Dr. Oscarius Y.A Wijaya,M.H.,M.M. Ketua STIE IEU Surabaya

Surabaya, (Opini) www.panjinasional.net
Tanggal tersebut jatuh pada hari Sabtu, dimana ratusan massa yang menamakan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP), Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) berkumpul di Jalan Pemuda Surabaya untuk memperingati Kemerdekaan Papua.

Merupakan hal yang sangat disayangkan karena hal ini bukan unjuk rasa biasa tapi menurut penulis hal ini adalah tindakan makar. Makar dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam pasal 106 KUH Pidana disebutkan dengan jelas bahwa “makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian dan wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana sementara paling lama duapuluh tahun”.

Tindakan makar ini harus ditindaklanjuti secara serius oleh seluruh elemen Bangsa Indonesia baik sebagai,Individu,kelompok maupun institusi sesuai dengan perannya masing-masing.

Aksi-aksi untuk memisahkan diri dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan melawan pemerintahan yang sah adalah haram di Republik ini. Ketegasan pemerintah sangat diharapkan karena hal ini menyangkut kewibawaan negara untuk menjaga persatuan dan kesatuan, bilamana hal ini dibiarkan dan tidak ada tindakan tegas maka tidak menutup kemungkinan akan diikuti oleh gerakan-gerakas separatis lainnya.

Kita harus mendukung Polisi untuk mengusut peristiwa ini karena inilah gerakan nyata radikalisme, tidak perlu ragu karena jelas diungkapkan oleh Mahkamah Agung delik makar cukup disyaratkan adanya niat dan perbuatan permulaan pelaksanaan, sehingga dengan terpenuhinya syarat itu terhadap pelaku (makar) telah dapat dilakukan tindakan oleh penegak hukum.

Menurut pendapat penulis, kampus-kampus kita telah “kecolongan” dengan tidak terdeteksinya gerakan-gerakan dini atas kegiatan tersebut. Kampus sebagai sentral dari penempaan generasi muda dalam mencapai kearifan intelektual memiliki peran yang penting guna mengantisipasi gerakan radikalisme yang mengarah pada makar.

Dengan adanya kejadian ini maka hendaknya para pimpinan kampus kembali menegaskan pada para mahasiswanya dari suku dan agama apapun untuk setia pada NKRI, misalnya dengan menandatangani pakta integritas yang didalamnya melarang dengan tegas mahasiswa untuk kembali ke kampus jika mereka terkait/ikut serta dalam kegiatan-kegiatan makar.

Gerakan pada 1 Desember 2018 beda dengan Gerakan reformasi tahun 1998, gerakan mahasiswa di masa itu menuntut adanya reformasi yang semangatnya masih terasa hingga kini, gerakan tersebut merupakan gerakan untuk adanya perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik sedangkan gerakan 1 Desember 2018 itu adalah tidakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Terdengar dengan jelas mereka berteriak sambil bernyanyi “Papua Merdeka,Papua Bukan Merah Putih dan Papua Bintang Kejora” penulis haqqul yaqinini adalah makar.

Penembakan pekerja PT Istaka Karya oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang membangun Jembatan Habema-Mugi di Kabupaten Nduga Papua dapat diparalelkan dengan Makar 1 Desember 2018 di Surabaya.

Dua kejadian tersebut dapat diselidiki lebih lanjut apakah berkorelasi atau hanya sebuah kebetulan saja, patut diduga keduanya berkorelasi karena akan ada pembagian tugas dan berperan dengan porsinya masing-masing ada yang menempuh jalur secara diplomasi, pemberontakan bersenjata atau dengan tekanan-tekanan massa menunjukkan eksistensinya secara konsisten.

Demo-demo mereka di Jakarta, Minahasa, Surabaya hingga Canberra merupakan sinyalemen yang kuat bahwa mereka telah merongrong kewibawaan pemerintah dan ancaman bagi keutuhan NKRI. Kepada seluruh elemen masyarakat sebagai individu, kelompok Ormas, Institusi,media massa dan kampus-kampus penulis mengajak untuk memaksimalkan kewaspadaan atas hal ini.

Penulis yakin bahwa seluruh Bangsa Indonesia sangat mencintai Papua, Pemerintah juga telah mengejar pembangunan di Bumi Cendrawasih. Putra Putri Bumi Pertiwi tidak ingin Papua pisah dari Indonesia. Kita semua mencintai Papua tapi sangat membenci segala jenis upaya Makar.,@***

Penulis : Dr. Oscarius Y.A Wijaya,M.H.,M.M.
Ketua STIE IEU Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here