Ayah Biadab Aniaya Anak Tiri Hingga Tewas, saat mengikuti sidang putusan hakim

Surabaya – Panjinasional.net
Sidang lanjutan perkara penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain dengan terdakwa Wisnu Cokro Buono, warga Jalan Sidotopo Wetan Mulyo Surabaya kini memasuki babak akhir.

Pria 35 tahun ini duduk dikursi pesakitan lantaran melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap anak tirinya yang masih usia 2 tahun hingga tewas.

Dalam amar putusan yang dibacakan Dewi Iswani selaku ketua Majelis Hakim yang menyidangkan perkara ini memutuskan untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama (10) sepuluh tahun penjara.

Atas putusan (vonis) yang dibacakan Majelis Hakim tersebut langsung disambut dengan kata terima oleh terdakwa yang saat itu didampingi oleh tim kuasa hukumnya Fariji.SH, dan Patni Ladirto Palonda.SH dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lacak.

Adapun putusan tersebut dinilai lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Chalida dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak yang sebelumnya menuntut terdakwa selama (15) lima belas tahun penjara. Tuntutan tersebut sangat beralasan karena perbuatan terdakwa Wisnu Cokro Buono dilakukan dalam keadaan sadar.

Dalam kasus ini, Wisnu Cokro Buono telah terbukti melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya yang masih baru berusia 2 tahun hingga meninggal.

Perlu diketahui pada Rabu 20 Juli 2018 kejadian berawal sekitar pukul 16.30 WIB, saat terdakwa tertidur pulas, tidak lama kemudian terdakwa terbangun dikarenakan anak tirinya yang berinisial MR itu menangis. Sementara Nining (ibu kandung korban) saat itu tidak ada dirumah karena sedang menghadiri undangan acara halal bihalal.

Kemudian terdakwa bangun dan berusaha menenangkan tangisan sang anak, namun tangisan sang anak tersebut tak kunjung berhenti akhirnya terdakwa membawanya ke kamar mandi untuk di mandikan dengan harapan agar tangisan anak tirinya itu berhenti.

Tapi, usaha Wisnu untuk menenangkan korban gagal, dari sanalah Wisnu mulai emosi dan gelap mata lantas memukul korban di bagian kepala dan perut hingga korban mengalami sesak nafas dan demam. Selain dianiaya fisik, terdakwa juga sempat memasukan kepala korban kedalam bak air kurang lebih 10 detik.

Setelah Nining (istri) Wisnu pulang dan mendapati anaknya deman tinggi dan sesak nafas, kepada istrinya Wisnu tidak mengakui bahwa keadaan anaknya itu atas ulahnya, kemudian membawa korban ke RSUD dr Soewandi
dari kost-kosan mereka di Jl Kedung Mangu Timur No 130 Surabaya.

Namun sayangnya, sesampainya IGD Rumah Sakit Soewandhi Surabaya, korban telah menghembuskan nafas terakhir dan dinyatakan meninggal dunia, selanjutnya jenazah korban dimakamkan di TPU (tempat pemakaman umum) Wonokusumo Surabaya.

Karena dinilai ada kejanggalan, maka paman korban melaporkan kejadian itu ke Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dari situ maka terungkaplah perkara tersebut kemudian petugaspun segera melakukan penangkapan terhadap terdakwa dan karena perbuatannya meringkuk dibalik jeruji besi (sel) untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.(RM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here