi perwakilan undangan, sementara 3 orang wartawan dipersilahkan meninggalkan ruangan dan diminta pertemuan ini tak perlu dipublikasikan,

Sangat disayangkan atas seruan tersebut seakan mengusir wartawan dari ruangan, hal ini dinilai sangat tidak etis.
“Cukup dua orang saja yang ada di ruangan ini, dan yang tidak berkepentingan mohon menunggu diluar,” ujar Wakapolsek mempersilahkan 3 orang perwakilan media meninggalkan ruangan.

Ris Andrian menambahkan, agar pertemuan ini tidak perlu diberitakan, karena hanya rembuk Kamtibmas guna mencari solusi.
“Tidak perlu mencari siapa yang benar dan salah, tujuan pertemuan untuk menjalin silaturahmi, membahas problem solving serta penyelesaian persoalan dengan mufakat,” kata AKP Ris.

Sejumlah hal penting dibahas, selain soal kronologis hilangnya motor, kondisi areal parkir, serta soal perizinan penyelenggara parkir umum. Termasuk, muncul sejumlah usulan agar hal serupa tidak terulang kembali.

Meskipun tidak hadir, Gatot Irawan pemimpin media Panjinasional sebagai sosok yang peduli dengan problem pers dilapangan dan sikap dari pihak pihak yang sering merendahkan kinerja insan pers sangat menyesalkan atas sikap seorang pimpinan forum resmi tersebut, “Kalau memang ruangan terbatas, mestinya dalam undangan disebut secara tertulis bahwa undangan untuk perwakilan wartawan saja, kalau tibatiba dibatasi itu nama tidak elok namanya” ujar Gatot.

Masih Gatot sebagai sosok pendiri dan ketua Majelis Pers memberikan apresiasi terhadap wartawan yang saat diundang hadir tepat waktu jam 16.00 dan kenyataannya acara Forum Rembuk dimulai menjelang maghrib.
“Yaa saya berharap pihak pejabat bisa disiplin dan tepat waktu dong, seperti kawan kawan wartawan yang selalu tepat waktu, meskipun akhirnya jadwal acara molor ehh kemudian dibatasi” katanya..@tim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here